Tradisi "Batumbang Apam" Tetap Dijaga Masyarakat Banjar
- 30 Mar 2026 10:19 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Tradisi Batumbang Apam tetap dijaga masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan sebagai bentuk ungkapan syukur dan doa bagi anak. Prosesi ini dilakukan dengan menyiapkan kue apam yang disusun sesuai tinggi anak dan disertai doa.
Hal itu disampaikan oleh Faisal Embron, Iin Al Mansor, dan Ibrahim, S.H dalam acara Ragam Budaya Suluh Banua, Minggu, 29 Maret 2026 di RRI Pro4 Banjarmasin. Tradisi Batumbang Apam biasanya digelar sebagai ungkapan syukur sekaligus doa bagi anak.
“Sebuah tradisi selamatan dengan kue apam yang dikukus atau disumap,” ujar Faisal. “Apam itu kemudian disusun sesuai tinggi anak yang diselamati, jangan sampai lebih rendah dari ukuran si anak. Kalau lebih justru baik, kurang jangan. Lalu ada doa dan shalawat yang menyertai.”
Prosesi Batumbang Apam biasanya dilakukan di masjid, dimulai dari keluarga menyiapkan dan menyusun kue apam dalam jumlah tertentu sebagai bagian dari ritual simbolis. Menurut Iin Al Mansor, tradisi ini bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi juga bentuk syukur orang tua kepada Allah Swt atas kehadiran sang anak.
“Dalam ajaran Islam diwajibkan menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat,” ujarnya. “Makna tradisi ini agar anak tumbuh menjadi pribadi sholeh, sehat, dan bermanfaat bagi masyarakat.”
Dalam tradisi Batumbang Apam, kue apam ditusuk menggunakan batang bambu atau pelepah daun kelapa hingga tingginya sesuai ukuran tubuh anak, kemudian anak digendong dan dinaikkan ke atas mimbar khatib sebagai bagian dari prosesi simbolis. Hal ini menegaskan makna doa dan harapan orang tua bagi keselamatan, kesehatan, dan keberkahan anak.
“Tradisi ini diawali sejak anak usia dini, dari tempat yang baik yaitu masjid,” ucap Iin.
Ibrahim menekankan, Batumbang Apam bukan sekadar seremonial, tetapi sarat dengan nilai kebersamaan dan doa. Biasanya tradisi ini dilakukan saat Idulfitri, Idul Adha, atau pada hari biasa sebagai bentuk pelunasan nazar setelah mendapatkan kesehatan atau terkabulnya doa.
“Ini upaya penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus sarana menanamkan nilai budaya dan religi kepada generasi muda agar tidak melupakan akar tradisinya,” ujarnya.
Selain menjadi simbol harapan orang tua agar anak diberikan keselamatan, kesehatan, dan keberkahan, tradisi Batumbang Apam juga berfungsi sebagai momentum untuk mempererat hubungan sosial antarwarga. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya sarat makna religius, tetapi juga memperkuat kebersamaan dalam masyarakat Banjar.
“Peran banyak pihak tentu diharapkan, termasuk pemerintah dan budayawan,” kata Ibrahim.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi Batumbang Apam tetap dijaga sebagai bagian dari identitas budaya lokal, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, serta beberapa kabupaten lain di Kalimantan Selatan. Tradisi ini menjadi bukti keberlanjutan warisan leluhur dalam kehidupan masyarakat Banjar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....