Pameran BiodiverCity Ajak Warga Peduli Alam Perkotaan

  • 21 Jun 2026 17:04 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Keanekaragaman hayati selama ini lebih sering dikaitkan dengan kawasan hutan, pegunungan, atau area konservasi. Namun, pameran instalasi bertajuk “BiodiverCity” mengajak masyarakat memahami berbagai jenis tumbuhan dan satwa juga hidup berdampingan dengan aktivitas manusia di wilayah perkotaan yang padat.

Pameran yang diselenggarakan oleh Yayasan KEHATI bersama Yayasan Pilar Tunas Nusa Lestari (Tunas Nusa) tersebut menjadi sarana edukasi mengenai biodiversitas perkotaan atau urban biodiversity. Tema ini dinilai masih belum banyak mendapat perhatian, padahal keberadaannya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan di tengah perkembangan kota.

Pendiri Yayasan Pilar Tunas Nusa Lestari, Ramalis Sobandi, menjelaskan program pemulihan keanekaragaman hayati perkotaan di Kota Bandung telah mulai dijalankan sejak Juli 2025. Menurutnya, inisiatif tersebut menjadi langkah baru yang berbeda dari berbagai program konservasi yang selama ini lebih banyak berfokus pada kawasan alami.

“Ini yang pertama di Indonesia oleh Yayasan KEHATI. Biasanya fokusnya di hutan, mangrove, atau bambu. Kali ini yang menjadi perhatian adalah kota,” ujar Ramalis, Minggu, 21 Juni 2026.

Ramalis menuturkan, penyelenggaraan pameran berawal dari penelitian mengenai biodiversitas perkotaan yang dilakukan menggunakan pendekatan citizen science. Metode tersebut melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pendataan sehingga warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam mengamati kondisi lingkungan di sekitarnya.

Berbagai hasil penelitian kemudian diterjemahkan menjadi karya instalasi yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. Menariknya, sebagian besar karya tersebut dibuat dari bahan-bahan daur ulang seperti botol plastik bekas, kardus, kantong kresek, bubble wrap, serta kertas yang sudah tidak terpakai. Selain menjadi media edukasi, pameran ini juga mengampanyekan pentingnya pengelolaan sampah.

Kegiatan tersebut turut melibatkan pelajar dari berbagai tingkatan pendidikan. Siswa sekolah dasar membuat instalasi berbentuk kupu-kupu, pelajar SMP menghadirkan beragam jenis serangga, sedangkan siswa SMA membuat replika burung yang menjadi bagian dari ekosistem perkotaan. Secara keseluruhan terdapat sekitar 150 instalasi yang merepresentasikan lima kelompok keanekaragaman hayati, yakni tanaman, serangga, burung, amfibi, dan reptil.

Ramalis menegaskan keberadaan flora dan fauna di kota dapat menjadi indikator kesehatan lingkungan. Karena itu, perubahan populasi satwa dan tumbuhan perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat.

“Kalau mereka berubah, berkurang, atau bahkan hilang, itu tandanya alam sedang tidak baik-baik saja,” kata Ramalis.

Melalui pameran tersebut, masyarakat diajak untuk berkontribusi menjaga lingkungan melalui langkah sederhana. Upaya seperti mengelola sampah rumah tangga, membangun taman vertikal, hingga menciptakan hutan mikro dinilai mampu mendukung terciptanya kota yang lebih ramah bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya.

Sementara itu, Manager Program Kehutanan Yayasan KEHATI, Christian Natalie, mengatakan, pameran BiodiverCity bukan hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga wadah untuk mendorong aksi nyata, terutama di kalangan generasi muda.

Menurutnya, keberadaan pohon, burung, serangga, amfibi, dan reptil merupakan bagian penting dari ekosistem yang turut menentukan kualitas hidup manusia.

“Banyak orang menganggap kota hanya milik manusia. Padahal sebelum kota berkembang, berbagai spesies tumbuhan dan satwa telah lebih dahulu hidup di ruang yang sama. Jika biodiversitas terus terdesak, pada akhirnya manusia juga yang akan kehilangan kualitas hidupnya,” ujar Natalie.

Melalui program Urban Biodiversity, Yayasan KEHATI bersama Yayasan Pilar Tunas Nusa Lestari sejak 2024 telah menanam sebanyak 3.633 pohon dan tanaman yang berasal dari 91 jenis berbeda. Penanaman dilakukan di 10 ruang terbuka hijau dan biru di Kota Bandung, termasuk kawasan Kolam Retensi Rancabolang, Rumah Deret Tamansari, dan SMAN 27 Bandung.

Program tersebut melibatkan 61 lembaga dengan total 1.619 peserta yang mayoritas berasal dari kalangan muda, yang dinilai akan menjadi garda terdepan dalam menghadapi sekaligus mengatasi krisis lingkungan pada masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....