Babulang Tradisi Wanita Banjar setelah Berhaji

  • 31 Mei 2026 09:19 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tradisi babulang pada wanita Banjar pasca menunaikan ibadah haji saat ini hampir punah. Hal ini disampaikan oleh Akademisi UIN Antasari, Dra. Hj. Siti Faridah, M.Ag, dalam siaran Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 29 Mei 2026.

Hj. Siti Faridah menjelaskan bahwa Babulang merupakan tradisi keagamaan masyarakat suku Banjar di Kalimantan Selatan bagi wanita pasca-haji. Dalam tradisi ini, mereka mengenakan penutup kepala berbentuk oval yang dihiasi sulaman dan manik-manik khas Banjar sebagai simbol ibadah.

Saat pulang dari tanah suci, wanita Banjar mengenakan pakaian kebesaran yang anggun, salah satunya ditandai dengan penggunaan bulang di kepala. Menurutnya, atribut ini bukan sekadar pelengkap busana, melainkan simbol prestise dan status sosial yang membuat mereka lebih dihormati karena telah menyempurnakan rukun Islam kelima.

"Kalau bulang ini tetap menjadi ciri khas wanita Banjar setelah berhaji, terutama orang-orang tua," ujar Siti Faridah. "Terutama beberapa daerah di Kalimantan Selatan yang masih memegang tradisi ini seperti di Martapura dan daerah Hulu Sungai."

Aulia menambahkan bahwa tradisi babulang yang dilihat di kampung halamannya dahulu, Kuin, tidak sekadar berfungsi sebagai hiasan penampilan bagi wanita Banjar pasca-haji. Menurutnya, tradisi ini memiliki aspek psikologis, sosial, dan religius karena berkaitan dengan pembentukan identitas diri serta pengakuan sosial di masyarakat.

"Kampung saya di Kuin dan ketika kecil saya pernah melihat ibu-ibu dulu menggunakan bulang ini," kata Aulia. "Dulu karena belum banyak yang berhijab, jadi menggunakan bulang, dan setelah berhijab sudah tidak babulang lagi."

Hj. Siti Faridah menguraikan bahwa terdapat dua jenis bulang haji, yaitu bulang rangkai dan bulang instan. Jenis bulang rangkai umumnya lebih banyak dipilih oleh para hajah yang menginginkan ketepatan ukuran kepala serta memiliki rambut yang cukup panjang untuk menopang hiasan tersebut.

Sementara itu, bulang instan atau yang biasa disebut masyarakat Banjar sebagai bulang jadi adalah jenis penutup kepala yang sudah dirangkai siap pakai. Dengan jenis ini, para hajah dapat langsung mengenakannya tanpa harus menyusun hiasan tersebut di kepala terlebih dahulu.

Kedua narasumber mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya meluruskan niat dalam melaksanakan tradisi ini. Mereka menekankan perlunya kesadaran apakah pemakaian bulang tersebut ditujukan sebagai ibadah karena Allah atau demi mengejar prestise sosial dan penghormatan dari orang lain.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....