Cahaya yang Tak Butuh Mata: Sebuah Simfoni Jemari dan Suara

  • 26 Mei 2026 10:08 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Dahulu, di bawah naungan langit yang sunyi dari warna, Al-Qur’an adalah sebuah perjuangan taktil bagi mereka yang menatap dunia tanpa mata. Jemari mereka menari lembut di atas bukit-bukit kecil titik Braille, di mana setiap ayat menjelma tekstur dan setiap surat menjadi pengembaraan rabaan yang melelahkan namun penuh rindu. Di ujung jemari itulah hati mereka bergetar, membuktikan bahwa untuk melihat cahaya kebenaran, seseorang tak selalu membutuhkan pantulan cahaya di retina. Jika mereka yang harus mengeja setiap titik dengan peluh sanggup mengkhatamkan rindu, lantas apa alasan kita yang memiliki mata namun sering kali membiarkan lembaran wahyu itu berdebu dalam bisu?

Namun perjalanan spiritual penyandang disabilitas netra untuk mengakses kitab suci sejatinya bukan semata kisah personal tentang ketekunan iman. Ia juga merupakan bagian dari hak dasar warga negara yang dijamin oleh negara. Dalam Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, khususnya Pasal 14, ditegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak keagamaan, termasuk memperoleh kitab suci dan layanan keagamaan yang mudah diakses. Negara memiliki kewajiban memastikan bahwa rumah ibadah, literatur keagamaan, hingga sarana pembelajaran spiritual hadir tanpa diskriminasi. Hak untuk dekat dengan Tuhan tidak boleh terhalang oleh keterbatasan fisik ataupun kelalaian sistem sosial.

Kini, zaman telah berganti dan teknologi datang bagaikan sayap-sayap cahaya yang meringankan beban. Al-Qur’an tak lagi berat dalam puluhan jilid besar yang memenuhi ruang; ia telah bertransformasi menjadi Al-Qur’an digital yang praktis, mengalir melalui Braille digital dan suara yang membisikkan kalam Ilahi langsung ke relung pendengaran. Lewat berbagai inovasi teknologi, akhirnya tembok-tembok penghalang itu runtuh seketika. Mereka kini mampu membedah tafsir sedalam samudera dan mendekap hafalan secepat hembusan angin. Transformasi ini bukan sekadar soal efisiensi, melainkan sebuah kemerdekaan ruhani; sebuah lentera yang menyala di saku mereka, mengusir gelap yang sempat membelenggu.

Semangat inklusi itu juga semakin diperkuat melalui berbagai kebijakan daerah. Hadirnya Peraturan Daerah Di Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penghormatan, Perlindungan, dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas menjadi penegasan bahwa aksesibilitas bukan sekadar wacana, melainkan mandat yang harus diwujudkan secara nyata. Regulasi daerah tersebut menekankan pentingnya penyediaan fasilitas aksesibel dalam pendidikan, layanan publik, hingga kehidupan keagamaan. Ini berarti inovasi seperti Al-Qur’an digital berbasis suara maupun Braille elektronik bukan lagi dianggap sebagai fasilitas tambahan, melainkan bagian dari hak yang harus dijamin keberadaannya.

Dampak dari revolusi ini menjadi sentilan hebat bagi nurani kita yang sering terlelap. Kita menyaksikan para penjaga kalam yang tak butuh menatap mushaf, namun ayat-ayat itu terukir lebih kuat dalam ingatan mereka dibanding kita yang sering kali hanya menjadikannya pajangan di rak buku. Digitalisasi telah memberikan mereka kemandirian yang utuh, sehingga mereka tak lagi perlu “meminjam” mata orang lain untuk memahami makna. Dalam kesunyian yang paling intim, mereka berdialog langsung dengan Sang Pencipta, menjadikan keterbatasan fisik sebagai altar pengabdian yang paling tulus.

Pada akhirnya, perjalanan Al-Qur’an dari Braille menuju digital mengajarkan satu hakikat fundamental: bahwa kebutaan yang sesungguhnya bukanlah hilangnya penglihatan, melainkan padamnya keinginan untuk mencari petunjuk. Teknologi telah menghamparkan karpet merah bagi mereka yang fisiknya terbatas untuk pulang menuju-Nya. Negara telah menghadirkan payung hukum, masyarakat mulai bergerak, dan teknologi terus berkembang. Pertanyaannya kini sederhana: apakah hati kita ikut bergerak?

Maka, bagi yang dianugerahi kesempurnaan indra, transformasi ini adalah sebuah undangan untuk malu. Malu jika akses yang semakin mudah tak membuat kita semakin dekat, dan malu jika mata yang sehat ini justru lebih sering terpaku pada kefanaan dunia dibanding menatap jalan pulang. Sebab, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an, sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi hati yang berada di dalam dada.Dan mungkin, justru mereka yang berjalan dalam gelaplah yang lebih dahulu menemukan cahaya.

Penulis: Suhendar (Aktivis Disabilitas Pegiat Sosial)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....