Dewas RRI: Kualitas Konten, Kunci Keberhasilan Digitalisasi RRI

  • 11 Jun 2026 13:25 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Anggota Dewan Pengawas (Dewas) Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI), Mohammad Rohanudin, menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan infrastruktur yang dimiliki sebuah lembaga penyiaran. Lebih dari itu terutama oleh kualitas konten yang disajikan kepada publik.

‎Menurutnya, RRI sejauh ini telah melakukan berbagai upaya untuk mengimplementasikan digitalisasi, termasuk membentuk tim khusus yang bertugas mengelola pengembangan platform digital. Namun, ia menilai digitalisasi semata tidak otomatis menjamin meningkatnya popularitas maupun kepercayaan publik terhadap sebuah media.

‎"Kita perlu memahami bahwa digitalisasi tidak menjamin keberhasilan. Yang lebih penting adalah kualitas konten yang kita tawarkan kepada publik. Di era media sosial saat ini, kita melihat banyak konten yang menarik perhatian meskipun dibuat dengan peralatan sederhana," ujar Rohanudin saat memberikan pengarahan kepada jajaran karyawan RRI Bandung di Bandung, Kamis 11 Juni 2026.

‎Ia menjelaskan, RRI memiliki kekuatan besar berupa jaringan lebih dari 70 stasiun yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Nunukan hingga Miangas. Keberagaman budaya dan karakteristik daerah yang dimiliki jaringan RRI, menurutnya, merupakan sumber konten yang sangat kaya dan bernilai.

‎"RRI memiliki gudang konten yang sangat berharga. Popularitas berita dan konten, baik di media sosial maupun radio, sangat bergantung pada kualitas konten yang dibutuhkan oleh publik," katanya.

‎Rohanudin mengajak seluruh insan RRI untuk terus memahami kebutuhan masyarakat dalam mengonsumsi informasi. Ia menilai, publik pada dasarnya lebih membutuhkan informasi yang akurat, terpercaya, dan memberikan manfaat dibandingkan sekadar konten yang mengejar popularitas.

‎"Kita harus bertanya pada diri kita, apa yang sebenarnya dicari oleh publik. Apakah mereka lebih mementingkan jumlah subscriber di platform seperti YouTube dan TikTok, atau informasi yang akurat dan bermanfaat? Sebagai lembaga penyiaran publik, RRI seharusnya fokus pada memberikan informasi yang berkualitas, bukan sekadar mengejar rating," tegasnya.

‎Ia kembali mengingatkan bahwa tugas utama lembaga penyiaran publik adalah memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui informasi yang kredibel, edukatif, dan relevan dengan kebutuhan publik.

‎Sementara itu, Kepala Stasiun LPP RRI Bandung, Soleman Yusuf, memperkenalkan profil dan kekuatan sumber daya manusia yang dimiliki RRI Bandung kepada Rohanudin. Ia menyebutkan, saat ini RRI Bandung memiliki sekitar 120 karyawan yang bertugas di berbagai unit kerja, termasuk di kantor utama Jalan Diponegoro, instalasi teknik di Gedebage, serta pemancar di Puncurut.

‎Selain itu, RRI Bandung juga didukung jaringan kontributor yang tersebar di empat kabupaten, yakni Subang, Garut, Tasikmalaya, dan Cianjur. Dengan dukungan reporter dan kontributor tersebut, RRI Bandung mampu menjangkau dan meliput berbagai peristiwa yang terjadi di wilayah Jawa Barat.

‎"Kami memiliki reporter dan kontributor yang tersebar di berbagai daerah sehingga mampu meng-cover berbagai peristiwa di Jawa Barat," ucapnya.

‎Ia juga memperkenalkan salah satu sosok legendaris di lingkungan RRI Bandung, yakni Didi Mainaki, reporter sepak bola yang hingga kini masih aktif meliput perkembangan Persib Bandung.

‎"Beliau adalah legenda RRI. Suaranya dikenal luas oleh masyarakat, khususnya para pecinta sepak bola dan pendukung Persib Bandung. Ketika beliau sempat dirawat di rumah sakit, yang memberikan perhatian bukan hanya keluarga besar RRI, tetapi juga para suporter Persib," katanya.

‎Soleman menambahkan, RRI Bandung saat ini memiliki tim pemberitaan yang solid dan berpengalaman. Selain reporter senior, RRI juga terus melakukan regenerasi melalui kehadiran penyiar dan koordinator program yang lebih muda untuk menjawab tantangan perkembangan media digital.

‎Dalam kesempatan tersebut, Soleman juga menyampaikan bahwa RRI Bandung telah mengudara melalui layanan Digital Audio Broadcasting (DAB) yang dikenal dengan nama Channel 8. Kanal tersebut menyajikan berbagai lagu populer era 1990-an, baik dari dalam maupun luar negeri.

‎"Enam bulan lalu kami sudah mengudara melalui DAB yang kami sebut Channel 8. Angka 8 dipilih karena melambangkan sesuatu yang terus berputar dan tidak pernah mati. Channel ini berisi musik-musik tahun 90-an yang dikurasi oleh tim kami," tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....