AAF 2026 Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bandung

  • 16 Jul 2026 14:06 WIB
  •  Bandung
Poin Utama
  • Asia Africa Festival 2026 mencatat total kunjungan sebanyak 259.200 orang selama dua hari penyelenggaraan di Kota Bandung.
  • Nilai transaksi di kawasan Asia Africa Market mencapai Rp795.685.000 dengan melibatkan 49 tenant dan 18 pengisi acara dari berbagai sektor UMKM dan ekonomi kreatif.
  • Festival ini membuktikan Bandung mampu menyelenggarakan event bertaraf internasional yang mengangkat nilai sejarah dan budaya sekaligus memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat lokal.

RRI.CO.ID, Bandung – Asia Africa Festival (AAF) 2026 sukses menjadi magnet wisata sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif di Kota Bandung. Selama dua hari penyelenggaraan, festival yang mengusung semangat Konferensi Asia Afrika itu mencatat total kunjungan sebanyak 259.200 orang dengan nilai transaksi di kawasan Asia Africa Market mencapai Rp795.685.000.

‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan keberhasilan AAF 2026 membuktikan Kota Bandung mampu menyelenggarakan event bertaraf internasional yang tidak hanya mengangkat nilai sejarah dan budaya, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.

‎"Asia Africa Festival bukan sekadar perayaan budaya. Festival ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan masyarakat, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, seniman, hingga delegasi dari berbagai negara. Yang paling penting, kegiatan ini mampu memberikan dampak ekonomi sekaligus memperkuat posisi Bandung sebagai kota kreatif dan kota yang memiliki sejarah penting bagi dunia," ujar Farhan, Kamis 16 Juli 2026.

‎Menurut Farhan, tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa penyelenggaraan event berkualitas mampu menarik wisatawan sekaligus menggerakkan berbagai sektor ekonomi.

‎"Selama dua hari penyelenggaraan, total kunjungan mencapai lebih dari 259 ribu orang. Ini menunjukkan bahwa event berkualitas mampu menjadi magnet wisata sekaligus menggerakkan sektor UMKM, ekonomi kreatif, perhotelan, kuliner, hingga transportasi. Kami ingin setiap kegiatan pemerintah memiliki multiplayer effect bagi perekonomian Kota Bandung," katanya.

‎Rangkaian AAF 2026 diawali dengan Asia Africa Carnaval yang diikuti 23 komunitas, dua kabupaten/kota, serta dua negara dengan total 1.380 peserta. Karnaval budaya tersebut juga dihadiri delegasi dari 28 negara dan disaksikan sekitar 9.800 pengunjung.

‎Selain menjadi atraksi budaya, karnaval menghadirkan keberagaman seni dan tradisi dari berbagai komunitas sebagai representasi semangat persahabatan negara-negara Asia dan Afrika.

‎Sementara itu, Asia Africa Corner yang dipusatkan di Gedung De'Majestik menjadi ruang interaksi seni dan budaya. Salah satu program unggulannya, Asia Africa Performing Lab, berlangsung dalam tujuh sesi dengan melibatkan 14 komunitas yang menampilkan pertunjukan seni, pemutaran film, teater monolog, musik, paduan suara, hingga kegiatan gathering mahasiswa internasional.

‎Program tersebut berhasil menarik sekitar 1.200 pengunjung. Adapun Asia Africa Culture menghadirkan 40 seniman Kota Bandung yang menampilkan berbagai karya seni serta satu sesi talk show bertema seni dan kreativitas yang dikunjungi 875 orang selama dua hari.

‎Kontribusi terbesar terhadap perputaran ekonomi festival berasal dari Asia Africa Market. Sebanyak 49 tenant dan 18 pengisi acara memeriahkan kawasan tersebut dengan beragam produk UMKM, kuliner, fesyen, kriya, hingga pertunjukan hiburan.

‎"Transaksi yang hampir mencapai Rp800 juta menunjukkan bahwa event budaya juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Kehadiran pengunjung memberikan manfaat langsung bagi pelaku UMKM dan industri kreatif. Ini yang terus akan kami dorong agar setiap event memberikan dampak ekonomi yang luas," ungkapnya.

‎Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, AAF 2026 juga mengedepankan konsep Sustainable Event sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kota Bandung dalam menyelenggarakan kegiatan yang ramah lingkungan.

‎Perhitungan jumlah pengunjung dilakukan melalui beberapa metode. Untuk kawasan Asia Africa Market, data diperoleh melalui sistem CCTV Counting yang mencatat rata-rata pergerakan sekitar 180 orang per menit.

‎" estimasi penonton Asia Africa Carnaval dihitung berdasarkan luas area kegiatan sekitar 9.477 meter persegi dengan kapasitas sekitar 16.923 orang. Adapun jumlah pengunjung Asia Africa Corner didasarkan pada data registrasi daring yang mencatat 2.075 pendaftar," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....