Jawa Barat Dilanda Kekeringan, 519 Ribu Warga Terdampak Krisis Air Bersih

  • 20 Agt 2026 14:39 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Krisis air bersih akibat kekeringan kian meluas di wilayah Jawa Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat sebanyak 519.687 jiwa dari 160.862 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan yang tersebar di 387 desa atau kelurahan dan 175 kecamatan.

"Berdasarkan data infografis per 18 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, bencana kekeringan berdampak pada 175 kecamatan yang tersebar di 387 desa/kelurahan di Jawa Barat. Secara total, dampak kekeringan menyasar 160.862 KK atau sekitar 519.687 jiwa," ujar Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, Kamis 20 Agustus 2026.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang langka akibat kekeringan, pemerintah daerah bersama sejumlah instansi dan elemen masyarakat telah menyalurkan jutaan liter air itu ke wilayah terdampak. Total bantuan air yang telah didistribusikan mencapai 11.121.000 liter.

"Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, pemerintah dan berbagai pihak telah menyalurkan total 11.121.000 liter air bersih," katanya.

Kabupaten Bogor menjadi daerah dengan jumlah warga terdampak paling banyak. Kekeringan di wilayah tersebut berdampak terhadap 180.247 jiwa dari 55.958 KK yang tersebar di 123 desa/kelurahan dan 30 kecamatan, sehingga sejumlah 1.743.500 liter air bersih disalurkan ke area itu.

Sementara Kabupaten Bekasi berada di urutan kedua dengan 61.886 jiwa terdampak dari 20.187 KK. Namun, dari sisi distribusi air, Kabupaten Bekasi menjadi daerah dengan penyaluran terbesar, yakni mencapai 5.322.800 liter.

Hadi mengatakan perbedaan jumlah warga terdampak dan volume bantuan menunjukkan kebutuhan air di setiap daerah tidak sama. Kebutuhan tersebut beragam tergantung kondisi, tak selalu sebanding dengan jumlah penduduk.

"Data tersebut menunjukkan bahwa dampak kekeringan dan kebutuhan penyaluran air bersih tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah penduduk terdampak," ujarnya.

Selain Bogor dan Bekasi, kekeringan juga melanda sejumlah wilayah lain. Kabupaten Purwakarta tercatat memiliki 39.409 jiwa terdampak, Kabupaten Bandung 29.696 jiwa, Kabupaten Tasikmalaya 29.014 jiwa, serta Kabupaten Karawang sebanyak 24.315 jiwa.

Krisis air bersih juga terjadi di Kota Sukabumi dengan 31.037 jiwa terdampak, Kota Tasikmalaya 16.951 jiwa, Kabupaten Cianjur 16.277 jiwa, Kota Cirebon 12.735 jiwa, dan Kabupaten Sukabumi sebanyak 12.584 jiwa.

Sementara itu, Kabupaten Ciamis mencatat 8.076 jiwa terdampak, Kota Banjar 8.068 jiwa, Kabupaten Pangandaran 7.975 jiwa, Kabupaten Bandung Barat 6.131 jiwa, Kabupaten Garut 5.687 jiwa, dan Kabupaten Indramayu sebanyak 5.512 jiwa.

Wilayah lain yang turut terdampak yakni Kabupaten Majalengka dengan 4.899 jiwa, Kabupaten Sumedang 4.042 jiwa, Kabupaten Subang 3.463 jiwa, Kota Bandung 3.425 jiwa, Kota Cimahi 3.100 jiwa, Kota Bekasi 2.700 jiwa, serta Kota Depok sebanyak 1.918 jiwa.

Di tengah meluasnya dampak kekeringan, Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan masih tercatat aman. Kedua wilayah tersebut belum mencatat adanya warga yang terdampak maupun penyaluran bantuan air bersih.

"Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan dalam pembaruan data kali ini tercatat belum mengalami dampak kekeringan, dengan angka nol jiwa, nol KK, serta belum menerima distribusi air bersih," kata Hadi.

Penyaluran air bersih tersebut melibatkan berbagai pihak. BPBD Jawa Barat menjadi penyumbang distribusi terbesar dengan 6.865.200 liter air, disusul Palang Merah Indonesia (PMI) sebanyak 1.803.000 liter dan PDAM sebesar 1.761.000 liter.

Bantuan juga berasal dari komunitas sebanyak 288.500 liter, dunia usaha 217.300 liter, Baznas 100.000 liter, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) 82.000 liter, serta Kodim sebanyak 4.000 liter.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....