Bulan Safar, Mitos dan Budaya Banjar

  • 28 Jul 2026 04:56 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Safar merupakan salah satu bulan yang penuh makna bagi sebagian masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Seiring perubahan zaman, tradisi bulan budaya bulan Safar dimaknai sebagai bagian dari identitas budaya. Hal tersebut disampaikan Iberahim, S.H, Iin Al Manshor dan Faisal Embron, dalam Ragam Budaya Suluh Banua di RRI Pro.4 Banjarmasin, Minggu, 26 Juli 2026.

Pecinta budaya Banjar, Iberahim, S.H, mengatakan bahwa masyarakat Banjar memiliki keunikan dalam menyikapi Bulan Safar. Menurutnya, religius dan nilai budaya berjalan berdampingan dan masih dilestarikan hingga kini selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.

"Bukan cuma soal mitos, banyak sial dan lainnya. Tradisi bulan Safar adalah warisan budaya orang bahari, bulan ini sebagai pesan agar lebih hati-hati dalam setiap tindakan,"ujar Iberahim

Sementara itu, Iin Al Manshor mengatakan hingga sekarang masih ada sebagian masyarakat yang mempercayai berbagai pantangan pada Bulan Safar. Diantaranya menghindari memulai pekerjaan besar atau menggelar hajatan. Namun, Iin menilai jika hal tersebut perlu dipahami lebih mendalam sebagai bagian dari sejarah budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

"Sebenarnya bukan larangan, ini adalah anjuran agar lebih waspada. Yang terpenting adalah mengambil nilai baiknya, bukan mempercayai kesialannya," kata Iin Al Manshor

Faisal Embron menyampaikan hal senada terkait budaya Bulan Safar. Menurutnya berbagai tradisi yang dilakukan saat Bulan Safar sejatinya merupakan salah satu media untuk semakin waspada, memperbanyak doa, sekaligus juga mengingatkan masyarakat agar selalu memohon perlindungan kepada Tuhan.

"Bulan Safar dikenal sebagai bulan panas, banyak sial, seperti perkelahian, kecelakaan, kebakaran dan lainnya. Itulah kenapa lalu banyak dilakukan kegiatan tolak bala," ujar Faisal Embron

Faisal mengatakan saat bulan Safar, masyarakat Banjar menggelar sejumlah tradisi. Diantaranya Arba Mustamir dan Batimbang anak bagi sebagian kalangan yang memiliki anak yang lahir di bulan Safar.

"Meskipun ada perbedaan pada pelaksanaannya namun tradisi tersebut masih berkembang sebagai warisan budaya lokal. "Tradisi bulan Safar punya makna sosial dan spiritual," ujarnya

Faisal berharap dengan beragam tradisi bulan Safar, masyarakat Banjar diharapkan mampu menempatkan tradisi sebagai kekayaan budaya yang penuh pesan atau petuah-petuah baik orang bahari. Bulan Safar sekaligus juga menjadi ruang pelestarian budaya dan momentum dalam memperkuat nilai-nilai religius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....