Campus League Badminton Regional Bandung Lahirkan Juara Individu

  • 16 Sep 2026 21:27 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID.Bandung - Campus League Badminton Regional Bandung 2026 berlangsung di GOR Bandung, Jalan Jakarta, Jawa Barat, sejak Selasa 15 hingga Jumat 18 September. Turnamen ini mempertemukan student-athlete dari 23 kampus di Bandung Raya dan sejumlah kota lainnya, termasuk Jakarta, Depok, Bogor, dan Bekasi.

Para peserta beradu kemampuan serta strategi dalam kompetisi yang menghadirkan enam nomor pertandingan individu, yakni tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, ganda campuran, dan 3v3. Selain menjadi ajang persaingan, turnamen ini juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan pengalaman bertanding.

Head of Competition Campus League, Dave Leopold, mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya atas sambutan masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya terhadap penyelenggaraan turnamen tersebut. Menurutnya, antusiasme penonton menjadi salah satu hal yang memberikan warna tersendiri bagi Campus League Badminton Regional Bandung.

Salah satu nomor yang menjadi perhatian dalam turnamen ini adalah 3v3. Dave menjelaskan, format tersebut diadaptasi dari pola latihan yang biasa dijalani atlet profesional, sehingga memberikan pengalaman berbeda bagi para student-athlete yang ingin mengasah kemampuan bermain secara beregu.

“Jadi secara jam terbang dan kerja sama tim, 3 versus 3 tak kalah seru. Ke depan Campus League bakal tetap ada nomor ini atau enggak? Pasti ada. Selama 30 tahun ke depan, format kompetisi badminton Campus League akan seperti ini, tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, ganda campuran, 3v3,” ujar Dave.

Ia menambahkan, nomor 3v3 juga diharapkan dapat menjadi wadah bagi mahasiswa yang belum sepenuhnya percaya diri dengan kemampuan individunya, tetapi memiliki keinginan untuk bertanding. Melalui format permainan beregu, para peserta dapat membangun pengalaman, keberanian, dan kerja sama dengan rekan satu tim.

Pada musim perdana ini, Campus League turut mengadopsi sistem skor terbaru yang diperkenalkan Badminton World Federation (BWF). Untuk kategori individu, pertandingan menggunakan format best of three games hingga 15 poin atau 15x3, sedangkan kategori beregu menerapkan sistem skor kumulatif 55 poin sesuai regulasi terbaru yang disosialisasikan.

Dave menjelaskan, penggunaan sistem skor 15 poin telah memperoleh persetujuan dari Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sebagai bagian dari sosialisasi format pertandingan yang dikembangkan BWF. Menurutnya, sistem tersebut membuat pertandingan berlangsung lebih cepat dan dinamis.

“Secara pertandingan lebih cepat, seru, dan menarik. Kami telah bertanya ke sejumlah student-athlete. Mereka mengaku lebih suka poin 15 sebagai pemanasan untuk menjadi atlet profesional,” katanya.

Penerapan format 3v3 terlihat dalam pertandingan antara tim STKIP Pasundan Cimahi yang diperkuat Agnia Sri Rahayu, Rangga Arda Rheta, dan Deandra Ikhsan Gunawan melawan tim Universitas Gunadarma yang menurunkan Alya Zafira, Muhammad Irsya Mubarok, dan Ardha Tanu Widarma. Tim STKIP Pasundan Cimahi memenangkan laga dengan skor 15-10, 15-5.

Rangga mengatakan, tantangan utama dalam pertandingan 3v3 terletak pada komunikasi antarpemain. Perbedaan pemikiran setiap anggota tim membuat koordinasi menjadi hal penting, terutama ketika pertandingan berlangsung dalam tempo cepat. Karena itu, diperlukan satu pemain yang mampu mengambil peran sebagai pemimpin di lapangan.

Agnia membenarkan pernyataan tersebut. Ia menyebut babak pertama menjadi fase yang cukup sulit karena timnya harus membaca pola permainan lawan. “Di babak awal, kami membaca peta kekuatan lawan. Kami mengincar yang lemah, pastinya. Sementara kami bertiga harus lebih pintar menutupi kelemahan satu sama lain,” ucapnya.

Rangga menambahkan, tim Universitas Gunadarma memiliki kekuatan pada permainan yang cepat dan solid. Namun, ia menilai ada karakter permainan tertentu yang menjadi tantangan bagi lawannya. “Kami melihat Tim Gunadarma kuat. Cuma ada teknik permainan kami yang mereka mungkin kurang suka. Misalnya, main satu-satu atau individual,” ujarnya.

Pada nomor tunggal putri, Maria Veronica Ngadien Prawesti dari Universitas Padjadjaran berhasil mengalahkan Alya Zafira dari Universitas Gunadarma melalui dua gim langsung dengan skor 15-9 dan 15-12. Maria yang berstatus unggulan kedua mengakui, gim kedua berlangsung lebih ketat karena lawan mampu memberikan tekanan melalui kejar-kejaran angka.

“Babak kedua lebih struggling karena serangan saya banyak mati sendiri. Tegang juga sehingga kejar-kejaran skor dengan Alya Zafira terasa lebih ketat,” kata Maria dalam sesi jumpa pers. Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan Campus League Badminton sebagai wadah bagi student-athlete untuk menunjukkan bakat dan kemampuan mereka.

Sementara itu, pada nomor tunggal putra, Nopriansyah Adi Gunawan dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Bekasi, menunjukkan performa konsisten. Ia mengalahkan unggulan keempat Triyugo Frediqke Sunandar Hidayat dari Universitas Trisakti Jakarta dengan skor 15-12, 15-9 pada semifinal, kemudian menundukkan unggulan ketiga Muhammad Bagus Suyarto dari Universitas Budi Luhur Jakarta di final dengan skor 15-12, 16-14.

Di nomor ganda putra, pasangan Gilang Pramunantio/Miftah Ilman Khatami dari Universitas Trisakti Jakarta harus mengakui keunggulan Fajar Putra Setiawan/Ridho Ma’sum Firdaus dari Universitas Komputer Indonesia dengan skor 10-15, 15-17. Pada ganda putri, Alya Ardelia/Shofi Aprilia Argyanti dari Universitas Budi Luhur Jakarta mengalahkan Shafa Alya Ramadhani/Aura Zalfa Syafiya dengan skor 15-13, 15-10. Sementara itu, ganda campuran Muhammad Halim As Sidiq/Citra Murdiningrum Surono dari Universitas Negeri Jakarta menundukkan Khaddhaffy Allrhenandhy/Alya Ardelia dari Universitas Budi Luhur Jakarta dengan skor 15-13, 15-10.

Setelah kategori individu yang berlangsung pada 15 dan 16 September rampung, Campus League Badminton Regional Bandung berlanjut ke kategori beregu pada 17 dan 18 September. Dave menilai penggunaan sistem skor kumulatif 55 poin akan menghadirkan persaingan yang menarik karena kemenangan pada gim awal belum menjamin sebuah tim unggul hingga pertandingan berakhir.

“Ini lebih menarik karena menang di set pertama dan kedua, tidak menjamin sebuah tim bisa unggul sampai akhir. Itu tergantung strategi pelatih dalam menempatkan pemain penentu. Kami juga ingin para pemain, perangkat pertandingan, dan yang terlibat turnamen ini lebih familier. Makin terbiasa tentu akan makin baik,” ujar Dave.

Campus League Badminton Regional Bandung diikuti student-athlete dari berbagai perguruan tinggi. Bandung diwakili ITB, Politeknik Negeri Bandung, STIE STAN Indonesia Mandiri, Telkom University, Universitas Jenderal Achmad Yani, Universitas Komputer Indonesia, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Widyatama, dan Universitas Katolik Parahyangan. Sementara Jakarta diwakili Budi Luhur University, Institut Kesehatan Hermina, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Bhayangkara, Universitas Bina Nusantara, Universitas Esa Unggul, Universitas Pertamina, dan Universitas Trisakti. Peserta lainnya berasal dari Universitas Gunadarma Depok, Universitas Ibn Khaldun Bogor, President University Bekasi, serta STKIP Pasundan Cimahi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....