Olahraga dari Tiga Sudut Pandang: Bisnis, Etika, dan Kebijakan
- 27 Apr 2026 12:44 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Melihat olahraga,khususnya bola basket tidak bisa hanya dari satu sisi. Saya melihatnya dari tiga kacamata sekaligus: sebagai pengusaha, sebagai pelaku olahraga, dan sebagai bagian dari ekosistem yang bersinggungan langsung dengan pengambil kebijakan. Tiga sudut pandang ini memberi gambaran utuh bahwa olahraga bukan sekadar kompetisi, melainkan sebuah sistem yang harus dikelola dengan serius.
Dari perspektif pengusaha, olahraga adalah industri. Ia memiliki value chain yang jelas: pembinaan, kompetisi, hiburan, hingga komersialisasi.
Dalam konteks ini, profesionalisme menjadi kunci. Klub harus dikelola layaknya entitas bisnis,memiliki perencanaan, tata kelola keuangan yang sehat, serta kemampuan membangun brand. Bola basket, misalnya, tidak hanya soal menang dan kalah, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang menarik bagi sponsor, penonton, dan investor. Tanpa pendekatan ini, olahraga akan sulit berkembang dan terus bergantung pada bantuan eksternal.
Namun olahraga tidak boleh kehilangan ruh utamanya. Dari sudut pandang sportivitas dan tata kelola organisasi, olahraga harus dijalankan dengan integritas. Pengurus bukan sekadar jabatan administratif, tetapi amanah untuk menjaga fair play. Kompetisi harus bersih dari kepentingan sempit, manipulasi, atau konflik kepentingan. Sportivitas bukan hanya milik atlet di lapangan, tetapi juga harus menjadi prinsip utama para pengelola di belakang layar.
Ketika integritas dijaga, kepercayaan publik akan tumbuh, dan di situlah fondasi olahraga yang kuat terbentuk.
Di sisi lain, sebagai pelaku olahraga yang juga memahami proses pengambilan kebijakan, saya melihat pentingnya sinergi antara induk organisasi olahraga dan pemerintah daerah. Realitanya, hingga saat ini, sebagian besar pendanaan olahraga masih bersumber dari APBD. Maka kolaborasi bukan pilihan, melainkan keharusan. Pengurus harus mampu menyelaraskan program dengan visi pembangunan daerah, sementara pemerintah juga perlu melihat olahraga sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar pengeluaran.
Sinergi ini harus berbasis pada transparansi, akuntabilitas, dan tujuan bersama: prestasi dan kesejahteraan masyarakat.
Jawa Barat memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain: kekuatan demografis. Dengan jumlah penduduk sekitar 50 juta jiwa,terbesar di Indonesia,potensi talenta olahraga sangat melimpah. Ini adalah modal besar untuk menciptakan dominasi di berbagai cabang olahraga, termasuk bola basket.
Namun potensi tanpa sistem yang baik hanya akan menjadi angka statistik. Dibutuhkan pembinaan berjenjang, kompetisi yang konsisten, serta manajemen yang profesional untuk mengubah potensi menjadi prestasi nyata.
Pada akhirnya, olahraga harus ditempatkan sebagai barometer kebanggaan daerah. Ketika olahraga menjadi kebutuhan masyarakat, dampaknya jauh melampaui prestasi. Aktivitas olahraga mampu menekan berbagai persoalan sosial dari kenakalan remaja hingga gaya hidup tidak sehat. Ia membangun disiplin, solidaritas, dan rasa memiliki terhadap daerah. Inilah mengapa olahraga tidak boleh dipandang sebelah mata.
Olahraga yang dikelola dengan baik akan melahirkan prestasi. Prestasi akan melahirkan kebanggaan. Dan kebanggaan itulah yang pada akhirnya memperkuat identitas suatu daerah. Jawa Barat memiliki semua syarat untuk itu tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan benar.
Penulis: Epriyanto Kasmuri.
(Ketua Perbasi Jawa Barat dan Pengusaha).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....