Makna Bakaramat dalam Cara Orang Banjar Menyikapi Musibah
- 30 Sep 2026 12:34 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Konsep bakaramat dalam budaya Banjar adalah cara masyarakat menyikapi keadaan dengan tenang, rasa syukur, dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa.
- H. Anang Syahrani, maestro madihin, mengangkat topik bakaramat dalam Program Ragam Budaya Madihin Syair Bakisah di RRI Pro4 Banjarmasin pada 29 September 2026.
- Kebakaran hutan dan lahan, persoalan air bersih, dan fenomena air asin di Kalimantan Selatan menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat Banjar yang dapat dimaknai melalui konsep bakaramat.
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla), persoalan air bersih, hingga fenomena air asin di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat. Dalam budaya Banjar, berbagai kondisi tersebut dapat dimaknai melalui konsep bakaramat, yakni cara menyikapi keadaan dengan tenang, rasa syukur, dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa.
Hal tersebut disampaikan H. Anang Syahrani dalam Program Ragam Budaya Madihin Syair Bakisah di RRI Pro4 Banjarmasin, Selasa, 29 September 2026. Maestro Madihin itu mengangkat topik Bakaramat untuk menjelaskan sikap masyarakat Banjar dalam menghadapi persoalan kehidupan sekaligus mencari solusi dari kondisi yang dihadapi.
H. Anang Syahrani menjelaskan sikap bakaramat dapat tercermin dari kebiasaan masyarakat Banjar mengucapkan kata “untung” ketika menghadapi suatu persoalan. Ungkapan seperti “untung tidak pahit” saat air terasa asin atau “untung masih ada air” menunjukkan upaya melihat sisi positif dari situasi yang sulit.
“Sebenarnya yang paling penting itu bagaimana kita mempersiapkan diri dan mencari solusi. Jangan sampai kita hanya mengeluh ketika menghadapi persoalan,” ucap Anang Syahrani.
Menurutnya, kedekatan masyarakat dengan alam dan nilai spiritual turut membentuk cara pandang tersebut. Kondisi alam dipahami memiliki siklus sehingga setiap perubahan perlu dihadapi dengan kesiapan dan langkah mitigasi.
“Itulah makna bakaramat, yakni bagaimanapun kondisi yang ada tetap dihadapi dengan tenang,” ujarnya. “Meski ada keluhan, kita tidak serta-merta menyalahkan keadaan sepenuhnya.”
Ia mengatakan konsep bakaramat juga tergambar dalam kisah Palui yang pertama kali menghadapi fenomena air asin dan menganggapnya seperti sebuah keadaan luar biasa. Dalam pemaknaan lain, kata keramat dapat dikaitkan dengan kemuliaan dan kesejahteraan, sedangkan dalam pandangan tasawuf, karamah dimaknai sebagai kemuliaan atau kelebihan yang diberikan Allah Swt.
Selain melalui Bakisah, Anang Syahrani menyampaikan pesan tersebut lewat Basyair dan Madihin tentang berbagai cara manusia menghadapi musibah. Menurutnya, hakikat musibah merupakan sesuatu yang tidak selalu dapat langsung dipahami sehingga hikmahnya perlu dicari dari setiap peristiwa.
Ia menilai kehidupan sebaiknya dijalani sebagai kisah yang terus ditulis dengan sikap positif dan kesadaran untuk bangkit dari setiap keadaan. Cara pandang tersebut dinilai dapat membantu seseorang menerima kenyataan sekaligus tetap berusaha memperbaiki kehidupan.
“Hidup ini cuma sekali, maka teruslah berjuang dengan perasaan senang dan apa pun yang terjadi jangan dianggap sebagai kemunduran,” ujar Anang Syahrani. “Orang yang mampu berdamai dengan dirinya, maka akan damai pula dunianya, baik hubungannya dengan Tuhan, manusia, maupun dirinya sendiri.”
Melalui konsep bakaramat, Anang Syahrani mengajak masyarakat melihat setiap persoalan dengan lebih tenang tanpa mengabaikan upaya mencari jalan keluar. Sikap menerima keadaan, bersyukur, dan tetap berikhtiar dinilai dapat menjadi bagian dari cara masyarakat menghadapi berbagai perubahan dan tantangan kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....