"Arsitek" Media habits A Pancagatra Perspektif Menjadi Sekretaris PA GMNI Jabar

  • 23 Jun 2026 11:27 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Medan pertempuran abad ke-21 tidak hanya bising oleh dentuman meriam atau moncong senapan AK-12. Hari ini, garis batas teritorial negara dalam perspektif global village telah mengabur, digantikan oleh penetrasi tak kasat mata yang merangsek ke ruang-ruang privat kita. Kekuatan besar dunia kini telah menjelma ke dalam moncong platform global, algoritma media sosial, dan arus disrupsi informasi digital yang mengepung kedaulatan kognisi masyarakat setiap detiknya.

Fenomena inilah yang menjadi kegelisahan mendalam bagi Dr. Adiyana Slamet, M.Si., seorang akademisi sekaligus Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat yang kini mengemban amanah baru sebagai Sekretaris Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jawa Barat. Di bawah panji ideologis Bung Karno, Adiyana melihat bahwa tugas menjaga kedaulatan bangsa hari ini harus bertransformasi menjadi benteng pertahanan kognitif dan kebudayaan masyarakat di era siber. Selasa 23 Juni 2026.

Bagi seorang kader tulen GMNI, ajaran Marhaenisme dan Trisakti Bung Karno bukanlah sekadar teks sejarah yang usang di dalam buku-buku tua, melainkan sebuah pisau analisis yang tajam dan dinamis. Adiyana berhasil meramu nilai-nilai ideologis tersebut ke dalam kebijakan nyata yang saintifik. Melalui kapasitasnya, ia menegaskan bahwa mengimplementasikan pemikiran Bung Karno di zaman digital tidak bisa lagi sekadar dengan berpidato berapi-api di atas podium, melainkan lewat aksi nyata melindungi ruang publik.

Pilar pertama Trisakti, yakni Berdaulat dalam Politik, diwujudkan dengan menjaga kedaulatan informasi di Jawa Barat. Di tengah gempuran hoaks yang berpotensi memecah belah bangsa, KPID Jawa Barat di bawah kepemimpinannya menelurkan kebijakan penyiaran berbasis riset ilmiah, seperti respondent mapping di enam kluster Jawa Barat. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan frekuensi publik yang merupakan aset berharga milik bangsa benar-benar digunakan demi mencerdaskan kehidupan masyarakat, bukan demi kepentingan industri semata.

Bergerak ke pilar kedua, Berdikari dalam Ekonomi, Adiyana secara konsisten menyuarakan pentingnya penguatan ekosistem media lokal. Radio dan televisi lokal di Jawa Barat harus memiliki daya tahan (resiliensi) yang kuat agar tidak tergilas oleh dominasi gurita media Jakarta maupun platform Over-The-Top (OTT) global. Keberpihakan pada konten lokal yang edukatif dan perjuangan mengentaskan blank spot teresttrial di pelosok wilayah menjadi kunci agar keadilan sosial serta kemandirian ekonomi dapat tumbuh merata tanpa ketimpangan informasi.

Sementara pada pilar ketiga, Berkepribadian dalam Kebudayaan, Adiyana menaruh perhatian penuh pada ancaman disrupsi budaya pop yang melanda Generasi Z melalui platform global. Untuk menangkal dampak buruk asimilasi digital, ia menggunakan data driven. Ketika pondasi nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan mulai pudar, TV dan Radio sebagai benteng pertahanan mambangun kebudayaan melalui program lokal dan Pancasila Digital, Ideologi dikemas secara adaptif dan modern melalui strategi komunikasi di platform seperti Instagram dan TikTok, sehingga substansi ideologi dapat diterima dengan baik oleh gaya hidup generasi muda saat ini tanpa kehilangan jati dirinya.

Secara ilmiah, kiprah dan pemikiran Adiyana Slamet ini sangat erat kaitannya dengan konsep Ketahanan Nasional (Asta Gatra) dari Lemhannas, khususnya perspektif Pancagatra yang meliputi lima aspek sosial kemasyarakatan: Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial-Budaya, dan Pertahanan-Keamanan (Ipoleksosbudhankam). Melalui metode riset kebangsaan "5+1" yang menggabungkan Pancagatra dan psikologi komunikasi, Adiyana meletakkan dunia penyiaran sebagai jangkar utama penangkal infiltrasi digital yang bertentangan dengan Pancasila.

Dalam aspek sosial-budaya dan pertahanan-keamanan, irisan riset Adiyana merekam dengan jelas bagaimana paparan konten OTT yang mengeksploitasi kekerasan dan degradasi moral dapat memicu kekhawatiran sosial-psikologis masyarakat. Jika dibiarkan, disorientasi sosial ini akan meruntuhkan kebudayaan bangsa dari dalam. Oleh karena itu, regulasi baik penyiaran maupun industri sejenis (platform global) diposisikan sebagai komponen pendukung pertahanan nir-militer untuk menghadapi cyber-cognitive warfare atau perang informasi modern.

Melalui nakhoda baru sebagai Sekretaris PA GMNI Jawa Barat, langkah Adiyana dalam menata media habits masyarakat Jawa Barat dipastikan akan semakin bertenaga dan terstruktur. Baginya, Pancagatra bukanlah sekadar hafalan teori tata negara di atas kertas, melainkan instrumen ukur yang hidup dan harus diintegrasikan ke dalam setiap kebijakan publik demi kepentingan strategis nasional dalam mewujudkan kepentingan nasional.

Pada akhirnya, apa yang diikhtiarkan oleh Adiyana Slamet adalah refleksi dari perjuangan merawat amanat kemerdekaan di era kekinian. Menjaga frekuensi tetap sehat, menghidupkan media lokal, dan melindungi kognisi anak bangsa dari perang informasi adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa Indonesia tetap tegak berdiri, berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian luhur dalam kebudayaan di tengah samudra digital global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....