Tradisi Budaya Bulan Safar Masyarakat Banjar

  • 27 Jul 2026 12:20 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Menjadi salah satu bagian dari masyarakat Banjar, tradisi bulan Safar masih terus ada di Kalimantan Selatan. Hal tersebut disampaikan oleh Faesal Embron dan Iin Al Mansor dalam acara Ragam Budaya Suluh Banua, Minggu, 26 Juli 2026 di RRI Pro.4

Faisal Embron, pegiat Budaya Banjar mengatakan jika tradisi Bulan Safar merupakan akulturasi budaya yakni perpaduan adat dan nilai-nilai. Sebagian besar masyarakat Banjar masih menjaga dan memegang pesan-pesan leluhur agar lebih berhati-hati selama bulan Safar.

"Ada kepercayaan orang Banjar jika bulan Safar banyak energi-energi negatif dilepaskan, ada yang bilang bulan panas atau bulan api sehingga harus lebih waspada, terus berdoa dan ikhtiar kepada Allah Swt," ujar Faisal Embron

Memiliki karakter yang unik, masyarakat Banjar dinilai mampu secara turun temurun memadukan tradisi budaya dengan nilai-nilai religius. Menurutnya sejak dulu para orang tua berpesan agar lebih waspada di bulan Safar, terlepas dari benar atau tidaknya tentang kepercayaan itu ada hal yang lebih penting yakni hati-hati dan memperbanyak doa.

"Tradisi bulan Safar adalah bagian dari kearifan lokal yang hidup berdampingan dengan ajaran agama. Selama tidak bertentangan dengan akidah, maka hal itu menjadi bagian dari identitas orang Banjar yang harus dijaga," ujarnya

Sementara itu, Iin Al Manshor yang juga pecinta budaya Banjar menilai bahwa pelaksanaan tradisi bulan Safar di Kalimantan Selatan mengikuti perubahan zaman. Menurutnya, kini masyarakat lebih mengutamakan pada kegiatan seperti ritual tolak bala dengan berdoa bersama, zikir, sedekah maupun kegiatan religi lainnya.

"Banyak amaliah dilakukan pada bulan Safar, ada Arba Mustamir, doa tolak bala, hingga tradisi batimbang anak untuk anak yang lahir pada bulan Safar," ujar Iin Al Manshor

Ia menambahkan bahwa pelestarian tradisi Bulan Safar juga perlu disertai pemahaman agama yang benar. Islam tidak mengajarkan keyakinan bahwa bulan Safar membawa sial atau hal buruk lainnya, namun ada nilai yang harus dipertahankan yakni mawas diri, kebersamaan dan semangat berdoa kepada Allah Swt.

"Diantara kearifan lokal bulan Safar ada tradisi batimbang anak, didalamnya ada istilah orangtua jalama. Pada acara pernikahan bukan nikahnya yang dilarang tapi anjuran agar karasmin atau pestanya yang tidak dilakukan selama bulan Safar," ujarnya

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....