Kasus Penyekapan Cileunyi, Almadina Soroti Bahaya Manipulasi Psikologis
- 23 Jun 2026 05:12 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Kasus dugaan penganiayaan dan penyekapan yang menimpa seorang perempuan berinisial YTR selama tiga tahun di kawasan Cileunyi, Kabupaten Bandung, memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan. Tindakan keji yang dilakukan oleh kekasih korban tersebut dinilai bukan sekadar bentuk kekerasan fisik, melainkan sebuah operasi senyap manipulasi psikologis yang terstruktur demi menguasai korban sepenuhnya.
Pakar Psikologi Komunikasi dari Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Almadina Rakhmaniar, mengungkapkan bahwa dalam relasi asmara yang toksik, pelaku kerap menggunakan komunikasi sebagai instrumen kuasa. Menurutnya, tindakan mengisolasi dan membatasi korban dari lingkungan sosialnya merupakan strategi matang pelaku yang sering kali tersamarkan sejak awal hubungan.
"Sebetulnya ini harusnya sudah bisa terlihat dari awal, tapi karena istilahnya kalau perempuan itu kan lebih luluh dengan apa yang disampaikan oleh laki-laki. Nah, mungkin dari situ ada relasi kuasa yang disampaikan dengan bahasa-bahasa yang ibaratnya berkaitan dengan seperti memberikan kasih sayang," ujar Almadina saat diwawancarai RRI, Senin 22 Juni 2026.
Dari kacamata psikologi komunikasi, pelaku dinilai piawai melakukan distorsi makna, terutama dalam mengartikan konsep kasih sayang. Almadina menyebut fenomena ini sebagai 'distorsi makna cinta', di mana bahasa-bahasa kepedulian diputarbalikkan menjadi alat intimidasi dan tekanan psikis yang melumpuhkan akal sehat korban.
"Jadi dia mengklaim dengan bahasa-bahasa. Bahasa kasih sayang, bahasa peduli, padahal itu bagaimana dia berstrategi untuk mendominasi korban, memanipulasi korban, menekan psikis korban," tuturnya menjelaskan modus operandi pelaku.
Lebih lanjut, Almadina memaparkan bahwa komunikasi yang dibangun pelaku sama sekali tidak berlandaskan empati, sehingga interaksi yang tercipta menjadi sangat tidak sehat. Pelaku terus-menerus menginternalisasi narasi negatif ke dalam kognisi korban, seperti kalimat "kamu enggak mungkin bisa hidup tanpa aku" atau "kamu tuh cantik karena aku," hingga korban kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri.
Dampak dari infiltrasi pesan negatif yang berulang selama bertahun-tahun ini sangat destruktif bagi mental korban. Almadina memperingatkan bahwa pola ini berisiko memunculkan fobia sosial yang akut, membuat korban kehilangan rasa percaya diri, hingga kesulitan untuk membangun kembali relasi dengan lingkungan sosialnya setelah berhasil lepas.
Selain faktor personal, Almadina menyoroti kuatnya pengaruh budaya patriarki di tengah masyarakat yang turut melanggengkan dominasi ini. Normalisasi terhadap sikap agresif laki-laki, seperti memarahi pasangan di depan umum, membuat kontrol sosial melemah dan mengaburkan batasan hubungan yang setara.
"Ketika ini terus terjadi, kontrol sosial juga melemah. Akhirnya banyak masyarakat yang merasa wajar atau merasa terbiasa dengan misalnya laki-laki yang memarahi perempuan, hal-hal seperti itu yang menjadi biasa, padahal itu tidak biasa karena itulah awal mula dari munculnya perilaku-perilaku yang menyimpang seperti ini," kata Almadina menegaskan.
Guna memulihkan kondisi YTR, Almadina menegaskan perlunya penanganan komprehensif yang melibatkan pendampingan trauma dan konseling psikologis secara berkelanjutan. Dukungan penuh dari keluarga untuk menerima kembali korban, serta jaminan perlindungan hukum yang kuat, menjadi fondasi utama agar korban merasa aman dari bayang-bayang ketakutan dan ancaman pelaku di masa depan.
Akademisi Unpas ini mendesak pemerintah untuk hadir melalui regulasi yang memperkuat literasi hubungan sehat sejak dini, bukan sekadar bertindak saat korban sudah berjatuhan. Edukasi mengenai cara memilih pasangan harus ditanamkan sejak remaja, disertai keterbukaan institusi keluarga agar perkara asmara tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu untuk didiskusikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....