Alumni ITB Berdampak, Berdayakan Desa Menjadi Destinasi Dunia
- 05 Apr 2026 14:50 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Bagi Shana Fatina, pembangunan di wilayah 3T tidak dimulai dari mimpi besar tentang destinasi wisata, tetapi dari kebutuhan paling mendasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat. Melalui upaya menghadirkan akses air bersih di Labuan Bajo, Founder dan CEO Komodo Water yang juga alumni Teknik Industri ITB 2004 itu menunjukkan bahwa persoalan dasar dapat menjadi pintu masuk bagi perubahan sosial, ekonomi, dan pariwisata yang lebih berkelanjutan.
Gagasan tersebut ia bagikan dalam Studium Generale ITB bertema “Dari Desa ke Destinasi Dunia: Pemberdayaan Masyarakat dalam Ekosistem Pariwisata”. Itu digelar di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha pada beberapa waktu lalu.
Shana yang menjabat President Director Labuan Bajo Flores Tourism Authority 2019-2024, mengatakan, di Labuan Bajo, yang dikenal sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo dan destinasi wisata kelas dunia. Itu masih ada warga yang harus menempuh hingga enam jam demi mendapatkan air bersih. Bahkan, lebih dari 25 persen penghasilan bulanan masyarakat dapat habis hanya untuk membeli air.
Menurut Shana, persoalan air bukan semata soal kebutuhan rumah tangga. Ketika akses air bersih lebih mudah, masyarakat dapat memiliki lebih banyak waktu dan membuka peluang ekonomi baru, dari sektor perikanan hingga pertanian.
“Ketika akses air menjadi lebih mudah, masyarakat memiliki waktu lebih untuk aktivitas ekonomi. Nelayan kini bisa memproduksi es batu sendiri tanpa harus ke Labuan Bajo, dan sektor pertanian seperti kopi di Flores juga dapat berkembang lebih optimal,” ujarnya, Minggu 5 April 2026.
“Air bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga fondasi untuk budaya, ekonomi, dan pariwisata—water for culture, water for economy, and water for tourism,” ungkapnya. Ia mengajak mahasiswa untuk melihat perubahan paradigma dalam pengembangan pariwisata. Bila sebelumnya banyak destinasi dibangun dengan orientasi sea, sun, and sand, kini pendekatannya perlu bergeser menuju spiritualitas, ketenangan, dan keberlanjutan (spirituality, serenity, & sustainability). Baginya, pariwisata yang kuat bukan hanya tentang keindahan alam, tetapi juga membangun kehidupan masyarakat yang lebih layak dan berkelanjutan.
Ia juga mengatakan bahwa kehidupan di kota memberikan banyak privilege, bukan hanya soal materi, tetapi juga akses terhadap pendidikan, pengetahuan, jejaring, informasi, dan berbagai peluang lainnya. Kesadaran atas hal tersebut penting agar generasi muda tidak datang ke desa dengan cara pandang merasa paling tahu, tetapi menjadi dasar untuk lebih peka, belajar, dan memahami kebutuhan nyata masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....