HUT Ke-81, RRI Teguhkan Komitmen Sebagai Media Publik untuk Indonesia Berdaulat

  • 11 Sep 2026 12:34 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 pada Jumat, 11 September 2026. Peringatan tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen RRI terhadap nilai-nilai Tri Prasetya (Triprastya) sebagai landasan dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai media publik.

‎Direktur Utama LPP RRI I Hendrasmo mengatakan, Triprastya menjadi jati diri RRI yang mengajarkan pentingnya melindungi negara melalui siaran, mengarahkan program untuk mendukung pencapaian tujuan negara, serta berdiri di atas berbagai perbedaan dengan mengedepankan persatuan nasional.

‎“Momen ini juga mengingatkan kita untuk terus menjaga empat konsensus bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI,” ujar Hendrasmo dalam sambutannya, jumat 11 September 2026.


‎‎Menurutnya, peringatan HUT ke-81 RRI dilaksanakan secara sederhana dengan mengusung tema “Suara Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

‎‎Tema tersebut, kata Hendrasmo, menegaskan kembali posisi RRI sebagai media publik yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi secara inklusif, memperkuat kontrol sosial, serta menghadirkan informasi yang akurat dan terpercaya.

‎‎“RRI harus menjadi sumber informasi yang akurat dan terpercaya guna mencerdaskan masyarakat demi mewujudkan cita-cita bangsa,” katanya.

‎‎Hendrasmo juga menyampaikan bahwa selama hampir lima tahun masa pengabdian Dewan Pengawas dan Direksi, RRI telah menjalankan berbagai langkah transformasi. Berbagai capaian hingga 2026 menjadi pijakan untuk memperkuat RRI dalam menghadapi tantangan penyiaran di masa depan.

‎‎Salah satu langkah transformasi tersebut adalah pembaruan logo RRI yang menggunakan huruf kecil. Menurut Hendrasmo, penggunaan huruf kecil memiliki pesan filosofis mengenai sikap rendah hati sekaligus perubahan pola pikir dalam menghadapi perkembangan zaman.

‎‎“Bukan audiens yang mendatangi atau mendengarkan RRI, tetapi RRI-lah yang harus hadir dan mendatangi audiensnya,” ujarnya.

‎‎Logo baru tersebut juga menggunakan font digital yang merepresentasikan semangat kemodernan serta kemampuan RRI untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

‎‎“Logo mencerminkan pola pikir dan kesadaran. Oleh karena itu, hal utama yang diperkuat adalah kesadaran kolektif: RRI harus beroperasi secara multiformat,” katanya.

‎‎Ia menegaskan, transformasi penyiaran yang telah dirintis oleh para pendahulu RRI akan terus diperkuat sehingga jangkauan dan dampak informasi kepada masyarakat semakin luas.

‎‎Namun, transformasi tersebut membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

‎‎“Transformasi ini membutuhkan satu syarat mutlak, yakni penguatan kompetensi. Kami membuka ruang seluas-luasnya untuk peningkatan kapasitas SDM atau capacity building,” jelasnya.

‎‎Berbagai pelatihan berkelanjutan pun telah dilakukan, mulai dari penyiaran multiplatform, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), pengembangan ide, pembelajaran mandiri, hingga uji kompetensi bagi wartawan dan penyiar.

‎‎“Selama bertahun-tahun, digelar pelatihan berkelanjutan mulai dari penyiaran multiplatform, pemanfaatan kecerdasan buatan, pengembangan ide, hingga pembelajaran mandiri dan uji kompetensi wartawan serta penyiar,” paparnya.

‎‎Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas LPP RRI Anwar Mujahid Ady Trisnanto mengajak seluruh Angkasawan dan Angkasawati untuk menjadikan peringatan HUT ke-81 sebagai momentum refleksi sekaligus mendoakan keselamatan para jurnalis yang hingga kini belum ditemukan.

‎‎“Hari ini kita merayakan ulang tahun ke-81 lembaga tercinta dan berkumpul dari berbagai penjuru, meskipun sebagian melalui jalur daring. Saya mengajak seluruh Angkasawan dan Angkasawati menundukkan kepala sejenak,” katanya.


‎‎Ia mengajak seluruh keluarga besar RRI memanjatkan doa bagi awak kapal, APK, GAIB, serta lima jurnalis dari sejumlah media yang hingga kini belum ditemukan di wilayah perairan Gunung Anak Krakatau.

‎‎“Mari kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala keselamatan bagi awak kapal, APK, GAIB, serta lima jurnalis yang hingga kini belum ditemukan di wilayah perairan Gunung Anak Krakatau,” ujarnya.

‎‎Menurut Anwar, peristiwa tersebut kembali menunjukkan bahwa profesi jurnalis memiliki tantangan dan risiko yang besar. Meski demikian, pekerjaan jurnalistik merupakan profesi yang mulia karena menjalankan tugas mencari sumber berita, merekam fakta, dan menyampaikan kebenaran kepada masyarakat.

‎‎“Mereka adalah bukti nyata bahwa profesi jurnalis penuh tantangan dan risiko, namun sangat mulia: berjuang mendapatkan sumber berita, merekam kenyataan, dan menyampaikan kebenaran semata kepada masyarakat,” katanya.

‎‎Ia berharap seluruh jurnalis yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan dan kembali berkumpul bersama keluarga.

‎‎“Semoga mereka segera ditemukan dan dapat berkumpul kembali bersama keluarga tercinta. Amin,” ucapnya.

‎‎Selain itu, Anwar juga mengajak seluruh keluarga besar RRI mendoakan masyarakat yang terdampak berbagai bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia.

‎‎“Selanjutnya, mari kita berdoa pula bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana alam di berbagai wilayah, erupsi, gempa bumi, banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran,” tandasnya.

‎‎Ia berharap masyarakat yang terdampak bencana diberikan keselamatan, sementara para korban memperoleh kekuatan dan kehidupan mereka dapat kembali pulih.

‎“Semoga Allah SWT mengurangi penderitaan para korban dan memulihkan kehidupan mereka kembali seperti sediakala. Amin ya Rabbal 'Alamin,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....