Sumedang Ngabatik 2026, Ruang Aktualisasi Potensi dan Identitas Batik Sumedang
- 11 Agt 2026 15:43 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Sumedang - Ajang Sumedang Ngabatik 2026 tidak sekadar menjadi kompetisi untuk mencari karya batik terbaik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menuangkan kreativitas sekaligus mengembangkan potensi batik yang berakar dari identitas budaya Sumedang.
Hal itu disampaikan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir saat membuka Sumedang Ngabatik 2026 di Pendopo PPS Kabupaten Sumedang.
Menurut Dony, kegiatan tersebut penting untuk memberikan ruang kepada masyarakat, khususnya para pelaku dan generasi muda, dalam mengaktualisasikan kemampuan mereka di bidang batik. “Ini menjadi wahana untuk mengaktualisasikan potensi batik Sumedang dan ini menjadi ruang,” ujar Dony, Senin 10 Agustus 2026.
Kompetisi Sumedang Ngabatik 2026 terbagi dalam kategori pelajar dan umum. Sejumlah karya yang dihasilkan peserta mengangkat berbagai simbol, sejarah, tradisi, hingga kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Sumedang.
Pada kategori pelajar, juara pertama diraih Shaskia Sulistiawati dari SMAN Darmaraja melalui karya berjudul “Simbol Kebanggaan Sumedang” dengan nilai akhir 78,27. Posisi juara kedua ditempati Ananda Namira Syaidatunnisa dari SMA Yadika Tanjungsari Sumedang dengan karya “Ngarumat Binokasih, Naliken Tali Kaasih - Merawat Warisan, Mengikat Kasih, Meneruskan Jati Diri” yang memperoleh nilai 78,13.
Sedangkan juara ketiga diraih Shufi Zaenal Muttakin dari SMK PPN Tanjungsari dengan karya “Batik Kejayaan Sumedang Larang”, dengan nilai 74,87.
Untuk kategori umum, juara pertama diraih Rania Salsabila dari Rumah Batik Sumedang. Karyanya yang berjudul “Binokasih Dijaga Naga Paksi (Warisan Leluhur, Dijaga Sepenuh Hati, Tumbuh Bersama Hanjuang)” meraih nilai tertinggi, yakni 84,80.
Juara kedua diraih Nadzifatin Alfi Anifa dari Komunitas Endikat Teman Bicara melalui karya “Warisan Tiga Pusaka: Kejayaan, Keberanian, dan Kesucian” dengan nilai 83,00. Sementara juara ketiga ditempati Humaira Arsya Ufinadifa dari Komunitas Batik Sumedang dengan karya “Seni Tarawangsa Rancakalong” yang memperoleh nilai 80,53.
Bupati Dony menegaskan, pengembangan batik Sumedang ke depan harus memiliki pijakan yang kuat pada identitas daerah. Tradisi, kata dia, perlu dipertahankan namun sekaligus dikombinasikan dengan inovasi agar batik Sumedang mampu berkembang dan memiliki daya saing.
Tak hanya dari sisi visual, Dony menilai setiap motif batik juga perlu memiliki narasi yang kuat. Dengan demikian, batik tidak hanya menjadi produk fesyen, tetapi juga membawa cerita mengenai sejarah, budaya, dan filosofi Sumedang.
“Identitas Sumedang harus kita gali. Tradisi kita padukan dengan inovasi. Batik ini juga harus memiliki narasi, sehingga ketika orang melihatnya ada cerita tentang Sumedang, ada sejarah, budaya dan filosofi yang terkandung di dalamnya,” tuturnya.
Dony mengajak seluruh peserta maupun pelaku usaha batik untuk menjadikan Sumedang Ngabatik sebagai momentum meningkatkan kemampuan dan keberanian untuk berinovasi. Menurutnya, kompetisi merupakan bagian penting dalam mendorong kemajuan.
Ia berharap kompetisi tersebut mampu melahirkan karya batik dengan karakter yang kuat sehingga dapat menjadi identitas yang mudah dikenali masyarakat luas. “Saya harap, dari kegiatan hari ini lahir sebuah karya yang nantinya ketika orang melihatnya langsung berkata, ‘Ini batik Sumedang,’” ujar Dony.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....