AAF 2026 Kumpulkan 807,58 Kg Sampah Plastik

  • 16 Jul 2026 14:21 WIB
  •  Bandung
Poin Utama
  • Program WAHU dalam rangkaian Asia Africa Festival 2026 berhasil mengumpulkan 807,58 kilogram sampah plastik dari empat titik pengumpulan di Kota Bandung selama tujuh hari menjelang festival.
  • Total sampah yang berhasil dikelola selama kegiatan AAF 2026 mencapai 22 meter kubik, terdiri atas 18 meter kubik sampah plastik (80 persen), 2 meter kubik sampah organik (10 persen), dan 2 meter kubik sampah residu (10 persen).
  • Pemerintah Kota Bandung melaksanakan program carbon offset melalui penanaman 110 pohon produktif di Kecamatan Sumur Bandung, Lengkong, dan Regol untuk mengkompensasi emisi karbon 10,82 ton CO₂e dari penyelenggaraan festival.

RRI.CO.ID, Bandung – Pelaksanaan Asia Africa Festival (AAF) 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi budaya dan pariwisata, tetapi juga menunjukkan komitmen terhadap penyelenggaraan acara yang ramah lingkungan. Melalui program WAHU, penyelenggara bersama masyarakat berhasil mengumpulkan 807,58 kilogram sampah plastik atau setara sekitar 18 meter kubik dari empat titik pengumpulan yang tersebar di Kota Bandung selama tujuh hari menjelang festival.

‎‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan berdasarkan identifikasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, total sampah yang berhasil dikelola selama rangkaian kegiatan mencapai 22 meter kubik.

‎‎"Berdasarkan identifikasi Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, total sampah yang berhasil dikelola mencapai 22 meter kubik, terdiri atas 18 meter kubik sampah plastik (80 persen), 2 meter kubik sampah organik (10 persen), dan 2 meter kubik sampah residu (10 persen)," ujar Farhan, Kamis 16 Juli 2026.


‎Selain pengelolaan sampah, Pemerintah Kota Bandung juga menghitung jejak karbon yang dihasilkan dari penyelenggaraan AAF 2026. Hasil perhitungan menunjukkan festival tersebut menghasilkan emisi karbon sebesar 10,82 ton CO₂e.

‎‎Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Bandung akan melaksanakan program carbon offset melalui penanaman 110 pohon produktif di wilayah Kecamatan Sumur Bandung, Lengkong, dan Regol bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

‎‎"Bagi kami, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari bagaimana acara tersebut bertanggung jawab terhadap lingkungan. Karena itu kami menghitung jejak karbon penyelenggaraan kegiatan dan melakukan kompensasi melalui penanaman pohon produktif. Ini menjadi bagian dari komitmen Bandung menuju penyelenggaraan event yang lebih berkelanjutan," kata Farhan.


‎‎Ia menegaskan, konsep penyelenggaraan yang memperhatikan aspek lingkungan diharapkan menjadi standar bagi berbagai kegiatan besar di Kota Bandung pada masa mendatang.

‎‎Farhan juga berharap Asia Africa Festival dapat terus berkembang menjadi agenda internasional yang mampu memperkuat identitas Bandung sebagai Kota Asia Afrika sekaligus destinasi wisata budaya dunia.

‎‎"AAF dapat terus berkembang menjadi agenda internasional yang semakin memperkuat posisi Bandung sebagai Kota Asia Afrika," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....