Kisah Mangga Gedong Gincu Sumedang, Berawal dari Buah yang Tak Laku Dijual
- 14 Sep 2026 20:53 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Sumedang - Mangga Gedong Gincu kini menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Sumedang. Namun, di balik popularitasnya, ada cerita menarik mengenai bagaimana sebutan “Gedong Gincu” mulai dikenal di kalangan petani hingga menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Cerita tersebut bermula dari para petani mangga di Kecamatan Jatigede yang sebelumnya hanya mengenal dan menyebut buah tersebut sebagai mangga gedong. Ketua Kelompok Tani Mangga Saluyu, Desa Lebaksiuh, Kecamatan Jatigede, Didi Cardiman (40), mengatakan, dahulu petani lebih memilih memetik mangga dalam kondisi mentah atau setengah matang untuk dijual kepada bandar.
Sementara mangga yang matang langsung di pohon justru tidak dianggap sebagai komoditas bernilai tinggi. “Dulu mangga gedong yang matang di pohon diberikan begitu saja kepada yang lewat saat sedang panen. Kami memilih memetik yang setengah matang untuk dijual kepada para bandar,” ujar Didi, Senin 14 September 2026.
Perubahan mulai terjadi pada awal 2000-an. Saat itu, sejumlah petani mencoba memasarkan mangga gedong yang dibiarkan matang di pohon. Ternyata, mangga tersebut mendapat respons positif dari pasar. Berbeda dengan mangga yang dipetik sebelum matang, buah yang matang secara alami di pohon memiliki semburat warna merah dan kuning yang khas.
Didi menuturkan, warna merah pada kulit mangga matang di pohon kemudian menjadi pembeda utama. Warna tersebut dianggap menyerupai warna merah pada bibir sehingga masyarakat mulai menyebutnya sebagai mangga gedong gincu.
“Mangga gedong yang matang di pohon itu ada warna merahnya seperti gincu, seperti lipstik di bibir wanita. Maka saat itulah muncul istilah mangga gedong gincu,” tutur Didi.
Tidak hanya soal nama, perubahan cara panen tersebut juga memberikan keuntungan lebih besar bagi petani. Harga mangga yang matang di pohon disebut dapat mencapai dua kali lipat dibandingkan mangga yang dipanen mentah atau setengah matang.
“Kalau matang di pohon harganya dua kali lipat. Dari petani ke bandar sekitar Rp20 ribu per kilogram, sedangkan kalau masih mentah atau setengah matang sekitar Rp10 ribu. Setelah masuk pasar, harga mangga Gedong Gincu dapat meningkat menjadi sekitar Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram,” ujarnya.
Seiring meningkatnya permintaan, petani di sentra mangga Jatigede, Tomo, dan Ujungjaya kemudian lebih memilih memanen mangga dalam kondisi matang di pohon. Untuk mendapatkan kualitas Gedong Gincu yang sesuai, tingkat kematangan buah harus mencapai sekitar 85 persen atau lebih. Ciri lainnya adalah munculnya warna merah yang menjadi karakteristik khas buah tersebut.
Gedong Gincu asal Sumedang juga memiliki karakter rasa yang dinilai berbeda dibandingkan produk serupa dari daerah lain. Didi menyebut mangga dari Jatigede dan sejumlah sentra di Sumedang memiliki perpaduan rasa manis dan segar. Sementara mangga dari sejumlah sentra di Indramayu dan Cirebon lebih dominan memiliki rasa manis.
Dari sisi pasokan, sentra mangga di Jatigede, Tomo, dan Ujungjaya memiliki peran besar terhadap peredaran Gedong Gincu di pasar.
Sekitar 70 persen mangga Gedong Gincu yang beredar disebut berasal dari kawasan sentra tersebut. Para bandar dari Indramayu dan Cirebon bahkan datang membeli mangga dari sejumlah wilayah di Jatigede, termasuk Cibeber dan Lebaksiuh.
Di Kecamatan Jatigede saja, lahan yang ditanami mangga Gedong Gincu mencapai hampir 800 hektare. Dengan rata-rata 100 pohon per hektare dan produksi sekitar dua kuintal per pohon, potensi produksi dari kawasan tersebut sangat besar.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengatakan, pemerintah terus melakukan perbaikan infrastruktur menuju kawasan sentra mangga, termasuk wilayah Kaleci yang mencakup Desa Kadu, Lebaksiuh, dan Cintajaya.
Selain perbaikan jalan, pemerintah juga membangun jembatan di Desa Kadu yang menghubungkan kawasan tersebut melintasi Sungai Cilutung menuju Panyingkiran, Kabupaten Majalengka.
“Mulusnya infrastruktur jalan ke sentra mangga itu selain untuk menunjang transportasi dan mengangkut hasil bumi, termasuk mangga, juga supaya wisatawan bisa langsung datang ke sentra mangga Sumedang,” kata Dony.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....