Sekolah Swasta Jabar di Ujung Tanduk, Harus Berani Bertransformasi
- 10 Agt 2026 11:46 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Fenomena penutupan sejumlah sekolah swasta di Jawa Barat dinilai tidak terjadi secara mendadak. Kondisi tersebut merupakan akumulasi persoalan yang berlangsung selama bertahun-tahun, baik akibat perubahan kebijakan pendidikan maupun persoalan internal pengelolaan sekolah.
Ketua Forum Komunikasi Sekolah Swasta (FKSS) Jawa Barat Ade D. Hendriana, menilai keberlangsungan sekolah swasta perlu menjadi perhatian bersama. Tanpa intervensi kebijakan dan pembenahan dari pengelola sekolah, semakin banyak sekolah swasta berpotensi kesulitan mempertahankan operasionalnya.
Sejumlah kebijakan penerimaan peserta didik menjadi salah satu tantangan yang dihadapi sekolah swasta. Regulasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang dinilai belum konsisten, peningkatan daya tampung sekolah negeri, hingga pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) disebut ikut mempersempit pangsa peserta didik bagi sekolah swasta.
Namun, persoalan tersebut tidak seluruhnya berasal dari faktor eksternal. Sekolah swasta juga menghadapi tantangan dari sisi internal, mulai dari lambannya inovasi, kualitas layanan yang belum merata, hingga menurunnya motivasi guru dan tenaga kependidikan.
Strategi promosi yang hanya gencar dilakukan menjelang masa penerimaan murid baru juga dinilai tidak lagi memadai. Di tengah persaingan mendapatkan kepercayaan masyarakat, sekolah perlu membangun komunikasi dan menunjukkan keunggulan secara konsisten sepanjang tahun.
Sekolah swasta pun dinilai tidak bisa hanya mengandalkan reputasi atau usia lembaga. Perubahan kebutuhan masyarakat membuat sekolah dituntut terus melakukan pembaruan, baik dalam pembelajaran, pelayanan, manajemen maupun strategi komunikasi publik.
“Sekolah yang bertahan bukan yang paling tua, tetapi yang paling cepat beradaptasi, sekolah swasta perlu memperkuat kolaborasi dan inovasi agar mampu merespons perubahan lingkungan pendidikan. Transformasi menjadi penting agar sekolah tidak hanya mengandalkan kejayaan masa lalu, tetapi memiliki strategi yang relevan untuk menghadapi kebutuhan masyarakat saat ini,” kata Ade, Senin 10 Agustus 2026.
FKSS Jawa Barat juga mendorong terbentuknya ekosistem pendidikan yang memberikan kesempatan berkembang secara proporsional bagi sekolah negeri dan swasta.
Kebijakan pendidikan, menurut FKSS, semestinya tidak menempatkan sekolah negeri dan swasta dalam posisi yang saling berhadapan. Keduanya perlu dipandang sebagai bagian dari ekosistem yang dapat saling melengkapi dalam menyediakan layanan pendidikan bagi masyarakat.
Keberlangsungan sekolah swasta juga dinilai memiliki dampak lebih luas daripada sekadar keberadaan sebuah lembaga pendidikan. Sekolah swasta selama ini menjadi pilihan bagi keluarga dengan berbagai pertimbangan, seperti lokasi, karakter pendidikan, nilai-nilai yang ditawarkan, hingga fleksibilitas program pembelajaran.
Jika semakin banyak sekolah swasta berhenti beroperasi, pilihan pendidikan bagi masyarakat akan ikut berkurang. Pada saat yang sama, meningkatnya konsentrasi peserta didik di sekolah negeri dapat menambah tekanan terhadap kapasitas layanan pendidikan pemerintah.
Karena itu, persoalan sekolah swasta perlu ditempatkan sebagai bagian dari isu strategis pendidikan, bukan semata-mata persoalan internal yayasan atau pengelola sekolah.
Pemerintah, pengelola sekolah, masyarakat, dan pemangku kepentingan pendidikan dinilai perlu membangun dialog untuk mencari solusi jangka panjang. Penataan kebijakan penerimaan murid, penguatan kompetensi guru, peningkatan kualitas layanan, inovasi pembelajaran, serta pembenahan tata kelola sekolah menjadi sejumlah langkah yang perlu diperkuat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....