Antara Kartini, Malala, dan Claudia Goldin: Semangat Pencerahan untuk Perempuan
- 30 Apr 2026 09:52 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Tasikmalaya - Hari Kartini acap kali diperingati dengan kebaya dan seremoni. Namun di balik perayaan itu, terdapat kenyataan pelik yang belum selesai.
Banyak perempuan tetap berhadapan dengan tembok budaya, dan kesempatan ekonomi yang tidak selalu terbuka sama lebar. Persoalan tersebut tidak pernah semata-mata soal identitas, bahkan menyangkut soal peradaban sekaligus pembangunan.
Malala Yousafzai dalam novel memoarnya “I Am Malala” menyematkan pesan bahwa perempuan masih belum memperoleh ruang yang adil, bahkan untuk mendapatkan hak pendidikan. Realitas tersebut kerap lahir bukan karena perempuan kurang mampu, melainkan karena batasan budaya yang menempatkan perempuan di pinggir panggung.
Jauh sebelum Malala, Kartini turut menghadapi situasi yang sama. Melalui surat-suratnya, ia tidak hanya mengeluhkan nasib perempuan yang hidup dalam batas-batas tradisi, tetapi juga menggugat cara berpikir yang membuat ketimpangan terasa seolah wajar. Kala itu, pemikiran Kartini menerobos zamannya karena ia memahami satu hal yang sangat mendasar, yakni pendidikan sebagai jalan pencerahan.
Pendidikan bukan sekadar alat untuk menjadi pandai, tetapi jalan untuk merdeka dan berperan lebih untuk kehidupan, bahkan untuk perekonomian.
Dalam realitasnya, data Indeks Kesenjangan Gender Global 2025 menunjukkan bahwa belum ada satu pun perekonomian yang berhasil mencapai kesetaraan gender secara penuh.
Kesenjangan gender secara global hanya menyempit sebesar +0,4 poin persentase, dari 68,4% (2024) menjadi 68,8% (2025). World Economic Forum bahkan memprediksi bahwa dunia masih memerlukan 123 tahun untuk mencapai kesetaraan gender secara penuh. Jalan terjal yang masih panjang, lalu membuka diskursus baru.
| Baca juga: Gen Z Makin Kreatif Cari Cuan Tambahan |
Percakapan yang pernah dibuka Kartini dan Malala lantas menemukan gema akademiknya dalam diri Claudia Goldin, ekonom Harvard yang meraih Nobel Ekonomi 2023. Bila Kartini dan Malala menulis dari pengalaman hidup dan kegelisahan zamannya, Goldin membaca persoalan yang serupa melalui data dan sejarah panjang pasar kerja.
Penghargaan Nobel diberikan karena Goldin memperdalam pemahaman kita tentang hasil pasar kerja yang dihadapi perempuan. Pemikiran Goldin penting karena ia menunjukkan bahwa posisi perempuan di pasar kerja tidak ditentukan oleh satu sebab tunggal.
Ia dibentuk oleh perubahan struktur ekonomi, norma sosial, akses pendidikan, kemampuan merencanakan masa depan, dan beban pengasuhan yang tidak selalu terbagi secara adil. Goldin menunjukkan partisipasi kerja perempuan bergerak mengikuti perubahan struktur ekonomi dan norma keluarga.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan, ekspektasi karier, dan kendali perempuan atas perencanaan hidup.
Lebih lanjut, dalam analisisnya terhadap negara berpendapatan tinggi, ditemukan bahwa adanya kesenjangan pendapatan antara laki-laki dan perempuan yang membesar setelah anak pertama lahir.
Kondisi ini terjadi dalam pasar kerja modern yang cenderung memberi imbalan lebih besar kepada pekerja yang mampu menjaga kariernya terus-menerus tanpa jeda. Kondisi yang cukup berbeda jika berbicara peranan perempuan dalam skala negara berkembang.
Dalam konteks pasar kerja Indonesia, jumlah pekerja perempuan masih lebih rendah dari pada laki-laki, dimana perempuan lebih besar berada pada sektor informal. Terdapat ±54.5 juta pekerja informal perempuan di Indonesia yang secara pangsa menyentuh angka yang cukup dominan sekitar 66%.
| Baca juga: Dari Overthinking ke Self Healing |
Studi Microsave (2024) cukup mampu memberikan jawaban, mengapa banyak perempuan Indonesia di sektor informal. Fleksibilitas kerja dan kemudahan baik pasar informal untuk masuk maupun keluar pekerjaan menjadi alasan utamanya. Cukup beralasan mengingat adanya tugas domestik lain yang ditanggung oleh perempuan.
Digitalisasi dan Penguatan UMKM
Pelajaran itu sangat relevan bagi Indonesia, utamanya dalam upaya penguatan ekonomi. Kerangka kebijakan pengembangan perekonomian perlu mendukung penuh perempuan dan UMKM dalam inklusi keuangan serta perluasan akses pembiayaan.
Sejarah juga memberi contoh penting melalui Grameen Bank di Bangladesh dengan Muhammad Yunus sebagai pionirnya. Ia memulai dari gagasan yang sederhana bahwa orang miskin yang utamanya perempuan, bukan tidak layak dipercaya tetapi terlalu lama tidak diberi akses. Dari pinjaman mikro tanpa agunan Grameen Bank, lahirlah kesempatan bagi jutaan perempuan untuk memulai usaha, memperoleh penghasilan, dan menegosiasikan martabatnya di ruang sosial maupun rumah tangga.
Grameen Bank dan inklusi keuangan menegaskan bahwa akses pembiayaan dapat menjadi kekuatan pembebas bagi perempuan dalam melawan tekanan sosial dan ekonomi yang mengekang. Di sisi lain, kita perlu mencermati perkembangan digitalisasi beberapa tahun terakhir, terlihat jelas bahwa perubahan teknologi tidak hanya mengubah cara masyrakat bertransaksi, tetapi melahirkan peluang-peluang ekonomi baru.
Digitalisasi juga membuka banyak sektor baru yang dapat dimanfaatkan perempuan untuk berkembang. Peluang tersebut menjadi semakin besar ketika literasi digital masyarakat berada dalam tren membaik.
Kondisi tersebut ditopang oleh ekspansinya penggunaan internet yang saat ini mencapai 221 juta pengguna dan meluasnya infrastruktur penunjang teknologi informasi, tercermin dari keterjangkauan sinyal 4G/LTE mencapai 97% di seluruh pemukiman Indonesia (Komdigi, 2025). Hal ini membuka jalan bagi lahirnya wirausaha digital perempuan, termasuk dari kalangan usaha UMKM yang sering terkendala modal besar, lokasi usaha, dan akses jaringan pasar untuk penjualan.
Disinilah semangat Kartini menemukan relevansi barunya di era digital. Jika pada masa Kartini melihat pendidikan sebagai jalan pembebasan, maka pada zaman ini pintu pembebasan makin terbuka lebar. Penguasaan teknologi dipandang sebagai bentuk baru dari pencerahan itu.
Dalam konteks tersebut, UMKM dan QRIS menjadi salah satu simpul penting penguatan perempuan. Perempuan Indonesia yang kini dominan sebagai pelaku utama usaha UMKM, baik itu dibidang kuliner, fesyen, kerajinan, perdagangan, maupun jasa, akhirnya dapat merasakan manfaat perkembangan teknologi pembayaran.
Manfaat tersebut sekaligus menjembatani perempuan untuk masuk ke dalam ekosistem dengan tata kelola manajemen usaha yang lebih baik. Pada titik inilah QRIS dapat dilihat sebagai ruang terbuka menuju kebebasan ekonomi dan sosial yang lebih luas bagi perempuan.
Dari ekosistem QRIS, perempuan yang menjalankan usaha mampu membangun rekam jejak transaksi, memiliki akun perbankan yang lebih aktif, dan membangun relasi yang lebih erat dengan sistem keuangan formal, dari sini tercipta modalitas baru untuk mengakses pembiayaan. Akseptasi pembayaran digital yang terus meningkat, seiring momentum percepatan digitalisasi sistem pembayaran, sesungguhnya ikut menghidupkan kembali semangat pencerahan perempuan.
Dalam konteks itu, gagasan besar yang diwariskan dari Kartini, Malala, hingga Claudia Goldin menyimpan pesan yang sama kuat bahwa kemajuan perempuan selalu bertumpu pada terbukanya akses, pengetahuan, dan kesempatan. Jika pada masa lalu pencerahan hadir melalui pendidikan, maka pada era kini ia juga hadir melalui teknologi dan inklusi keuangan, yang memberi perempuan ruang lebih luas untuk tumbuh, mandiri, dan mengambil peran yang lebih besar dalam kehidupan ekonomi.
Penulis: Adhy Ramawan Putra (Bank Indonesia Tasikmalaya dan Alumni Postgraduate The Ohio State University)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....