Pemkot Bandung Siapkan Panduan Kebijakan Pengelolaan Sampah Berbasis Indeks
- 28 Agt 2026 13:35 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung tengah menyiapkan panduan kebijakan sebagai acuan dalam perencanaan pembangunan tahun 2028 dan pelaksanaan program pada 2027. Panduan tersebut nantinya menjadi alat ukur untuk menilai keberhasilan setiap program secara lebih terukur dan berbasis indikator ilmiah.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, panduan tersebut diperlukan agar setiap kebijakan memiliki parameter yang jelas, termasuk untuk mengetahui program yang berhasil maupun yang masih perlu diperbaiki.
"Jadi untuk perencanaan tahun 2028 dan juga pelaksanaan tahun 2027, kita bisa punya patokan-patokan yang bisa dijadikan alat ukur atau parameter. Yang berhasil indeksnya berapa, yang kurang berhasil indeksnya berapa. Itulah kira-kira unsur-unsur ilmiahnya," ujar Farhan, Jumat 28 Agustus 2026.
Dalam pengelolaan sampah, Pemkot Bandung juga tengah melakukan uji coba pengolahan sampah organik menjadi briket di salah satu tempat pengelolaan sampah di Kelurahan Padasuka.
Menurut Farhan, fasilitas tersebut merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan kapasitas pengolahan sekitar tiga ton sampah per hari. Briket yang dihasilkan nantinya akan dimanfaatkan dan dijual kepada industri, salah satunya pabrik tahu.
"Sekarang juga sedang dicoba. Di Kelurahan Padasuka ada satu alat pengelolaan sampah yang mengubah sampah organik menjadi briket. Briketnya nanti akan kita jual ke pabrik-pabrik tahu. Ini bantuan dari provinsi. Kita coba satu dulu dengan kapasitas sekitar tiga ton per hari," katanya.
Jika uji coba tersebut berjalan optimal, Pemkot Bandung berencana mengembangkan teknologi serupa di sejumlah kelurahan lainnya.
Farhan menambahkan, untuk pembangunan fasilitas pengelolaan sampah skala lebih besar, saat ini pemerintah masih memprioritaskan penyiapan lahan. Kondisi lahan harus disesuaikan dengan kebutuhan konstruksi yang dirancang oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
"Yang paling penting sekarang penyiapan lahan dulu. Penyiapan lahan itu mesti diuruk sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan konstruksi dari Danantara. Ini masih berupa gambar semuanya," jelasnya.
Dari rancangan tersebut, Pemkot Bandung nantinya akan mengetahui jenis dan volume sampah yang dibutuhkan setiap hari, baik organik maupun nonorganik. Fasilitas itu juga berpotensi dilengkapi area pemilahan sampah.
"Kalau memang jadi tempat pemilahan juga, sekalian kita akan jadikan pemilahan untuk sampah yang bisa diangkut ke Legok Nangka," ucapnya.
Menurut Farhan, kepastian mengenai jenis dan volume sampah menjadi penting karena akan menentukan pola pengangkutan serta wilayah yang menjadi sumber pasokan sampah.
"Pertanyaannya tentu adalah sampah seperti apa yang dibutuhkan, seberapa banyak per hari yang dikirim ke sana. Kalau itu sudah ketahuan, kita akan tahu jalur pengangkutannya datang dari mana saja," katanya.
Untuk mendukung sistem tersebut, Pemkot Bandung tengah menyiapkan proposal kepada Kementerian Lingkungan Hidup agar mendapat dukungan kendaraan khusus pengangkutan sampah.
Kendaraan khusus itu diharapkan dapat membuat proses pengangkutan lebih aman dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat di sepanjang jalur yang dilalui, khususnya kawasan Cisaranten, Cinambo, Rancanumpang hingga Gedebage.
"Kami sedang menyiapkan sebuah proposal kepada Kementerian Lingkungan Hidup untuk bisa membantu menyediakan kendaraan khusus pengangkutan sampah, sehingga tidak mengganggu masyarakat yang akan dilewati di seputaran Cisaranten sampai ke Cinambo, Rancanumpang, dan Gedebage," tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....