Satu Dekade NGTS: Dari Edukasi Gizi ke Budaya Sehat di Sekolah
- 25 Agt 2026 18:04 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Sepuluh tahun perjalanan Nutrition Goes to School (NGTS) menunjukkan bahwa pendidikan gizi di sekolah tidak cukup hanya disampaikan melalui teori. Program yang dijalankan Kemendikdasmen bersama SEAMEO RECFON (Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition) tersebut mendorong sekolah mengubah pengetahuan tentang gizi menjadi kebiasaan yang dipraktikkan setiap hari.
Pendekatan itu diwujudkan melalui beragam kegiatan yang melibatkan langsung peserta didik. Kebun sekolah, kantin sehat, pembiasaan hidup bersih dan sehat, edukasi gizi, hingga kegiatan kewirausahaan menjadi ruang belajar yang membuat isu gizi lebih dekat dengan kehidupan anak.
Dalam satu dekade, NGTS telah memberikan pelatihan gizi dan kesehatan kepada lebih dari 3.500 guru dan tenaga kependidikan dari 2.430 sekolah. Program tersebut juga telah mendampingi secara teknis 279 sekolah dan madrasah di Indonesia maupun Asia Tenggara serta melahirkan 42 Model Sekolah/Madrasah NGTS Mandiri di tujuh wilayah dampingan Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menilai sekolah memiliki posisi penting untuk menjawab persoalan gizi anak yang semakin kompleks. Tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi dan kekurangan zat gizi mikro.
“Yang paling penting dalam konteks Indonesia saat ini adalah tidak hanya kekurangan gizi pada anak-anak, ada juga yang berlebih, dan sekaligus ada tantangan terkait kekurangan gizi mikro. Jadi, ini bagian penting yang ingin kita respons melalui sekolah sebagai agen perubahan,” ujar Tatang, dalam keterangannya, Selasa 25 Agustus 2026.
Menurut Tatang, intervensi di lingkungan sekolah dapat membentuk kesadaran anak sekaligus membiasakan mereka memilih dan menerapkan pola hidup yang lebih sehat. “Dengan adanya program ini, harapannya nanti di sekolah ada perubahan terkait bagaimana anak-anak mendapatkan gizi yang terbaik, tidak kelebihan, tidak kekurangan, dan juga terkait gizi mikro,” tuturnya.
Ia menambahkan, keberhasilan program tidak berhenti pada meningkatnya pengetahuan peserta didik. Anak juga perlu memiliki kemampuan untuk menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Gambaran penerapan NGTS dapat dilihat di SMA Negeri 1 Singosari, Jawa Timur. Sekolah tersebut mengintegrasikan pendidikan gizi ke dalam sejumlah aktivitas sekolah, seperti pengelolaan kantin sehat, pembiasaan praktik gizi baik, edukasi gizi, kebun sekolah, dan kewirausahaan.
Guru Biologi sekaligus anggota tim NGTS SMA Negeri 1 Singosari, Zainal Fanani, mengatakan kebun sekolah menjadi salah satu sarana pembelajaran yang memungkinkan siswa mengenal proses pangan secara lebih utuh, mulai dari menanam hingga mengolah hasilnya. “Implementasi NGTS yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Singosari meliputi kantin sehat, pembiasaan praktik gizi baik, edukasi gizi, kebun sekolah, serta kewirausahaan,” ujar Zainal.
Di kebun sekolah, siswa tidak sekadar mengenali berbagai jenis tanaman. Mereka juga belajar mengenai pemanfaatan dan pengolahan hasil panen. Sementara itu, kebiasaan hidup sehat diperkuat melalui senam bersama setiap Jumat.
Bagi Rini, upaya membangun kebiasaan gizi sejak usia sekolah memiliki arti lebih luas daripada sekadar menjaga kesehatan anak saat ini. Gizi yang baik menjadi salah satu fondasi bagi tumbuh kembang dan kualitas generasi mendatang.
“Gizi itulah pondasi utama untuk tumbuh kembang anak dan menjadi investasi untuk masa depan, supaya anaknya sehat, kreatif, dan juga memiliki jiwa besar untuk memajukan Indonesia nantinya,” ujarnya.
Memasuki dekade kedua, NGTS diarahkan untuk terus memperkuat praktik gizi berbasis sekolah sekaligus memperluas pertukaran pengalaman di kawasan Asia Tenggara. Dengan menempatkan sekolah sebagai pusat perubahan, pendidikan gizi diharapkan berkembang dari sekadar materi pembelajaran menjadi budaya hidup sehat yang dilakukan secara konsisten oleh warga sekolah dan dibawa hingga ke lingkungan keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....