Rahi dalam Budaya Banjar, antara Tradisi dan Ikhtiar Spiritual

  • 28 Jun 2026 11:12 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Dalam kebudayaan masyarakat Banjar, terdapat kepercayaan lokal mengenai sesosok makhluk gaib jahat yang dikenal dengan sebutan Rahi. Makhluk itu dipercaya dapat mengancam keselamatan hingga membinasakan anak balita dalam sebuah keluarga.

Dalam program Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Akademisi UIN Antasari, Drs. H. Arni, M.Fil.I., menjelaskan bahwa rahi dalam budaya Banjar merupakan suatu kesialan atau naas yang menimpa sebuah keluarga. Kesialan tersebut dipercaya dapat terjadi akibat kelalaian pihak keluarga yang tidak melaksanakan tradisi mandi hamil.

"Mandi hamil, atau ada daerah yang menyebutnya mandi baya, artinya mandi untuk membuang bahaya," ujarnya. "Keluarga bisa diganggu rahi karena tidak melaksanakan mandi hamil, atau bisa juga karena sudah mandi hamil tetapi persyaratannya kurang lengkap."

H. Arni juga menjelaskan bahwa ciri-ciri keluarga yang terkena rahi adalah sering bertengkar dan anak atau bayinya sering sakit hingga meninggal bergantian. Selain itu, ada juga kejadian di mana bayi yang meninggal selalu berjenis kelamin sama, misalnya laki-laki semua atau perempuan semua.

Sebagian masyarakat Banjar percaya bahwa kematian bayi secara berturut-turut dalam sebuah keluarga disebabkan oleh gangguan makhluk halus yang disebut hantu rahi. Keluarga yang mengalami nasib buruk ini kemudian dikenal dengan istilah keluarga barahi atau yang sedang diganggu oleh rahi.

H. Arni juga menguraikan bahwa terdapat beberapa jenis rahi yang dikenal di Kalimantan Selatan. Jenis-jenis tersebut meliputi rahi tahuman, rahi kambang, rahi bumi, rahi susu, dan rahi rambut."

Selain itu, mahasiswa UIN Antasari, Muhammad Aldiro Rayhandi, juga membagikan pengalaman pribadinya terkait kepercayaan ini. Keluarganya sendiri mempercayai keberadaan rahi dan selalu berikhtiar melakukan pencegahan setiap kali ada bayi yang baru lahir.

"Di keluarga besar saya, kalau ada bayi baru lahir, pasti di sampingnya ditaruh bawang merah, pisau yang diolesi kapur basah, beras, dan juga surat Yasin," ujar Rayhandi. "Itu bentuk ikhtiar keluarga kami supaya rahi tidak mengganggu bayi."

Mereka menekankan bahwa kepercayaan terhadap rahi ini merupakan bagian dari kekayaan budaya Banjar. Dari sudut pandang Islam, upaya pencegahan tersebut dinilai sah sebagai bentuk ikhtiar dan tawakal, selama tidak mengandung syirik serta tetap meminta pertolongan kepada Allah Swt.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....