Trotoar Gasibu Tidak Cukup Hanya Estetik, Tapi Harus Ramah Disabilitas

  • 29 Sep 2026 21:18 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Trotoar di kawasan Gasibu, Kota Bandung, dinilai belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas. Meski secara visual terlihat baik, sejumlah bagian trotoar disebut masih menyulitkan pengguna disabilitas saat melintas.

‎

‎Koordinator Wilayah KOPEKA Bandung, Muhammad Fadhil, mengatakan persoalan tersebut terlihat ketika pihaknya bersama komunitas disabilitas melakukan kegiatan tamasya trotoar untuk melihat langsung aksesibilitas trotoar di kawasan Gasibu. Menurut Fadhil, persoalan utama tidak hanya terletak pada tampilan trotoar, tetapi juga pada fungsi dan kemudahan akses bagi penyandang disabilitas.

‎

‎“Trotoar mungkin dalam visual mata terlihat bagus, dari segi estetika. Tapi dari segi fungsinya kurang untuk penyandang disabilitas” kata Fadhil. Selasa 29 Septemeber 2026.


‎

‎Ia menyoroti sejumlah aspek teknis, salah satunya keberadaan ramp yang menurutnya harus terhubung dengan permukaan aspal serta memiliki kemiringan yang sesuai agar dapat dilalui pengguna kursi roda maupun penyandang disabilitas lainnya.

‎

‎Fadhil juga menyebut kemiringan pada jalur trotoar perlu memperhatikan aspek keselamatan. Pada bagian yang memiliki kemiringan memanjang, menurutnya, perlu disediakan pegangan untuk membantu penyandang disabilitas ketika melintas.

‎

‎“Ramp itu harus menyatu dengan aspal. Dan kemiringan maksimal dari ramp itu 8 persen atau 4 derajat lebih. Di setiap adanya kemiringan memanjang, itu harus disediakan pegangan untuk rekan-rekan disabilitas” ujarnya.

‎

‎Selain persoalan aksesibilitas, Fadhil mempertanyakan proses pembangunan dan revitalisasi kawasan Gasibu. Ia menilai hal tersebut perlu mendapat perhatian karena kawasan tersebut telah mengalami revitalisasi lebih dari satu kali.

‎

‎Menurutnya, setiap pembangunan yang menggunakan anggaran publik semestinya memperhatikan aspek aksesibilitas sejak tahap perencanaan, bukan hanya mengutamakan tampilan fisik setelah proyek selesai.

‎

‎“Gasibu ini sudah direvitalisasi hingga dua kali. Dan setiap revitalisasi pasti membutuhkan anggaran publik” katanya.

‎

‎Fadhil juga menyoroti keterbukaan informasi terkait proyek pembangunan di kawasan tersebut. Ia mengaku mempertanyakan dokumen perencanaan dan informasi publik mengenai proyek revitalisasi Gasibu.

‎

‎“Untuk dokumen-dokumen perencanaan, keterbukaan informasi publik tentang proyek pembangunan ini, tidak ada sama sekali. Makanya kami menyoroti hal ini, apa sebenarnya yang terjadi di Gasibu ini,” tutur Fadhil.

‎

‎Ia berharap pembangunan fasilitas publik di Kota Bandung ke depan tidak berhenti pada aspek estetika, tetapi benar-benar memperhatikan kebutuhan seluruh pengguna, termasuk penyandang disabilitas.

‎

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....