BMKG Bandung: Puncak Musim Kemarau Diperkirakan Terjadi Agustus
- 24 Jul 2026 18:25 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung menyebut wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, kini mulai memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut ditandai dengan semakin minimnya pembentukan awan hujan, cuaca cerah pada siang hari, serta suhu udara yang lebih dingin pada malam hingga dini hari.
Prakirawan Cuaca BMKG Bandung, Yuni Yulianti, mengatakan puncak musim kemarau di Bandung Raya umumnya terjadi pada bulan Agustus. Fenomena ini dipengaruhi oleh angin monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering ke wilayah Indonesia bagian selatan.
"Hal ini ditandai dengan sudah sangat berkurangnya awan-awan konvektif yang berpotensi membentuk hujan. Selain itu, suhu udara pada pagi dan dini hari terasa lebih dingin akibat angin monsun Australia yang membawa udara dingin dan kering," ujar Yuni, Jumat 24 Juli 2026.
Menurutnya, minimnya tutupan awan juga menyebabkan suhu udara pada siang hari meningkat cukup signifikan. Sinar matahari dapat dipancarkan secara maksimal ke permukaan bumi, sehingga suhu udara di Bandung pada siang hari berkisar antara 31 hingga 32 derajat Celsius.
Sementara itu, pada malam hingga dini hari, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih optimal sehingga udara terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.
Menanggapi anggapan masyarakat yang mengaitkan kondisi tersebut dengan pemanasan global, Yuni menjelaskan bahwa secara umum durasi musim kemarau tahun ini masih tergolong normal. Namun, awal musim kemarau di Bandung Raya memang datang lebih lambat karena baru dimulai pada Juni 2026.
"Secara durasi masih cukup normal. Di Bandung Raya, awal musim kemarau baru dimulai pada Juni sehingga memang sedikit terlambat memasuki musim kemarau," jelasnya.
Ia menambahkan, keterlambatan tersebut dipengaruhi oleh kondisi iklim global, salah satunya fenomena El Niño, yaitu anomali suhu permukaan laut di kawasan Pasifik ekuator yang lebih hangat dari kondisi normal.
Fenomena El Niño berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat. Akibatnya, curah hujan selama musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih rendah dibandingkan kondisi klimatologis normal.
"Untuk musim kemarau tahun ini memang curah hujannya lebih rendah dibandingkan klimatologisnya atau lebih sedikit," tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....