Mati Kada Sakubur Jua, Papadah Banjar tentang Tanggung Jawab Pribadi
- 01 Agt 2026 20:58 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Peribahasa Banjar "Mati Kada Sakubur Jua" mengandung pesan mendalam tentang tanggung jawab setiap manusia atas perbuatannya sendiri. Makna tersebut dikupas dalam siaran Ragam Budaya "Bacangkurah" Pro 4 RRI Banjarmasin edisi Jum'at, 31 Juli 2026 bersama budayawan Noorhalis Majid.
Noorhalis menjelaskan, masyarakat Banjar sejak dahulu dikenal sebagai masyarakat komunal yang menjunjung tinggi budaya saling mengingatkan melalui papadah atau nasihat. Tradisi tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari petuah orang tua kepada anak, nasihat ulama kepada umat, hingga peribahasa yang diwariskan secara turun-temurun.
"Orang Banjar itu masyarakat komunal. Karena itu budaya saling menasihati sangat kuat. Papadah, peribahasa, hingga madihin pada dasarnya sama-sama berisi nasihat agar kehidupan bersama tetap berjalan baik," ujar Noorhalis.
Menurutnya, ungkapan "Mati Kada Sakubur Jua" merupakan nasihat pamungkas ketika berbagai upaya mengingatkan seseorang tidak lagi dihiraukan. Peribahasa itu bukan bermakna menyerah, melainkan mengingatkan bahwa setiap orang kelak akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya sendiri di hadapan Allah SWT.
Ia mengatakan, dalam kehidupan bermasyarakat seseorang tetap memiliki kewajiban untuk menasihati sesama. Namun apabila nasihat tidak diterima, tidak perlu terus larut dalam kekecewaan karena tanggung jawab atas pilihan hidup tetap berada pada masing-masing individu.
"Kalau kita sudah menasihati, tetapi orang itu tetap keras kepala, maka jangan sampai kita ikut terbebani terus. Pada akhirnya, setiap orang akan mempertanggungjawabkan amalnya sendiri. Itulah makna mati kada sakubur jua," ucapnya menggaris bawahi poin tersebut sebagai rem dalam hidup.
Ibu Ratu di Jl. Pramuka ikut bergabung melalui telpon mengangkat contoh seseorang yang baru sadar setelah menjalani hukuman penjara. Menanggapi hal itu, Noorhalis menegaskan bahwa penjara hanyalah hukuman di dunia, sedangkan pesan dalam peribahasa tersebut mengarah pada kesadaran yang lebih mendalam, yakni pertanggungjawaban setelah kematian.
"Penjara masih urusan dunia. Orang bisa saja keluar penjara lalu mengulangi kesalahannya. Tetapi mati kada sakubur jua mengingatkan bahwa nasihat paling kuat adalah kesadaran akan kematian dan alam kubur," katanya menjawab ibu Ratu.
Noorhalis juga menekankan bahwa peribahasa tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi orang yang memberi nasihat agar tidak berhenti menjalankan tanggung jawab sosialnya. Guru, orang tua, tokoh masyarakat, maupun siapa pun yang memiliki pengetahuan tetap berkewajiban menyampaikan kebaikan kepada orang lain.
Mengakhiri perbincangan, Noorhalis mengajak masyarakat untuk terus melestarikan nilai-nilai luhur dalam peribahasa Banjar. Menurutnya, budaya saling menasihati dengan cara yang baik merupakan warisan yang tetap relevan di tengah kehidupan modern. Ia berharap setiap nasihat yang disampaikan menjadi ikhtiar memperbaiki sesama, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada tanggung jawab masing-masing di hadapan Sang Pencipta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....