Rumah Yatim Catat 453.558 Penerima Manfaat pada Semester Pertama 2026

  • 11 Agt 2026 16:50 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Rumah Yatim mencatat sebanyak 453.558 jiwa menerima manfaat dari berbagai program sepanjang Januari hingga Juni 2026. Penerima manfaat tersebut tersebar di 19 provinsi di Indonesia melalui program di bidang kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan dakwah.

‎Data tersebut merupakan bagian dari laporan penerima manfaat Rumah Yatim pada semester pertama 2026. Dari keseluruhan penerima manfaat, program di bidang kemanusiaan menjadi yang terbesar dengan menjangkau 369.929 jiwa.

‎Sementara itu, program pendidikan tercatat menjangkau 63.560 penerima manfaat. Kemudian bidang dakwah sebanyak 14.650 jiwa, kesehatan 4.765 jiwa, dan bidang ekonomi sebanyak 654 jiwa.

‎Direktur Marketing dan Komunikasi Rumah Yatim, Sani Ramdani, mengatakan data penerima manfaat menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana program yang dijalankan mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

‎“Angka ini bukan sekadar jumlah penerima manfaat, tetapi menjadi gambaran dari ikhtiar Rumah Yatim dalam menjangkau berbagai kelompok masyarakat di sejumlah wilayah. Data ini juga menjadi bahan evaluasi agar program ke depan semakin tepat sasaran dan memberikan manfaat yang berkelanjutan,” ujar Sani, Selasa 11 Agustus 2026.

‎Berdasarkan kategori asnaf, penerima manfaat Rumah Yatim terdiri dari 337.779 jiwa kategori miskin, 67.411 jiwa fakir, serta 48.368 jiwa fisabilillah.

‎Sedangkan berdasarkan kategori usia, penerima manfaat terdiri dari 252.061 jiwa dewasa, 116.354 jiwa yatim dan dhuafa, serta 85.143 jiwa lansia.

‎Selain penyaluran bantuan, berbagai program Rumah Yatim juga tercatat berkontribusi terhadap sejumlah indikator Sustainable Development Goals (SDGs).

‎Secara keseluruhan, terdapat 370.871 penerima manfaat yang tercatat dalam program yang berkaitan dengan pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

‎Rinciannya, sebanyak 321.645 penerima manfaat berada dalam program pembangunan sosial, 12.771 penerima manfaat pada pembangunan ekonomi, dan 36.455 penerima manfaat dalam program pembangunan lingkungan.

‎Sani mengatakan, pencatatan dan evaluasi penerima manfaat menjadi bagian penting untuk memastikan setiap program dapat terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

‎“Kami terus berupaya agar pelaksanaan program tidak berhenti pada penyaluran, tetapi juga dapat memberikan dampak yang lebih nyata bagi penerima manfaat. Karena itu, evaluasi berdasarkan data menjadi salah satu dasar dalam menentukan arah program selanjutnya,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....