Tradisi Selamatan Banjar Lestarikan Nilai Budaya dan Kebersamaan
- 26 Mei 2026 10:13 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tradisi selamatan dalam budaya urang Banjar dinilai bukan sekadar kegiatan berkumpul dan makan bersama, tetapi memiliki makna spiritual, sosial, dan budaya yang mendalam. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 22 Mei 2026, dengan tema “Memahami Makna Upacara Selamatan dalam Budaya Orang Banjar”.
Hadir sebagai narasumber, Drs. H. Basrian, M.Fil.I., menjelaskan bahwa selamatan merupakan manifestasi budaya masyarakat Banjar yang sarat nilai religius dan kebersamaan. Menurutnya, tradisi ini berisi doa, pembacaan Surah Yasin, tahlil, serta berbagi makanan sebagai wujud syukur kepada Allah Swt.
“Selamatan bukan hanya tradisi makan bersama, tetapi juga bentuk rasa syukur dan doa kepada Tuhan,” ujarnya. “Di dalamnya ada nilai ibadah, silaturahmi, dan sedekah.”
Ia menambahkan bahwa selamatan merupakan bentuk akulturasi antara nilai Islam dan budaya lokal Banjar yang telah berlangsung turun-temurun. Tradisi ini hadir dalam berbagai fase kehidupan masyarakat, mulai dari kehamilan, aqiqah, batamat Al-Qur’an, hingga haul dan syukuran hajat.
Selain nilai keagamaan, selamatan juga memiliki fungsi sosial yang kuat dalam mempererat hubungan antarwarga. Melalui kegiatan berkumpul dan berbagi makanan, semangat gotong royong di masyarakat semakin terjaga.
Sementara itu, Elma Rahmawati menilai tradisi selamatan masih sangat relevan di era modern sebagai identitas budaya masyarakat Banjar yang religius. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga warisan budaya tersebut.
“Anak muda harus ikut menjaga budaya Banjar agar tidak hilang,” ujarnya. “Selamatan mengajarkan kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....