Kreator Malaysia Tunjuk Emha Albana Garap AI Cinematography Mak Cun Animasi

  • 30 Agt 2026 13:28 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Produser sekaligus kreator Malaysia, Erma Fatima, memberikan kepercayaan kepada Emha Albana, kreator AI Cinematography asal Indonesia, untuk ikut menggarap pengembangan visual Mak Cun ke dalam format animasi series.

Proyek ini menjadi kolaborasi kreatif Malaysia-Indonesia yang menarik karena Mak Cun merupakan karya yang telah memiliki perjalanan panjang dalam industri hiburan Malaysia. Produksi Mak Cun berada di bawah Rumah Karya Citra (M) Sdn Bhd, production house yang menjadi bagian dari perjalanan kreatif Erma Fatima dalam mengembangkan berbagai karya.

Mak Cun sendiri dikenal sebagai drama komedi yang mengangkat kehidupan seorang wanita kampung dengan semangat besar untuk berwirausaha. Ceritanya tidak hanya berkutat pada persoalan bisnis, tetapi juga keluarga, persahabatan, kehidupan masyarakat dan berbagai persoalan sehari-hari yang dikemas dengan humor khas Malaysia.

Karakter Mak Cun kemudian berkembang menjadi salah satu karya yang memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat Malaysia. Dari drama televisi, karakter tersebut terus dikembangkan ke berbagai bentuk karya dan kini mendapatkan kesempatan untuk memasuki dunia animasi.

Dalam pengembangan Mak Cun Animasi Series, Erma Fatima memberikan ruang kepada Emha Albana untuk mengeksplorasi teknologi AI sebagai bagian dari proses visual dan sinematografi. Keputusan melibatkan kreator asal Indonesia menjadi bagian yang menarik karena mempertemukan dua latar kreatif dari negara yang berbeda.

“Bagi saya, Mak Cun bukan sekadar watak dalam sebuah drama. Mak Cun mempunyai identiti dan perjalanan yang panjang. Apabila kita membawa Mak Cun ke dalam animasi, saya mahu karakter, humor, budaya dan semangat yang ada dalam Mak Cun tetap terasa,” ujar Erma Fatima, dalam keterangannya, Minggu 30 Agustus 2026.

Erma menilai perbedaan antara Malaysia dan Indonesia bukan menjadi penghalang dalam menciptakan karya. “Saya memberikan kepercayaan kepada Emha kerana saya melihat kreativiti tidak mengenal sempadan. Kami datang dari Malaysia dan Indonesia, tetapi apabila mempunyai visi yang sama, kita boleh menghasilkan sesuatu yang baharu tanpa menghilangkan identiti karya asal,” katanya.

Bagi Emha Albana, keterlibatan dalam Mak Cun Animasi Series merupakan kesempatan sekaligus tanggung jawab besar. Mak Cun telah memiliki identitas yang kuat di Malaysia sehingga proses adaptasi ke animasi tidak hanya berbicara mengenai visual yang menarik.

“Ketika mendapatkan kepercayaan untuk terlibat dalam Mak Cun, saya menyadari bahwa ini bukan sekadar membuat karakter animasi. Ada sejarah, identitas dan perjalanan panjang yang harus dihormati,” ujar Emha.

Menurut Emha, tantangan terbesar adalah menerjemahkan karakter Mak Cun ke dalam bahasa visual baru tanpa menghilangkan ciri khasnya. “Saya ingin dunia Mak Cun terasa baru secara visual, tetapi ketika penonton melihatnya, mereka tetap bisa merasakan bahwa ini adalah Mak Cun yang mereka kenal. Bagi saya, itu yang menjadi tantangan sekaligus bagian paling menarik,” katanya.

Mak Cun dikenal melalui kisah seorang wanita desa yang memiliki semangat kuat untuk membangun usaha. Perjalanan karakter tersebut berkembang dengan berbagai persoalan kehidupan, mulai dari keluarga, hubungan sosial hingga perjuangan menjalankan bisnis.

Perpaduan antara komedi, kehidupan masyarakat dan semangat kewirausahaan menjadi salah satu kekuatan Mak Cun. Kini, dunia tersebut mulai diterjemahkan ke dalam format animasi. Perubahan medium membuka peluang untuk mengembangkan lingkungan kampung, aktivitas masyarakat, dunia usaha, keluarga dan berbagai karakter pendukung dengan pendekatan visual yang lebih dinamis.

Perubahan dari drama menuju animasi menjadi tantangan tersendiri. Karakter yang sebelumnya dikenal melalui pemeran manusia harus diterjemahkan ke dalam bentuk animasi tanpa kehilangan kepribadian dan identitasnya.

“Mak Cun boleh berubah bentuk dan medium, tetapi jiwanya tidak boleh hilang. Saya mahu penonton yang sudah mengenal Mak Cun tetap merasa dekat, sementara generasi baharu pula mempunyai kesempatan untuk mengenal Mak Cun melalui cara yang lebih dekat dengan mereka,” tutur Erma.

Sementara itu, Emha melihat AI Cinematography sebagai ruang baru untuk mengeksplorasi dunia Mak Cun. Keterlibatan Emha Albana dalam proyek tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi membuka peluang kolaborasi lintas negara.

Erma Fatima membawa pengalaman panjang serta identitas Mak Cun dari Malaysia melalui Rumah Karya Citra (M) Sdn Bhd. Sementara itu, Emha Albana membawa pendekatan visual berbasis AI Cinematography dari Indonesia. “Saya melihat kolaborasi ini sebagai satu peluang yang sangat menarik. Mak Cun mempunyai identiti Malaysia yang kuat, sementara Emha membawa perspektif visual dari Indonesia. Saya percaya perbedaan itu boleh menjadi kekuatan apabila kita mempunyai tujuan yang sama,” kata Erma.

Bagi Emha, kesempatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan teknologi dengan sebuah karakter yang sudah memiliki sejarah panjang. “Bagi saya, ini bukan hanya tentang teknologi. Ini tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menghormati sebuah karya yang sudah memiliki identitas. Saya ingin memberikan pendekatan visual yang baru tanpa membuat Mak Cun kehilangan karakter aslinya,” ujar Emha.

Erma Fatima melalui Rumah Karya Citra (M) Sdn Bhd membawa identitas dan perjalanan Mak Cun dari Malaysia, sementara Emha Albana mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi bahasa visual baru dari Indonesia. Kolaborasi tersebut menjadi pertemuan antara cerita, budaya, kreativitas dan teknologi yang mempertemukan Malaysia dan Indonesia dalam satu karya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....