Umat Islam Hadapi Tantangan Global, Ini Kunci Solusinya

  • 18 Sep 2026 19:35 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, BANJARMASIN — Era globalisasi telah memicu perubahan fundamental yang mencakup tatanan sosial, budaya, hingga keagamaan. Umat Islam kini tidak lagi berhadapan dengan satu jenis ancaman yang mudah dikenali, melainkan menghadapi multidimensi yang menuntut respons cerdas dan adaptif.

Hal tersebut di bicarakan dalam dialog Kuliah Subuh RRI Pro 1 Banjarmasin yang menghadirkan narasumber Akademisi UIN Antasari, Ustadzah Prof. Dr. Hj. Nuril Huda, M.Pd., pada Jumat 18 September 2026. Perbincangan ini menyoroti sekurang-kurangnya empat persoalan besar umat di era moden yang perlu segera dicarikan solusinya.

Mengatasi Perpecahan dengan Ukhuwah

Persoalan pertama adalah perpecahan, di mana umat hari ini mudah terbelah akibat politik, organisasi, mazhab, kelompok, maupun perdebatan kecil di media sosial.

Perbedaan yang sepatutnya menjadi kekayaan sering kali berubah menjadi sumber permusuhan. Prof. Nuril Huda menjelaskan bahawa Rasulullah SAW dahulu menghadapi situasi serupa ketika menyatukan Suku Aus dan Khazraj serta kaum Muhajirin dan Ansar di Madinah melalui pembinaan ukhuwah.

Merujuk pada surah Ali Imran ayat 103, para tokoh agama dan masyarakat seharusnya membawa umat semakin dekat, bukan sibuk mencari alasan untuk saling menjauh, menyesatkan, atau mengkafirkan.

Melawan Kebodohan dengan Ilmu dan Literasi. Kedua ialah kebodohan. Di era banjir maklumat hari ini, kebodohan tidak bermaksud tidak pernah bersekolah, melainkan terdedah kepada ancaman hoaks, fitnah, dan disinformasi yang beredar pantas menerusi teknologi digital serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Islam memulakan wahyu pertama dengan perintah iqra' (membaca) serta mengajar umat agar melakukan tabayyun (semak silang). Generasi Muslim ditegaskan agar tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, sebaliknya menjadi pembelajar, penyelidik, inovator, dan pengguna teknologi yang beretika demi kemaslahatan manusia.

Membasmi Kelemahan Melalui Pemberdayaan. Ketiga, kelemahan yang berbentuk kemiskinan, ketimpangan, ketergantungan, serta rendahnya daya saing umat. Masyarakat yang lemah secara ekonomi mudah kehilangan daya tawar dan masa depan, meneladani Sunnah Nabi yang menggalakkan etos kerja dan perniagaan jujur,

Prof. Nuril mengingatkan bahawa "tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah". Oleh itu, kelemahan ini harus dijawab dengan pemberdayaan agar umat menjadi produktif, mandiri, serta mampu mengangkat kehidupan sesama.

4. Membentengi Diri dari Kerusakan Akhlak

Kerusakan akhlak, di mana ilmu dan teknologi boleh kehilangan makna tanpa bimbingan akhlak. Arus maklumat tanpa batas membawa budaya asing seperti hedonisme, gaya hidup bebas, konsumerisme, serta krisis identiti yang melalaikan generasi muda.

Transformasi umat memerlukan kesepaduan kerangka kenabian melalui tiga misi utama yang terkandung dalam Surah Ali Imran ayat 164 : Tilawah: Membaca, menghayati, dan menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup.

Tazkiyah: Penyucian jiwa dan pembentukan peribadi yang tawaduk serta peduli.

Ta'lim: Memperdalam pemahaman ilmu agama dan hikmah secara mendalam.

Ketiga-tiga elemen ini perlu berjalan seiring—tidak boleh dipisahkan antara pendidikan agama di rumah, sekolah, maupun pembinaan di masjid.

Sebagai kesimpulan, Prof. Nuril Huda menegaskan bahawa untuk mengatasi berbagai masalah di era globalisasi ini, umat Islam perlu sentiasa berpandukan Al-Qur'an dan Hadis, memperkukuh literasi keagamaan yang moderat, meningkatkan literasi digital yang cerdas, serta memperkasakan peranan institusi keluarga sebagai benteng utama pendidikan karakter.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....