GPM Bandung Sediakan Hampir 4 Ton Beras, Ayam dan Telur Jadi Komoditas Tambahan
- 17 Sep 2026 11:58 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung kembali menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kecamatan Cibeunying Kidul, Kamis 17 September 2026. Selain beras dan minyak goreng yang selalu menjadi komoditas paling banyak diburu masyarakat, GPM kali ini juga menyediakan daging ayam dan telur.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengatakan beras dan minyak goreng menjadi komoditas yang paling banyak dicari setiap pelaksanaan GPM. Hal itu karena kedua komoditas tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat dengan tingkat konsumsi yang tinggi dan harga yang relatif cepat mengalami perubahan.
“Di gelarnya GPM, selalu yang diburu itu beras dan minyak goreng. Selalu yang banyak dicari. Makanya hari ini kita menyediakan daging ayam dan telur,” ujar Gin Gin, kamis 17 September 2026.
Untuk memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat, DKPP Kota Bandung menambah stok beras hingga hampir empat ton. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan penyediaan pada GPM sebelumnya yang rata-rata sekitar dua ton.
“Makanya kita sekarang menyediakan beras hampir empat ton, yang biasanya hanya dua ton, kita sediakan dua kalinya. Untuk minyak goreng juga ada sekitar 100 dus atau boks,” katanya.
Gin Gin menambahkan, DKPP telah berkoordinasi dengan Perum Bulog terkait ketersediaan komoditas dalam pelaksanaan GPM. Penambahan pasokan dapat dilakukan apabila kebutuhan masyarakat di lapangan meningkat.
“Kita sudah koordinasi dengan Bulog karena barang-barangnya dari Bulog. Kalau nanti ada kebutuhan tambahan dan khusus, kita bisa atur tergantung situasi di lapangan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, pembelian minyak goreng dibatasi maksimal empat liter untuk setiap orang. Sementara pembelian beras masih diperbolehkan tanpa pembatasan selama stok tersedia dan kondisi di lokasi belum terlalu padat.
Namun, apabila jumlah pembeli membludak, DKPP akan memberlakukan pembatasan pembelian beras maksimal dua kantong atau sekitar 10 kilogram per orang.
“Prinsipnya nanti kita lihat situasi. Kalau pembelinya banyak atau membludak, kita batasi maksimal dua bag, 10 kilogram. Tapi sementara kalau kondisinya seperti ini masih kita bebaskan,” katanya.
Gin Gin mengatakan, pembatasan dilakukan untuk memastikan komoditas pangan bersubsidi tersebut benar-benar dimanfaatkan masyarakat dan tidak dibeli dalam jumlah besar untuk kemudian dijual kembali.
“Kalau ada yang membeli agak sedikit banyak, kita akan selalu mempertanyakan ini untuk apa dan sebagainya, termasuk ke teman-teman kewilayahan. Karena yang tahu warganya di sini kan mereka. Jangan sampai barang untuk konsumsi ini malah dijual kembali. Itu yang kita hindari, karena masyarakat yang lain juga masih banyak yang butuh,” jelasnya.
Menurutnya, GPM memang diutamakan bagi masyarakat di wilayah tempat kegiatan digelar. Namun, warga dari wilayah lain tetap diperbolehkan membeli selama persediaan komoditas masih tersedia.
“Memang diutamakan daerah setempat, tapi kita persilakan untuk daerah lain yang berkenan ke sini selama persediaan barangnya masih ada,” katanya.
Ia menyebut antusiasme masyarakat terhadap GPM cukup tinggi. Biasanya, lokasi GPM mulai ramai menjelang siang dan sejumlah komoditas dapat habis sebelum kegiatan berakhir.
“Satu hari. Biasanya jam 11, sebelum jam 12 juga biasanya sudah padat dan habis,” ujarnya.
Selain menyediakan pangan dengan harga lebih terjangkau, Gin Gin mengatakan GPM juga memiliki fungsi edukasi kepada masyarakat. Selisih harga sejumlah komoditas yang dijual dalam GPM dengan harga di pasaran berkisar Rp2.000 hingga Rp3.000.
“Rp2.000 lah rata-rata. Dari sisi harga antara Rp2.000 sampai Rp3.000 bedanya,” katanya.
Namun, menurut Gin Gin, keunggulan GPM tidak hanya terletak pada perbedaan harga. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi dan promosi berbagai program DKPP kepada masyarakat.
Dalam setiap pelaksanaan GPM, DKPP kerap membagikan berbagai jenis bibit secara gratis. Pada kegiatan kali ini, masyarakat mendapatkan bibit ikan dan bibit sayuran.
“Kita berusaha tidak hanya dari sisi harga, tapi dari sisi kualitas. Termasuk yang menarik, di GPM selalu ada sisi edukasi melalui pembagian berbagai bibit gratis. Ada bibit ikan hari ini dibagikan gratis, ada bibit sayuran,” ujarnya.
Selain itu, GPM juga dapat diisi dengan pelayanan kesehatan hewan, sosialisasi kebijakan pangan, hingga penjualan hasil program Buruan Sae. Sejumlah UMKM binaan DKPP turut dilibatkan untuk memasarkan produk mereka.
“Kadang-kadang ada pelayanan kesehatan hewan, termasuk edukasi, promosi, sosialisasi tentang kebijakan pangan dinas. Kemudian ada hasil sebagian dari Buruan Sae juga yang dijual untuk mempertontonkan hasil karya kita,” katanya.
“Bahkan dari beberapa UMKM binaan DKPP juga biasanya terlibat di GPM. Jadi tidak hanya sekadar menjual, itu yang sedikit menarik di GPM,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....