PINISI: saat Kredit Perlu Berlayar Lebih Jauh
- 20 Mei 2026 11:40 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Dalam sejarah penjelajahan maritim, banyak sejarawan menunjuk pelaut Bugis-Makassar sebagai pelaut paling tangguh di Nusantara. Mereka terkenal sebagai nahkoda dan awak kapal yang piawai mengarungi samudra dan membaca angin musim, meski hanya mengandalkan navigasi tradisional, mereka tetap mampu membangun jalur perdagangan dari Australia hingga ke Afrika.
Bersama kapal Pinisi yang melegenda dan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, mereka menandai kejayaan maritim Nusantara hingga kerap dijuluki sebagai “Viking dari Timur”. Namun kekuatan utama pelaut Bugis-Makassar sesungguhnya bukan hanya pada kokohnya kapal, kehebatan nahkoda, atau keberanian melintasi samudra, melainkan pada kemampuan membaca arah angin, menyatukan tujuan awak kapal, dan koordinasi antar lini untuk menjaga ritme pelayaran agar tetap bergerak menuju pelabuhan yang dituju.
Ekonomi juga bergerak dengan prinsip yang serupa. Likuiditas perbankan bisa tersedia, begitu pula dengan proyek prioritas telah siap ditawarkan.
Akan tetapi, tanpa penguatan sinergi dan koordinasi, pembiayaan belum mampu mencapai titik optimalnya. Di sinilah PINISI (Percepatan Intermediasi Indonesia) menjadi relevan sebagai upaya sinergi untuk menjembatani intermediasi yang optimal, dengan tetap menjaga stabilitas perekonomian.
Ruang Penguatan Kredit
Di tengah situasi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Perkembangan kredit perbankan secara umum bergerak positif. Hingga Maret 2026, pertumbuhannya mencapai 9,49% (yoy) atau 0,89% (ytd) dengan rasio NPL tetap terjaga rendah sekitar 2,14%.
Dana pihak ketiga juga tumbuh positif mencapai 13,55% (yoy), dan kondisi kecukupan aset likuid terhadap dana masyarakat masih memadai dan lebih baik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan fondasi likuiditas yang kuat.
Kendati tumbuh dan bergerak sehat, pembiayaan perekonomian masih membutuhkan dorongan yang lebih kuat untuk berlayar lebih jauh. Untuk itu, potensi ruang penguatan kredit perlu dioptimalkan.
Potensi tersebut tercermin dari sisi permintaan, dimana terdapat indikasi perbaikan dari konsumen maupun produsen. Indeks keyakinan konsumen tercatat 122,9 poin pada Maret 2026, lebih optimis dibandingkan Maret tahun sebelumnya 121,1 poin.
Sinyal yang sama juga tercatat dalam indeks keyakinan bisnis, yang mencapai 10,11 poin di triwulan I-2026 atau lebih tinggi dari triwulan I-2025 yang mencapai 7,63 poin. Ibarat kapal layar yang mulai meninggalkan pelabuhan, dunia usaha perlahan bergerak maju meski layarnya masih menunggu angin akselerasi yang lebih kuat untuk mempercepat lajunya.
Di sisi lain, kapasitas pembiayaan perbankan juga masih cukup besar. Hal ini tercermin dari fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.527,46 triliun atau 22,59% dari total plafon kredit pada Maret 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang penyaluran kredit sebenarnya masih tersedia.
Sejalan dengan itu, transmisi penurunan suku bunga kebijakan ke suku bunga perbankan juga terus berlangsung, sehingga preferensi perbankan untuk menyalurkan kredit tetap terjaga. Dengan kombinasi likuiditas yang memadai, optimisme pelaku ekonomi yang mulai membaik, serta ruang pembiayaan yang masih luas, prospek pertumbuhan kredit pada 2026 diperkirakan tetap berada dalam rentang yang positif, yakni sekitar 8–12%.
Namun demikian, potensi tersebut tetap membutuhkan penguatan sinergi agar likuiditas yang tersedia tidak hanya terjaga di sistem keuangan, tetapi juga mampu mengalir lebih efektif ke sektor-sektor produktif yang menopang pertumbuhan ekonomi.
Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI)
Dalam konteks itulah, PINISI menjadi relevan. Ia hadir sebagai upaya memperkuat komunikasi dan koordinasi kebijakan makroprudensial agar intermediasi dapat bergerak lebih sehat, inklusif, dan produktif. Tujuannya bukan sekadar memperbesar angka kredit, melainkan memastikan likuiditas yang tersedia dapat mengalir lebih efektif ke sektor-sektor yang memiliki daya ungkit tinggi bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Pendekatan yang dibangun melalui PINISI juga tidak lagi bertumpu pada satu sumber pembiayaan semata. Perbankan tetap penting, tetapi kebutuhan pembangunan hari ini memerlukan orkestrasi yang lebih luas. Pasar modal, investor, lembaga penjamin, hingga sovereign wealth fund seperti Danantara perlu bergerak dalam satu irama.
Sejalan dengan itu, fokus yang dibangun tidak hanya menyangkut pembiayaan, tetapi juga bagaimana mengurai hambatan proyek prioritas, memperkuat project preparation, mendorong lahirnya skema pembiayaan yang lebih inovatif, serta membangun ekosistem pembiayaan yang semakin terintegrasi.
Melalui pendekatan tersebut, proyek strategis tidak berhenti sebagai rencana di atas kertas, melainkan dapat bergerak lebih cepat menuju realisasi yang memberikan dampak nyata bagi perekonomian. Benang merah yang perlu dicermati bersama adalah bahwa penguatan intermediasi sesungguhnya bukan hanya perkara likuiditas atau besarnya plafon kredit.
Ia juga menyangkut kemampuan menjaga keyakinan agar perekonomian tetap bergerak di tengah ketidakpastian global. Dengan demikian, likuiditas akan jauh lebih berarti ketika mampu diterjemahkan menjadi kredit ke sektor produktif, proyek strategis, investasi yang terealisasi, serta aktivitas ekonomi yang menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah.
Untuk itu, ada satu pesan yang terus hidup lintas generasi dalam tradisi pelaut Bugis-Makassar,“Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”. Kalimat ini sebagai refleksi tentang keberanian menjaga arah meski ombak tidak selalu tenang.
Semangat itulah yang ingin dibangun melalui PINISI sehingga kebijakan, pembiayaan, dan dunia usaha mampu bergerak dalam arah yang sama. Menopang intermediasi agar dapat menjadi layar yang membawa ekonomi Indonesia melaju lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih berdaya tahan.
Penulis : Adhy Ramawan Putra
(Bank Indonesia dan Alumnus Postgraduate The Ohio State University)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....