Seleksi Duta Batik Jabar 2026, Dorong Regenerasi dan Keterlibatan Pembatik Muda

  • 29 Agt 2026 14:42 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) kembali menggelar ajang Pemilihan Duta Batik YBJB 2026 sebagai bagian dari rangkaian utama Jambore Batik Jawa Barat 2026. Kegiatan penyisihan yang meloloskan 50 peserta terbaik dari ratusan pendaftar tersebut diselenggarakan untuk membekali generasi muda agar mampu menjadi agen edukasi pelestarian warisan budaya lokal.

Ketua Umum YBJB, Sendy Dede Yusuf, mengungkapkan bahwa program pemilihan duta ini kembali dihidupkan untuk merespons keresahan akan mulai lunturnya pemahaman generasi muda terhadap esensi dan teknik pembuatan kain batik yang sebenarnya. Menurutnya, pendekatan sesama anak muda menjadi strategi paling efektif agar nilai-nilai budaya batik Jawa Barat dapat lebih mudah diterima serta dipahami oleh generasi milenial dan Gen Z.

"Jadi mereka hari ini kita berikan pembekalan dari beberapa narasumber yang memang cukup bagus ya. Ada dari Pak Komarudin Kudiya sebagai narasumber batik, Kang Dede Siswanto akademisi dan fashion designer, serta Mbak Vivi Novidai ahli public speaking. Anak-anak ini dilatih bagaimana bisa menyampaikan sesuatu, cara berbicara, cara menyampaikan pendapat, sehingga mereka nanti bisa menjadi generasi muda yang memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya generasi muda," ujar Sendy Yusuf saat ditemui di sela-sela kegiatan pembekalan peserta di Plataran Bandung, Sabtu 29 Agustus 2026.

Sendy menegaskan, edukasi teknis mengenai definisi autentik batik menjadi materi krusial yang ditanamkan kepada para calon duta. Pasalnya, sebagian besar masyarakat terutama anak muda masih belum memahami bahwa batik merupakan sebuah metode perintang warna menggunakan malam atau lilin panas, bukan sekadar motif visual semata.

"Anak-anak ini dilatih agar masyarakat khususnya generasi muda tahu apa sih itu batik. Batik itu sebagai metode atau teknik, bukan desain, yang prosesnya selalu pakai lilin atau malam panas sebagai alat perintang warna. Belum semua masyarakat terutama generasi muda mengetahui itu. Dan juga bagaimana agar anak-anak muda ini kalau disampaikan oleh generasi muda juga para Duta Batik YBJB nantinya, mereka bisa lebih menerima," katanya menjelaskan.

Melalui peran aktif Duta Batik, YBJB juga berupaya mengenalkan keberagaman motif serta kearifan lokal yang tersebar di seluruh pelosok Jawa Barat. Setiap daerah memiliki kekhasan filosofi dan warna yang dinilai sangat relevan dengan tren busana anak muda masa kini.

"Oh ternyata batik Jawa Barat itu ada ya di 27 kota kabupaten. Dan ternyata motifnya, warnanya itu memiliki kearifan lokal ciri khas masing-masing dari setiap kota. Ada yang batiknya berwarna alam, ada yang berwarna kimia, kemudian memiliki filosofi makna yang berbeda, dan kira-kiranya cocok untuk dikenakan oleh anak-anak muda," ucap Sendy menirukan antusiasme generasi muda.

Selain fokus pada aspek promosi kebudayaan dan edukasi literasi motif daerah, agenda besar YBJB melalui ajang ini adalah menjawab tantangan krisis regenerasi perajin batik. Saat ini, mayoritas perajin batik tradisional di sentra-sentra utama seperti Cirebon, Indramayu, Garut, dan Tasikmalaya didominasi oleh kalangan senior atau lanjut usia.

"Dan tentunya tujuan kami yang utama adalah agar terjadinya regenerasi pembatik. Karena saat ini sangat sulit ya. Yang membatik itu sudah sepuh-sepuh atau senior-senior baik di kota kabupaten yang dari dulu sudah ada daerah pembatikan seperti Garut, Tasik, Indramayu, dan Cirebon. Kebanyakan perempuan dan sudah senior. Nah, kami sekarang mengajak agar terjadi regenerasi dan ada pembatik pria," tutur Sendy menambahkan.

Ia mencontohkan, di beberapa wilayah perkembangan baru seperti Sukabumi, mulai tumbuh potensi pembatik dari kalangan pria yang mematahkan stigma lama industri kriya kain ini. Pendekatan regenerasi ini diselaraskan dengan visi penciptaan lapangan kerja baru bagi generasi muda.

"Kemudian anak-anak di sini juga nantinya mungkin mereka bisa menjadi pengusaha batik. Bukan hanya perajin batik tetapi yang memiliki banyak perajin, sehingga batik itu tetap dibuat oleh daerah. Batik Jawa Barat dibuat di kota kabupaten yang ada di Jawa Barat, bukan dibuat di luar daerah. Itu tujuan kami yang utama," kata Sendy memungkas wawancara.

Seluruh 50 peserta yang terdiri dari 25 pria dan 25 wanita menjalani proses penilaian ketat dari Dewan Juri. Dari tahapan penyisihan ini, akan dipilih 20 finalis terbaik yang berhak melangkah ke tahap pembekalan lanjutan pada 19 September 2026 di Rumah Batik Komar, sebelum memperebutkan gelar utama pada Grand Final Jambore Batik Jawa Barat, Oktober 2026 mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....