Ketika Gagasan ”Kiri” Menjadi Gaya untuk Terlihat Kritis

  • 11 Agt 2026 16:16 WIB
  •  Bandung

RRI CO.ID, Bandung - Tan Malaka di kaus, kutipan Wiji Thukul di media sosial, dan istilah seperti “kapitalisme”, “dialektika”, hingga “perlawanan” dalam percakapan mahasiswa. Simbol-simbol yang diasosiasikan dengan “Kiri” kini tidak hanya hadir sebagai gagasan, tetapi juga sebagai bagian dari estetika dan identitas anak muda. Lalu, ketika menjadi “kritis” juga bisa ditampilkan sebagai gaya, apakah kita sedang menghidupi perlawanan atau sekadar terlihat seperti sedang melakukannya?

Untuk membicarakan hal tersebut, kita perlu berhenti sebentar pada istilah “Kiri”. Istilah kiri dan kanan dalam politik berawal dari Revolusi Prancis 1789, ketika kelompok yang mendukung perubahan politik dan pembatasan kekuasaan monarki duduk di sebelah kiri pimpinan sidang, sementara pendukung tatanan lama berada di sebelah kanan. Seiring perkembangannya, Kiri digunakan untuk merujuk pada beragam tradisi politik yang mendorong kesetaraan dan perubahan terhadap tatanan sosial yang ada. Karena itu, menyamakan Kiri begitu saja dengan komunisme justru menyederhanakan sejarahnya.

Di Indonesia, gagasan-gagasan yang kemudian diasosiasikan dengan Kiri memiliki jejak panjang dalam sejarah pergerakan. Anti-kolonialisme, sosialisme, perjuangan kelas, dan pembebasan rakyat pernah menjadi bagian dari perdebatan politik sebelum dan sesudah kemerdekaan. Namun, sejarah Indonesia juga membuat istilah Kiri membawa beban yang berbeda. Setelah 1965, gerakan dan simbol yang diasosiasikan dengan komunisme mengalami represi berat pada masa Orde Baru. Karena itu, ketika istilah Kiri muncul kembali dalam kultur mahasiswa hari ini, ia tidak datang sebagai istilah yang kosong. Di dalamnya ada sejarah, stigma, sekaligus gagasan tentang perlawanan yang panjang.



Tan Malaka dan Wiji Thukul memperlihatkan bahwa gagasan tersebut pernah memiliki hubungan yang sangat dekat dengan realitas sosial. Melalui Madilog, Tan Malaka berusaha membangun cara berpikir materialistis, dialektis, dan logis sebagai upaya melawan cara berpikir yang mistis dan pasrah. Sementara itu, Wiji Thukul menggunakan puisi untuk menyuarakan pengalaman rakyat kecil dan kritik terhadap kekuasaan Orde Baru. Karya mereka tidak lahir dari kebutuhan untuk sekadar terlihat kritis. Ada persoalan konkret yang menjadi tempat gagasan itu berpijak.

Persoalan mulai muncul ketika gagasan semacam itu berpindah ke ruang konsumsi. Kutipan menjadi desain kaus, wajah tokoh menjadi poster, dan buku pemikiran kritis menjadi bagian dari estetika ruang maupun identitas personal. Di sinilah komodifikasi menjadi menarik: kapitalisme ternyata tidak selalu harus membungkam kritik terhadap dirinya. Kritik pun dapat diserap, dikemas, lalu dijual kembali sebagai barang konsumsi. Perlawanan yang semula merupakan sesuatu yang dilakukan dapat berubah menjadi sesuatu yang dibeli, dikenakan, dan dipertontonkan.

Tetapi pasar hanya menyediakan bentuknya. Persoalan yang lebih jauh muncul ketika bentuk tersebut kemudian dipakai untuk membangun identitas. Seseorang bisa saja mengenakan simbol perlawanan karena memang tertarik pada gagasan di baliknya. Namun, bagaimana jika simbol tersebut mulai dianggap cukup untuk membuat seseorang merasa dirinya sudah “kritis”? Di titik ini, persoalannya tidak lagi hanya tentang komoditas, tetapi tentang bagaimana seseorang memahami dirinya sendiri.

Di sinilah pemikiran Jean-Paul Sartre memberi jalan masuk yang lebih tajam. Dalam eksistensialismenya, manusia tidak lahir dengan identitas yang sudah selesai. Manusia membentuk dirinya melalui pilihan dan tindakan yang dijalaninya. Dengan demikian, menjadi “kritis” bukan status yang selesai setelah seseorang membaca buku tertentu, menguasai istilah tertentu, atau menggunakan simbol tertentu. Identitas tersebut terus dibentuk melalui apa yang dipikirkan, dipilih, dan dilakukan seseorang.

Gagasan engagement Sartre mempertegas persoalan itu. Kebebasan tidak berdiri tanpa tanggung jawab, dan gagasan memperoleh bobot ketika seseorang bersedia mengambil posisi terhadap dunia yang ia hadapi. Membaca Madilog, mengutip Thukul, atau mengenakan simbol perlawanan tentu dapat menjadi pintu masuk menuju keterlibatan. Tetapi simbol itu sendiri tidak membuktikan bahwa keterlibatan sudah terjadi. Mengetahui bahwa ketidakadilan ada berbeda dengan bersedia berhadapan dengannya.

Masalahnya menjadi lebih rumit ketika simbol justru mengambil alih posisi tindakan. Seseorang dapat membangun citra sebagai mahasiswa kritis melalui buku yang dibaca, istilah yang digunakan, pakaian yang dikenakan, atau unggahan yang dibuat. Lama-kelamaan, citra tersebut dapat terasa seperti identitas yang sudah selesai, meskipun proses memahami persoalan dan mengambil posisi terhadap realitas sosial belum tentu mengikutinya. Di sinilah ada jarak antara terlihat kritis dan menjalani kekritisan.

Sartre menyebut salah satu bentuk pelarian dari tanggung jawab semacam ini sebagai mauvaise foi atau bad faith. Ia menggambarkannya melalui figur pelayan kafe yang terlalu larut memainkan perannya sebagai pelayan, seolah-olah dirinya sepenuhnya identik dengan peran tersebut. Ia bukan hanya sedang menjalankan pekerjaan, tetapi seperti sedang meyakinkan dirinya bahwa dirinya memang tidak lebih dari peran itu. Ada ironi ketika contoh Sartre tentang pelayan kafe dibawa kembali ke kafe tempat identitas mahasiswa kritis dapat dipertontonkan.

Analogi tersebut bukan berarti setiap mahasiswa yang membaca Tan Malaka atau memakai kaus bergambar tokoh pergerakan sedang berada dalam bad faith. Yang menjadi persoalan adalah ketika label “kritis” berubah menjadi semacam kostum identitas. Seseorang tidak lagi sekadar menggunakan simbol untuk mengekspresikan gagasan, tetapi mulai mengandalkan simbol tersebut untuk meyakini dan menunjukkan siapa dirinya. Peran sebagai “orang kritis” akhirnya dapat menjadi lebih penting daripada tuntutan untuk terus berpikir dan bertindak secara kritis. Di titik ini, komodifikasi dan bad faith bertemu.

Pasar menyediakan bentuk-bentuk perlawanan yang mudah dikonsumsi, sementara individu dapat menggunakannya sebagai identitas yang mudah dikenali. Sesuatu yang membutuhkan proses panjang membaca, memahami, mempertanyakan, mengambil posisi, dan terlibat berisiko digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana: terlihat seperti orang yang sudah melakukan semua itu. Perlawanan akhirnya tidak hanya menjadi sesuatu yang dilakukan, tetapi juga sesuatu yang dipertontonkan.

Namun, simbol tetap bisa menjadi awal. Membaca Madilog, mengenakan kaus tokoh pergerakan, atau mengunggah puisi Thukul tidak otomatis membuat seseorang dangkal atau pura-pura. Justru simbol dapat menjadi pintu masuk menuju ketertarikan yang lebih serius. Masalahnya muncul ketika pintu masuk itu dianggap sebagai tujuan. Madilog seharusnya tidak berhenti sebagai penanda bahwa seseorang intelektual; ia dapat menjadi latihan untuk membongkar cara berpikir sendiri. Puisi Wiji Thukul pun tidak harus berhenti sebagai kutipan yang terdengar revolusioner; ia dapat menjadi alasan untuk melihat kembali ketidakadilan di sekitar.

Maka, pertanyaan yang lebih layak diajukan kepada mahasiswa yang merasa dirinya kritis bukanlah seberapa banyak buku Kiri yang sudah dibaca atau seberapa cocok estetika perlawanan yang dipakai untuk sebuah unggahan. Pertanyaannya jauh lebih sederhana, sekaligus lebih menuntut: setelah semua yang kita baca dan kita klaim, apa yang benar-benar kita lakukan?

Penulis : Alicha Hayfa Charesa, Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....