Anjing Menggigit Manusia, Dispangtan Cimahi Jelaskan Prosedur Observasi Rabies
- 30 Agt 2026 14:35 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Cimahi - Gigitan anjing tidak hanya berpotensi menyebabkan luka fisik, tetapi juga harus diwaspadai karena dapat berkaitan dengan penyakit rabies. Karena itu, masyarakat diminta segera mengambil langkah penanganan apabila terjadi kasus gigitan dari hewan penular rabies.
Plh Kepala Bidang Pertanian Dispangtan Kota Cimahi, drh Retno Wulan, menjelaskan anjing termasuk dalam kelompok hewan penular rabies (HPR). Selain anjing, kelompok tersebut juga mencakup kucing, monyet, dan musang.
"Untuk hewan penular rabies (HPR) terdiri dari anjing, kucing, monyet dan musang setelah melakukan pengigitan maka disebut sebagai suspect rabies," ujar Retno dalam keterangannya, Sabtu 29 Agustus 2026.
Menurut Retno, hewan yang melakukan gigitan akan menjalani observasi untuk mengetahui kemungkinan adanya rabies. Masa observasi tersebut dilakukan selama 14 hari dengan melihat kondisi dan perkembangan kesehatan hewan.
Apabila hewan tetap hidup hingga masa observasi berakhir, statusnya dapat dinyatakan negatif rabies berdasarkan pemantauan tersebut. Namun, apabila hewan mati selama periode observasi, pemeriksaan laboratorium terhadap bagian otak diperlukan untuk memastikan status rabies.
Retno juga mengingatkan pentingnya vaksinasi rabies bagi pemilik hewan peliharaan, khususnya anjing. Vaksinasi harus dilakukan secara rutin untuk mempertahankan perlindungan hewan dari penyakit rabies.
"Vaksin rabies harus rutin setahun sekali, sifatnya booster dari vaksin sebelumnya," ucapnya.
Upaya pencegahan rabies juga dilakukan Dispangtan Kota Cimahi melalui program SITERANG atau Vaksinasi On The Spot Hewan Penular Rabies dan Flu Burung. Program tersebut menjadi bagian dari pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Pada 2026, Dispangtan Kota Cimahi menyediakan 1.400 dosis vaksin rabies dan 600 dosis vaksin flu burung secara gratis bagi masyarakat. Penyediaan vaksin tersebut diharapkan dapat memperluas upaya pencegahan penyakit yang berpotensi menular dari hewan kepada manusia.
Retno menegaskan, pengendalian penyakit hewan membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama. Komunitas pecinta hewan serta kader di lapangan juga dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat pencegahan penyakit.
"Pengendalian dan pencegahan penyakit hewan harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, komunitas pecinta hewan, serta kader di lapangan," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....