Pemkot Bandung Gelar Asia Afrika Festival 2026 Tanggal 11–12 Juli

  • 25 Jun 2026 12:28 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) akan kembali menggelar Asia Afrika Festival pada 11–12 Juli 2026. Event tahunan yang menjadi salah satu agenda unggulan pariwisata Kota Bandung tersebut akan menghadirkan berbagai kegiatan yang mengangkat semangat persahabatan, pertukaran budaya, serta promosi ekonomi kreatif negara-negara Asia dan Afrika.

‎Kepala Disbudpar Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, mengatakan Asia Afrika Festival tahun ini akan dibagi ke dalam tiga sub-kegiatan utama, yakni Asia Afrika Karnaval, Asia Afrika Corner, dan Asia Afrika Market.

‎“Asia Afrika Festival itu akan berlangsung pada 11 sampai 12 Juli. Dalam festival ini ada tiga sub-kegiatan utama. Pertama Asia Afrika Karnaval, kemudian Asia Afrika Corner, dan yang ketiga Asia Afrika Market,” ujar Adi, kamis 25 Juni 2026.

‎Menurutnya, rangkaian acara akan diawali dengan Asia Afrika Karnaval yang digelar pada Sabtu, 11 Juli 2026. Karnaval tersebut akan berlangsung sejak pagi hari hingga sekitar pukul 12.00 WIB dan menjadi salah satu atraksi utama yang diharapkan mampu menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan.

‎Selain menampilkan parade budaya, karnaval juga menjadi simbol semangat persatuan dan keberagaman yang selama ini melekat pada sejarah Kota Bandung sebagai tuan rumah Konferensi Asia Afrika.

‎Sementara itu, kegiatan kedua yakni Asia Afrika Corner akan menjadi ruang interaksi dan pertukaran budaya antara Kota Bandung dengan negara-negara sahabat di kawasan Asia dan Afrika. Kegiatan ini direncanakan berlangsung di beberapa lokasi bersejarah dan pusat kebudayaan, seperti Gedung Merdeka, Museum Konferensi Asia Afrika, Damasik Art Space, serta Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK).

‎Adi menjelaskan, setiap lokasi akan memiliki konsep kegiatan yang berbeda. Di Damasik Art Space misalnya, negara-negara sahabat berkesempatan menampilkan berbagai karya seni dan budaya, mulai dari pertunjukan teater, musik, hingga pemutaran film pendek.

‎Sedangkan di YPK, kegiatan akan lebih difokuskan pada pameran budaya yang menampilkan kekayaan seni dan tradisi dari berbagai negara peserta. Adapun di Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia Afrika, pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas yang berkaitan dengan sejarah dan nilai-nilai Konferensi Asia Afrika.

‎“Kalau di Damasik Art Space, negara-negara sahabat bisa menampilkan teater, musik, film pendek, dan sebagainya. Di YPK rencananya akan ada pameran budaya. Sedangkan di Gedung Asia Afrika dan museum tentu ada aktivasi bagi pengunjung yang ingin melihat langsung koleksi dan sejarah Konferensi Asia Afrika,” jelasnya.

‎Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Disbudpar berupaya membuat penyelenggaraan Asia Afrika Corner lebih tertata melalui sistem registrasi peserta. Pengunjung yang ingin mengikuti kegiatan diplomasi budaya tersebut diwajibkan melakukan pendaftaran terlebih dahulu sehingga akses masuk dapat dikendalikan dengan lebih baik.

‎“Untuk Asia Afrika Corner, kami ingin pendataannya lebih baik. Jadi tidak sekadar masyarakat masuk secara berbondong-bondong. Akan ada registrasi sejak awal, sehingga pengunjung yang masuk cukup menunjukkan barcode sebagai tanda bahwa mereka memang tertarik mengikuti kegiatan diplomasi budaya ini,” katanya.

‎Selain menjadi ajang pertukaran budaya, sistem registrasi tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan peserta serta memudahkan penyelenggara dalam mengelola jumlah pengunjung.

‎Adapun kegiatan ketiga, Asia Afrika Market, akan dipusatkan di kawasan Braga Pendek. Kawasan tersebut akan disulap menjadi ruang promosi bagi pelaku ekonomi kreatif dengan menghadirkan beragam produk kuliner, fesyen, dan kerajinan.

‎Menurut Adi, konsep penyelenggaraan tahun ini mengalami sedikit perubahan. Jika sebelumnya terdapat panggung hiburan di ujung Braga Pendek menuju Jalan Asia Afrika, kali ini seluruh pertunjukan musik dan seni akan dipindahkan ke Taman Braga.

‎“Panggung musik dan pertunjukan seni tidak lagi berada di ujung Braga Pendek. Semua aktivitas performance akan dipusatkan di Taman Braga, yaitu taman yang berada di depan BJB dan memiliki tulisan Braga,” ujarnya.

‎Dikatakanya, sementara itu, sepanjang kawasan Braga Pendek akan diisi oleh berbagai stan kuliner, produk fesyen, hingga pelaku usaha kreatif yang menawarkan beragam produk unggulan kepada pengunjung.

‎Ia pun melalui penyelenggaraan Asia Afrika Festival 2026, Pemerintah Kota Bandung berharap dapat meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperkuat posisi Bandung sebagai kota bersejarah yang menjadi simbol persahabatan dan kerja sama negara-negara Asia dan Afrika.

‎" Festival ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata, ekonomi kreatif, serta pelaku usaha lokal yang terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut," tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....