Sambangi ITB, Ratu Tisha Bahas Sepak Bola, Pembinaan hingga Kaitannya dengan Sains
- 16 Sep 2026 22:02 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Wakil Ketua Umum PSSI II sekaligus pendiri GGN Sports, Ratu Tisha Destria menjadi pembicara dalam kuliah umum Studium Generale di Aula Barat ITB, Rabu 16 September 2026. Dalam kegiatan itu, ia membagikan perspektif dan pengalamannya di dunia sepak bola termasuk dari kacamata sains.
Ratu Tisha yang merupakan alumni Program Studi Matematika ITB angkatan 2004 pada kesempatan itu membagikan perjalanan kariernya di dunia olahraga khususnya sepak bola. Ketertarikannya terhadap sepak bola mulai berkembang sejak dirinya mencari unit kegiatan mahasiswa sepak bola ketika pertama kali berkuliah di ITB.
Menurut Tisha, penguasaan terhadap suatu bidang tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki visi dan mulai membangun kompetensi sejak sekarang.
“Kalau ingin memulainya, mulailah sekarang. Hasilnya mungkin baru akan kita rasakan 20 tahun kemudian,” ujar Tisha di depan sekitar 1.500 mahasiswa yang hadir, Rabu 16 September 2026
Ia juga menjelaskan bagaimana ilmu matematika dapat digunakan dalam proses pengembangan talenta sepak bola. Salah satunya diterapkan saat proses seleksi pemain Papua Football Academy (PFA).
Dari sekitar 2.500 anak yang mengikuti proses identifikasi di 22 titik di Papua, hanya 20 pemain yang kemudian terpilih. Tisha mengatakan, proses tersebut tidak bisa hanya mengandalkan perhitungan linear berdasarkan kemampuan fisik dan teknik.
“Pendekatan yang dilakukan tidak boleh linear karena sepak bola itu kompleks,” katanya.
Menurutnya, sepak bola tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berlari, kekuatan fisik, maupun lompatan. Kemampuan pemain dalam mengambil keputusan secara tepat dan cepat juga menjadi bagian penting dalam permainan.
Dalam proses pembinaan, berbagai variabel kemampuan pemain kemudian dipetakan menggunakan pendekatan matematika. Bagi Tisha, pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa ilmu yang dipelajari mahasiswa dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan di dunia nyata.
“Ini adalah olahraga adu ketepatan dan kecepatan pengambilan keputusan. Walaupun ilmu tersebut terasa abstrak di awal, percayalah itu akan dipakai dalam aplikasi dunia nyata,” katanya.
Selain pembinaan pemain, Tisha menilai perkembangan sepak bola juga membutuhkan ekosistem kompetisi yang berkelanjutan. Ia mencontohkannya melalui Uni League yang dikembangkan untuk mendorong kembali aktivitas sepak bola di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam 98 pertandingan yang melibatkan 427 mahasiswa, prinsip optimasi dan matematika diskrit diterapkan, salah satunya dalam pengaturan penugasan wasit agar penggunaan anggaran tetap efisien. Tisha juga menginisiasi National Conference Football and Science (NCFS), sebuah wadah untuk mempertemukan kajian dan riset mengenai sepak bola dengan pendekatan sains, teknologi, dan manajemen.
Tisha juga menceritakan salah satu keputusan penting dalam perjalanan kariernya, yakni meninggalkan pekerjaannya di perusahaan multinasional Schlumberger untuk melanjutkan pendidikan melalui program FIFA Master. Ia mengatakan, keputusan dalam perjalanan karier tidak hanya perlu mempertimbangkan pencapaian pribadi, tetapi juga bagaimana ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga menilai Indonesia perlu memperluas basis pembinaan pemain usia dini. Dengan semakin banyaknya pemain yang dibina secara berjenjang dan konsisten, proses pencarian talenta dapat dilakukan dalam ekosistem yang lebih luas.
Di akhir kuliah umum, Tisha kembali mengingatkan mahasiswa agar bertanggung jawab terhadap bidang yang telah dipilih dan tidak berhenti ketika menghadapi tantangan. “Ketika kita menekuni sesuatu, kita bertanggung jawab untuk itu,” kata Tisha.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....