Kopamas Uji Coba Angkot Listrik Rute Ledeng-Husein Sastranegara
- 19 Agt 2026 17:54 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Koperasi Pemilik Angkutan Masyarakat (Kopamas) Kota Bandung mulai menguji coba satu unit angkutan kota (angkot) listrik untuk trayek Terminal Ledeng-Bandara Husein Sastranegara melalui Sukahaji. Uji coba dilakukan untuk mengumpulkan data sebelum kendaraan listrik diterapkan secara penuh sebagai angkutan umum.
Ketua Kopamas Kota Bandung, Budi Kurnia mengatakan, uji coba tersebut tidak hanya bertujuan memperkenalkan kendaraan listrik kepada masyarakat, tetapi juga mengukur kelayakan kendaraan untuk operasional angkot sehari-hari.
“Uji coba ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, kami ingin mengukur durabilitas atau ketahanan kendaraan. Kedua, kami ingin menguji sekaligus melihat tanggapan masyarakat Kota Bandung terhadap penggunaan kendaraan listrik sebagai angkutan umum,” ujar Budi, Rabu 19 Agustus 2026.
Menurutnya, trayek yang dipilih merupakan salah satu jalur yang dikelola Kopamas dan sebelumnya telah mengalami perubahan rute. Semula, trayek tersebut melayani Cibogo Atas-Andir, kemudian dilakukan rerouting menjadi Terminal Ledeng-Bandara Husein Sastranegara melalui Sukahaji.
Budi menilai karakteristik jalur tersebut cukup sesuai dengan kendaraan listrik yang sedang diuji. Sejumlah ruas jalan yang relatif kecil membutuhkan kendaraan dengan kemampuan manuver yang baik.
“Untuk trayek Bandara Husein Sastranegara-Terminal Ledeng, kami memproyeksikan penggunaan kendaraan MAB karena karakteristik jalannya relatif kecil dan membutuhkan kendaraan yang mudah bermanuver,” katanya.
Pada tahap awal, Kopamas baru mengoperasikan satu unit kendaraan listrik. Kendaraan tersebut akan diuji dalam kondisi operasional untuk melihat kemampuan dan ketahanannya, sekaligus memperoleh gambaran mengenai respons masyarakat terhadap angkutan umum berbasis listrik.
Seluruh hasil uji coba nantinya akan didokumentasikan dan dilaporkan kepada pihak terkait. Data tersebut menjadi bahan evaluasi sebelum Kopamas menentukan kebutuhan armada serta pola operasional kendaraan listrik.
“Kami juga akan menghitung load factor dan berbagai indikator lainnya. Dari hasil tersebut, nantinya akan diketahui berapa kebutuhan armada, bagaimana tingkat keterisian penumpang dan berbagai kebutuhan operasional lainnya,” ungkapnya.
Dengan demikian, rencana penggunaan kendaraan listrik tidak langsung ditetapkan berdasarkan asumsi. Kopamas ingin melihat terlebih dahulu performa kendaraan di lapangan, termasuk tingkat keterisian penumpang, ketahanan kendaraan, serta penerimaan masyarakat.
“Jadi, uji coba ini memang lebih diarahkan untuk mendapatkan data sebelum kendaraan digunakan secara penuh,” jelasnya.
Dari sisi biaya operasional, kendaraan listrik menjadi salah satu pertimbangan utama Kopamas. Budi menyebut biaya energi kendaraan listrik berpotensi jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar bensin.
Untuk kendaraan berbahan bakar bensin, pengemudi dengan jarak operasional sekitar 180 hingga 200 kilometer per hari membutuhkan biaya bahan bakar sekitar Rp150 ribu hingga Rp170 ribu.
Sementara kendaraan listrik yang diuji membutuhkan sekitar 50 kWh untuk satu kali pengisian. Dengan asumsi tarif listrik sekitar Rp1.600 hingga Rp1.700 per kWh, biaya pengisian disebut masih berada di bawah Rp50 ribu.
“Dari biaya operasional, kami bisa melakukan penghematan sampai sekitar 70 persen,” ucapnya.
Budi memperkirakan konsumsi kendaraan sekitar 1 kWh untuk menempuh jarak lima kilometer. Dengan kapasitas baterai 50 kWh, secara teoritis kendaraan mampu menempuh sekitar 250 kilometer.
Jarak tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional selama satu hari dengan satu kali pengisian daya.
Selain efisiensi biaya, kendaraan listrik juga memiliki keuntungan dari sisi lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung.
Kopamas menilai penggunaan kendaraan listrik dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendorong pengembangan angkutan umum yang lebih ramah lingkungan di Kota Bandung.
Meski sumber listrik masih dapat berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil, Budi menyebut Jawa Barat memiliki sejumlah sumber energi dari pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi.
“Kita memiliki sumber energi yang berasal dari pembangkit tenaga air dan panas bumi. Untuk pembangkit tenaga air, kita memiliki Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Kemudian untuk panas bumi ada Kamojang, Darajat dan Wayang Windu,” katanya.
Berdasarkan hasil uji coba, Kopamas memperkirakan kebutuhan awal kendaraan listrik untuk trayek tersebut berada di kisaran 15 hingga 20 unit.
Armada tersebut diproyeksikan memiliki headway atau jarak waktu kedatangan antarangkot sekitar 10 hingga 15 menit. Namun, jumlah final armada masih menunggu hasil evaluasi operasional.
Selain aspek teknis, Kopamas juga ingin memastikan kendaraan listrik mampu memenuhi kebutuhan penumpang. Kendaraan yang diuji telah dilengkapi pendingin udara atau AC untuk meningkatkan kenyamanan selama perjalanan.
“Untuk fitur angkot, semuanya sudah tersedia. Kendaraan ini sudah dilengkapi AC sehingga penumpang bisa merasa nyaman,” ucapnya.
Sementara itu, fasilitas tambahan seperti Wi-Fi dan sistem pembayaran menggunakan tapping card masih dalam tahap persiapan. Kopamas juga membuka kemungkinan menambah fasilitas berdasarkan masukan masyarakat selama masa uji coba.
“Kami membutuhkan masukan dari para pengguna mengenai fasilitas apa saja yang mereka butuhkan. Prinsipnya, kami ingin masyarakat merasa nyaman menggunakan angkutan umum ini,” tuturnya.
Kopamas berharap uji coba tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kesiapan kendaraan listrik sebagai angkutan umum. Selain evaluasi teknis dan ekonomi, dukungan pemerintah, anggota koperasi, serta masyarakat dinilai diperlukan apabila penggunaan kendaraan listrik nantinya diperluas.
“Harapan saya tentu ada dukungan dari pemerintah, khususnya dalam bentuk support terhadap program ini. Selain itu, kami juga membutuhkan dukungan dari para anggota dan masyarakat Kota Bandung,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....