Menghidupkan Kembali Budaya Bakisah Banjar di Era Digital

  • 08 Apr 2026 20:44 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Universitas PGRI Kalimantan kembali bersiaran di Pandiran Baisukan pada Senin, 6 April 2026 usai libur Lebaran. Siaran ini menghadirkan Novia Winda, M.Pd., atau ibu Novi sebagai narasumber yang juga merupakan kordinator kampus untuk program tersebut.

Didampingi host Kyan, pembahasan kali ini mengangkat topik “Budaya Bakisah Urang Banjar”. Dalam pengantarnya, Kyan menyampaikan bahwa siaran ini menjadi momentum menghidupkan kembali tradisi lisan khas Banjar yang sarat nilai edukasi dan hiburan.

Pada pemaparannya, Novi menjelaskan bahwa bakisah merupakan bagian penting dari tutur lisan budaya Banjar yang sejak dulu diwariskan secara turun-temurun. “Bakisah itu tidak hanya soal benar atau salah ceritanya, tetapi bagaimana cerita itu mampu menarik dan memberi makna,” ujarnya.

Novi mencontohkan berbagai kisah yang berkembang di masyarakat, seperti kisah Pilanduk, Buaya, hingga cerita “Kucing Handak Jadi Raja” yang bersifat imajinatif namun mengandung pesan moral. Menurutnya, konsep ini dikenal sebagai entertainment education, terutama efektif untuk anak-anak.

Lebih lanjut, ia menyoroti perubahan budaya berkisah di era digital saat ini. Jika dahulu anak-anak sering berkumpul mendengarkan kisah dari orang tua atau nini-nini, kini kebiasaan tersebut mulai tergeser oleh penggunaan gadget.

“Dulu kita bisa duduk berjam-jam mendengarkan kisah, bahkan sampai menghafal lagu atau cerita yang disampaikan. Sekarang, perhatian anak-anak lebih cepat teralihkan,” ujar ibu Novi. Meski demikian, ia menilai era digital juga membawa sisi positif dalam penyebaran cerita yang lebih luas dan cepat.

Dalam diskusi tersebut juga dibahas bahwa bakisah tidak hanya berupa cerita hiburan, tetapi juga mencakup legenda asal-usul daerah hingga ungkapan-ungkapan yang berkembang di masyarakat. Hal ini menjadi bagian dari sastra lisan yang mengandung nilai sejarah dan kearifan lokal.

Penegasan kembali di akhir siaran, bahwa pelestarian budaya bakisah terus dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti lomba yang diselenggarakan oleh RRI maupun Balai Bahasa melalui Festival Tunas Bahasa Ibu. Upaya ini dinilai penting agar generasi muda tetap mengenal dan menggunakan bahasa Banjar secara baik dan benar. Bakisah perlu terus dijaga agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman. “Bakisah adalah identitas kita, bukan sekadar cerita, tapi juga cara kita memahami kehidupan,” ucapnya menutup siaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....