Menjaga Netralitas Olahraga dari Intervensi Kekuasaan Berlebih
- 27 Apr 2026 10:52 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Olahraga pada hakikatnya harus berdiri independen tanpa intervensi dari pihak manapun. Namun demikian, seluruh elemen tetap memiliki kewajiban untuk memberikan dukungan demi kemajuan prestasi.
Prinsip ini menjadi penting di tengah dinamika pengelolaan olahraga yang kerap bersinggungan dengan kepentingan kekuasaan. Ketika intervensi mulai masuk, arah pembinaan berpotensi bergeser dari tujuan utama, yakni prestasi.
Konsep politik olahraga sejatinya tidak dimaknai sebagai alat tekanan atau dominasi kekuasaan. Politik olahraga lebih tepat dipahami sebagai strategi dalam merancang sistem pelatihan dan pertandingan yang efektif.
Pendekatan ini menempatkan prestasi sebagai tujuan utama, bukan kepentingan kelompok tertentu. Dengan demikian, setiap kebijakan harus berpijak pada kebutuhan atlet dan pembinaan jangka panjang.
Sinergi antara pengurus cabang olahraga dan pemerintah tetap diperlukan dalam konteks pembangunan olahraga. Namun, sinergi tersebut bukan berarti membuka ruang intervensi yang berlebihan.
Kolaborasi yang dibangun harus berlandaskan pada pembagian peran yang jelas. Pemerintah menjalankan fungsi dukungan kebijakan dan anggaran, sementara pengurus fokus pada teknis pembinaan.
Sejumlah praktisi olahraga menilai bahwa batasan ini kerap kali menjadi kabur di lapangan. konsep pentahelix dinilai menjadi solusi dalam memperkuat ekosistem olahraga. Keterlibatan akademisi, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, dan media menjadi kunci dalam menciptakan keseimbangan.
Pendekatan pentahelix memungkinkan setiap unsur berkontribusi sesuai kapasitasnya. Hal ini dinilai mampu mengurangi dominasi satu pihak yang berpotensi mengarah pada intervensi.
Dalam praktiknya, dukungan tidak selalu harus berbentuk kebijakan formal. Peran masyarakat dan sektor swasta juga sangat penting dalam menciptakan iklim kompetisi yang sehat.
Jika prinsip independensi ini dapat dijaga, maka pembinaan atlet akan berjalan lebih objektif. Atlet pun memiliki ruang berkembang tanpa tekanan non-teknis yang dapat mengganggu performa.
Ke depan, komitmen menjaga olahraga tetap netral dari intervensi harus menjadi kesadaran kolektif. Dengan dukungan semua pihak, prestasi olahraga nasional diyakini dapat meningkat secara berkelanjutan.
Penulis: Rahyang Mandalajati Evi Silviadi Sanggabuana. ( Ketua Harian PB Muaythai Indonesia)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....