Tokoh Petani Sekaligus Pelaku UMKM Nanas Tolak Alih Fungsi Lahan dari Nanas Ketebu

  • 17 Jun 2026 19:56 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Subang - Tokoh petani nanas dan pelaku UMKM Subang H. Ade Patas, menolak alih fungsi lahan nanas, menjadi tebu di wilayah Jalancagak. Ia menilai, kebijakan itu akan mengikis identitas pertanian Jalancagak, yang sudah dikenal luas sebagai sentra nanas Subang.

“Alih fungsi ini akan menggerus ikon nanas Jalancagak dan Subang. Identitas kita jangan sampai hilang, demi kepentingan sesaat,” tegas H. Ade Patas kepada wartawan di Subang, Rabu 17 Juni 2026.

Menurutnya, alih fungsi lahan tersebut bertentangan langsung dengan program upland nanas yang sedang digalakkan pemerintah. Program itu, justru hadir untuk mengatasi kekurangan produksi nanas, agar kebutuhan pasar ekspor dan lokal bisa terpenuhi.

“Ini tidak sinkron. Di satu sisi ada program upland nanas, karena produksi masih kurang, di sisi lain lahannya mau diubah jadi tebu,” ujarnya.

H. Ade Patas juga menyayangkan, alih fungsi lahan yang tidak sesuai peruntukan agroklimat di Jalancagak. Ia menegaskan, tebu di Kabupaten Subang sudah memiliki kawasan khusus, dan tidak perlu dipaksakan masuk ke lahan nanas.

“Tebu di Subang sudah ada lahannya di Kecamatan Pabuaran, Cipunagara, Purwadadi, dan Cibogo. Biarkan sesuai zonasi masing-masing,” kata H. Ade Patas.

Ia mengingatkan setiap daerah memiliki komoditas unggulan yang menjadi ciri khas, dan kebanggaan warganya. Memaksakan tebu ke Jalancagak sama artinya mengabaikan karakter lahan, serta sejarah panjang pertanian masyarakat setempat.

“Tebu itu ikon Cirebon, mereka sudah punya sebutan Kota Tebu. Nanas itu ikon Subang, khususnya Jalancagak,” tegasnya.

Dari sisi ekonomi, H. Ade Patas khawatir, ratusan UMKM olahan nanas yang ia bina, akan kehilangan bahan baku. Rantai ekonomi mulai dari petani, perajin dodol nanas, selai, hingga keripik, akan terputus jika kebun nanas berkurang.

“Kalau kebun nanas hilang, UMKM kami mati. Ribuan keluarga di Jalancagak kehilangan sumber nafkah,” ungkapnya.

Ia mendesak pemerintah daerah konsisten menjaga tata ruang, dan melindungi lahan pertanian produktif. Alih-alih mengalihfungsikan, fokus seharusnya diarahkan pada penguatan hilirisasi, dan perluasan program upland nanas.

“Kami minta lahan nanas tetap nanas. Perkuat hilirisasi nya, jangan alih fungsikan,”desak H. Ade Patas.

Penolakan ini ia sampaikan, sebagai bentuk tanggung jawab kepada generasi petani berikutnya di Subang. Ia berharap Subang tetap dikenal sebagai Kota Nanas, bukan meniru identitas daerah lain, yang sudah punya ikon sendiri.

“Kami tidak menolak kemajuan. Tapi kemajuan harus menjaga jati diri Subang sebagai sentra nanas nasional,” tutup H. Ade Patas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....