Hari Kedua, Kombes Pol Tri Suhartanto Memilih Berdiri di Tengah Arus Bandung

  • 01 Okt 2026 03:51 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Soreang - Pagi di Katapang belum sepenuhnya lepas dari dingin ketika kendaraan mulai memenuhi ruas jalan. Di antara deru mesin dan gerak pengendara, Komisaris Besar Polisi Tri Suhartanto berdiri bersama personelnya, mengurai lalu lintas pada hari kedua ia menjabat sebagai Kapolresta Bandung, Rabu 30 September 2026.

Seragam dinas itu kali ini tidak berada di balik meja kerja. Tri turun langsung, memperhatikan kendaraan, memberi arahan, lalu memastikan arus bergerak agar warga dapat memulai aktivitas tanpa tersandera kepadatan.

TURUN KE LAPANGAN

Bagi pengguna jalan, kehadiran seorang pejabat kepolisian di tengah lalu lintas pagi bukan sekadar pemandangan. Ada pesan sederhana di sana, bahwa persoalan jalan tidak selalu cukup dibaca melalui laporan atau angka kepadatan.

Komisaris Besar Polisi Tri Suhartanto memilih melihatnya dari jarak dekat. Ia bersama personel membantu mengurai arus kendaraan sekaligus memastikan perjalanan masyarakat berlangsung aman, tertib, dan lancar.

Langkah itu dilakukan hanya sehari setelah dirinya resmi memasuki jabatan Kapolresta Bandung. Momentum tersebut memperlihatkan pendekatan awal Tri dalam menjalankan tugas, yakni hadir di ruang publik dan membaca persoalan langsung dari tempat peristiwa berlangsung.

“Kita tidak hanya bekerja dari balik meja, tetapi harus melihat langsung situasi di lapangan, mengetahui kebutuhan masyarakat dan memberikan respons yang cepat,” kata Komisaris Besar Polisi Tri Suhartanto.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, dalam pekerjaan kepolisian, kecepatan merespons kerap dimulai dari kemampuan melihat persoalan sebelum persoalan tersebut berkembang menjadi gangguan yang lebih besar.

POLISI HADIR SECARA NYATA

Pagi hari mempertemukan banyak kepentingan di jalan. Pengendara ingin segera sampai tujuan, pekerja mengejar waktu, pelajar bergerak menuju sekolah, sementara petugas harus memastikan semuanya tetap berada dalam jalur keselamatan.

Di titik seperti itulah polisi memiliki peran yang mudah dilihat masyarakat. Gerakan tangan, posisi tubuh, perhatian terhadap kendaraan, hingga komunikasi singkat dengan pengguna jalan menjadi bagian dari pelayanan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari hari.

Komisaris Besar Polisi Tri Suhartanto mengatakan kegiatan tersebut bukan hanya soal mengatur kendaraan. Ia memanfaatkannya sebagai kesempatan menyapa masyarakat, membangun interaksi, serta mengingatkan pengguna jalan agar menaati aturan lalu lintas dan menempatkan keselamatan sebagai prioritas.

“Selain mengatur lalu lintas, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menyapa dan berinteraksi langsung dengan masyarakat serta mengingatkan pengguna jalan agar selalu mematuhi aturan lalu lintas dan mengutamakan keselamatan,” ujar Komisaris Besar Polisi Tri Suhartanto.

Di jalan, pesan itu memiliki konteks yang konkret. Keselamatan bukan slogan di spanduk, melainkan keputusan kecil setiap pengendara ketika membuka gas, berpindah jalur, berhenti, atau memberi ruang kepada kendaraan lain.

KERJA TERUKUR DAN TERARAH

Hari kedua jabatan menjadi semacam pintu pembuka bagi Tri Suhartanto untuk memperlihatkan pola kerja yang ingin dibangun. Ia tidak berhenti pada fungsi administratif, tetapi membawa perhatian kepolisian ke ruang yang setiap hari bersentuhan dengan masyarakat.

Kehadiran tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya pemetaan kondisi lapangan dalam pelayanan publik. Arus kendaraan berubah mengikuti waktu, aktivitas warga bergerak dinamis, dan persoalan lalu lintas membutuhkan respons yang tidak selalu dapat ditangkap dari ruang kerja.

Karena itu, turun langsung memiliki fungsi praktis. Petugas dapat melihat kepadatan, mengenali titik yang membutuhkan pengaturan, berkomunikasi dengan masyarakat, serta mengambil langkah sesuai kondisi yang dihadapi.

Bagi Komisaris Besar Polisi Tri Suhartanto, pekerjaan kepolisian tidak selesai ketika laporan tersusun rapi. Ada kebutuhan untuk memastikan pelayanan benar benar terasa di jalan, tempat masyarakat menjalankan rutinitas hariannya.

Pagi di Katapang akhirnya bergerak seperti biasa. Kendaraan melaju, warga melanjutkan perjalanan.

Sementara sosok pria dengan tiga melati di pundak itu memilih mengawali masa tugasnya dengan berdiri di antara mereka. Dari sana, kepemimpinan kepolisian menemukan bentuk paling sederhana hadir, melihat, mendengar, lalu merespons.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....