HUT ke-67, Menwa Siap jadi Agen Perubahan
- 13 Jun 2026 16:34 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Di tengah derasnya perubahan zaman dan tantangan kebangsaan yang semakin kompleks, Resimen Mahasiswa (Menwa) Mahawarman Jawa Barat memilih merayakan ulang tahunnya yang ke-67 dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Momentum ini menjadi titik temu yang kuat antara lembaran sejarah, bukti pengabdian, dan bentangan harapan untuk masa depan Indonesia.
Peringatan HUT ke-67 yang digelar di Lapangan Kijang Cakti, Yonkav 4/Kijang Cakti, Kota Bandung, Sabtu 13 Juni 2026 ini, menjadi momen yang sangat istimewa bagi seluruh keluarga besar Mahawarman. Upacara tersebut tidak hanya merekatkan kembali ikatan para anggota aktif dan alumni lintas generasi, tetapi juga dihadiri langsung oleh Pangdam III/Siliwangi, Mayor Jenderal TNI Kosasih, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara.
Kehadiran orang nomor satu di Kodam III/Siliwangi ini menjadi simbol menegaskan bahwa Menwa Mahawarman tetap memiliki posisi strategis dalam perjalanan bangsa. Dari bumi Bandung inilah sejarah Resimen Mahasiswa Indonesia bermula, di mana Mahawarman bertindak sebagai rahim yang melahirkan gerakan bela negara kampus sebelum akhirnya menyebar ke seluruh penjuru Nusantara.
Suasana di lapangan upacara pun seketika berubah menjadi ruang reuni akbar yang sarat akan nilai emosional. Di antara deretan senior yang pernah ditempa disiplin ketat puluhan tahun lalu, tampak hadir tokoh seperti Budiono serta Prof. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, Guru Besar Fikom Unpad yang juga mantan Kepala Staf Resimen Mahasiswa Mahawarman.
Kehadiran para tokoh senior ini bukan sekadar untuk terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan untuk memastikan api nilai-nilai luhur organisasi masih menyala di dada generasi penerus. Reuni ini menjadi bukti autentik bahwa Mahawarman telah sukses melahirkan barisan pemimpin, akademisi, birokrat, hingga profesional yang berkiprah luas di berbagai lini kehidupan.
Dalam amanatnya, Mayjen TNI Kosasih mengingatkan dengan tegas agar seluruh kader Menwa tidak terlena oleh kebesaran sejarah masa lalu semata. Ia menekankan bahwa organisasi pionir ini wajib terus memperkuat kaderisasi, mendongkrak kualitas SDM, serta menjadi teladan nyata dalam implementasi bela negara di tengah masyarakat.
Pesan bernada taktis tersebut langsung menjelma menjadi tantangan sekaligus bahan bakar motivasi bagi generasi muda Mahawarman saat ini. Hal ini sangat relevan mengingat tantangan domestik dan global ke depan tidak cuma butuh generasi yang cerdas otak, tapi juga tangguh dalam karakter, kepemimpinan, integritas, dan kepedulian sosial.
Merespons arahan tersebut, Komandan Menwa Mahawarman Jawa Barat, Ali Budiman, menegaskan bahwa usia ke-67 harus dijadikan momentum emas untuk memperkuat peran riil Menwa di ruang publik. Ia menyatakan dengan lantang bahwa Menwa tidak boleh pasif menjadi penjaga sejarah, melainkan harus bergerak aktif menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa.
"Menwa siap menjadi agen perubahan dan memajukan NKRI bersama elemen bangsa lainnya," tegas Ali Budiman di hadapan seluruh peserta upacara. Dirinya juga menambahkan bahwa semangat pengabdian yang selama ini menjadi jati diri Mahawarman harus terus diwujudkan dalam aksi nyata untuk masyarakat, bangsa, dan negara.
Komitmen besar itu tidak berhenti di atas kertas podium, melainkan langsung diwujudkan melalui aksi konkret bakti sosial ke sejumlah pesantren dan yayasan di Bandung raya. Langkah taktis penyaluran kebutuhan pokok ini mengirimkan pesan kuat bahwa esensi bela negara tidak melulu soal latihan fisik dan disiplin, melainkan tentang kepekaan nurani terhadap sesama.
Memasuki usia ke-67, Menwa Mahawarman tampaknya ingin menegaskan eksistensinya yang lebih besar dari sekadar seremoni tiup lilin tahunan. Organisasi ini membuktikan diri tidak sedang hidup dari warisan masa lalu, melainkan sedang sibuk mencetak generasi baru yang adaptif dalam menjaga persatuan dan mengawal pembangunan nasional.
Bagi korps baret ungu ini, angka 67 bukanlah garis akhir yang menandai titik lelah sebuah perjalanan panjang. Sebaliknya, ia adalah titik berangkat baru untuk terus bergerak, beradaptasi, dan mengabdi demi memastikan api semangat Mahawarman tetap hidup selama Republik ini membutuhkan anak muda yang peduli pada bangsanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....