Tahun Baru Islam di Kalsel Sarat Nilai Spiritual dan Budaya

  • 15 Jun 2026 19:14 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kalimantan Selatan memiliki beragam tradisi dalam menyambut Tahun Baru Islam yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat Banjar. Hal tersebut disampaikan oleh Faisal Embron, Iberahim, S.H., dan Achmad Ruzaini, S.Pd dalam acara Ragam Budaya Suluh Banua, Minggu, 14 Juni 2026 di RRI Pro4 Banjarmasin.

Faisal Embron selaku pegiat budaya menjelaskan bahwa tradisi Tahun Baru Islam merupakan bagian dari warisan budaya “urang Banjar” yang diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, Tahun Baru Islam dimaknai sebagai momentum untuk membersihkan diri secara lahir dan batin serta melakukan introspeksi diri.

“Selain untuk introspeksi, sebagian masyarakat juga melakukan pembersihan berbagai benda pusaka,” ujarnya. “Seperti membuat rajah dan berbagai tradisi lainnya yang berkembang di tengah masyarakat.”

Ia menambahkan, tradisi Tahun Baru Islam mengandung banyak pesan spiritual yang mengajak masyarakat untuk memperbaiki diri. Momentum tersebut juga menjadi ajakan untuk meninggalkan kebiasaan yang kurang baik di tahun sebelumnya.

Sementara itu, Iberahim, S.H. menjelaskan bahwa momen Tahun Baru Islam juga diwarnai dengan tradisi Aruh Tahun yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Banjar. Kegiatan tersebut biasanya diisi dengan doa akhir tahun dan awal tahun, zikir, tausiyah, serta shalat hajat berjamaah.

“Ada tetabuhan rebana, iringan shalawat, maupun pawai obor,” ujarnya. “Aruh Tahun menjadi bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar tahun yang baru membawa keberkahan.”

Ia menambahkan bahwa dalam tradisi tersebut juga terdapat muhasabah atau introspeksi diri yang dilakukan di musala atau masjid. Kegiatan ini biasanya dilengkapi dengan zikir, tausiyah, dan salat hajat berjamaah.

Sementara itu, Achmad Ruzaini menambahkan bahwa pada bulan Muharam masyarakat Banjar juga melaksanakan tradisi membuat bubur Asyura yang dimasak pada 10 Muharam. Bubur tersebut dibuat dari campuran sayur, rempah, dan lauk, kemudian dibagikan secara merata kepada warga.

“Bubur Asyura bukan hanya hidangan tradisional,” ujarnya. “Tetapi juga simbol rasa syukur dan semangat berbagi di tengah masyarakat.”

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....