Seni Tradisional Banjar Tetap Bertahan di tengah Modernisasi

  • 01 Apr 2026 15:42 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Seni tradisional Banjar dinilai masih bertahan di tengah arus modernisasi, meskipun menghadapi berbagai tantangan terutama dari perubahan minat generasi muda. Adaptasi dan inovasi menjadi kunci agar kesenian lokal tetap relevan tanpa kehilangan identitasnya.

Hal ini disampaikan oleh sejumlah pelaku seni seperti Guru Aman, Guru Iwan, dan Bang Aan dalam program Pandiran Baisukan RRI Banjarmasin, Selasa, 31 Maret 2026. Ketiganya sepakat bahwa seni tradisional Banjar memiliki kekayaan yang harus terus dijaga dan dikenalkan secara luas.

Guru Aman, ASN Taman Budaya Kalimantan Selatan sekaligus seniman, menjelaskan bahwa setiap seni memiliki karakter musik yang berbeda, termasuk dalam penggunaan babun sebagai musik pengiring. “Setiap seni itu beda-beda, seperti kuntau dan wayang, pola pukulan babunnya tidak sama,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa musik dalam pertunjukan tradisional berperan sebagai pengiring utama gerak, sehingga diperlukan kepekaan dari pemain musik. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi salah satu ciri profesionalitas dalam kesenian tradisional Banjar.

Sementara itu, Guru Iwan sebagai pelatih kuntau menyebutkan minat generasi muda terhadap seni bela diri tradisional tersebut masih cukup tinggi. “Alhamdulillah, anak-anak sekarang banyak yang tertarik, apalagi setelah melihat di media sosial seperti YouTube dan TikTok,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi justru membantu memperkenalkan kuntau kepada masyarakat luas. Bahkan, dokumentasi latihan dan pertunjukan yang diunggah secara digital mampu menarik minat peserta baru.

Di sisi lain, Bang Aan sebagai pengrajin wayang Banjar yang berasal dari Barikin menuturkan bahwa ketertarikannya terhadap seni tersebut berawal dari lingkungan keluarga dan pergaulan. “Awalnya coba-coba, tapi karena melihat teman-teman kurang yang melanjutkan, jadi saya tertarik untuk melestarikan,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa proses pembuatan wayang membutuhkan ketelitian tinggi serta pemahaman terhadap karakter tokoh. Selain itu, bahan yang digunakan seperti kulit kambing atau sapi turut mempengaruhi hasil akhir wayang.

Guru Aman menegaskan bahwa inovasi tetap diperlukan dalam pengembangan seni tradisional, namun tidak boleh menghilangkan nilai kearifan lokal. “Silakan berinovasi, tapi ciri khas budaya Banjar harus tetap dipertahankan,” tegasnya.

Ia menyimpulkan bahwa kolaborasi antara seniman, masyarakat, dan media sangat penting untuk memastikan seni tradisional Banjar tetap hidup dan berkembang di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....