Skor Berubah Misterius, Pendaftar SPMB SMA Maung Mengadu ke DPRD Jabar
- 09 Jun 2026 16:46 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Sejumlah calon murid yang mendaftar melalui jalur kepemimpinan pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA/SMK Manusia Unggul (Maung) mengeluhkan adanya pengurangan skor yang terjadi selama proses seleksi. Fenomena ini memicu kekecewaan mendalam bagi para siswa dan orang tua murid di Kota Bandung.
Para siswa mempertanyakan transparansi sistem penilaian setelah skor yang sebelumnya telah muncul di sistem mengalami perubahan tanpa penjelasan yang jelas. Akibat penurunan nilai tersebut, sebagian peserta mengaku gagal diterima di Sekolah Maung maupun sekolah reguler yang menjadi pilihannya.
Ketua OSIS SMPN 11 Bandung, Eryna Kaleela Danish, menilai pelaksanaan jalur kepemimpinan dalam SPMB Sekolah Maung masih belum berjalan secara adil dan transparan. Tudingan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat banyaknya laporan serupa dari rekan sejawatnya sesama pengurus OSIS.
"Keluhannya mungkin dari jalur kepemimpinan ini saya rasa masih belum ada keadilan karena di sini kami sebagai ketua OSIS banyak sekali yang tidak diterima di Sekolah Maung yang sudah disediakan oleh Bapak KDM. Nah tentunya di sini kami memperhatikan bagaimana sistem ini berjalan masih belum setara, masih belum adil, dan juga belum transparan," ujar Eryna Usai audensi bersama komisi 5 DPRD Jabar. Selasa 9 Juni 2026.
Eryna, yang mendatangi gedung wakil rakyat bersama sejumlah perwakilan siswa lainnya, menyampaikan tuntutan agar ada perbaikan menyeluruh. Ia berharap aspirasi para peserta dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah agar pelaksanaan seleksi pada tahun berikutnya lebih baik.
"Kami juga berharap dengan adanya aspirasi kami ini dapat memperbaiki sistem nantinya ke depannya dan juga jalur kepemimpinan ini bisa lebih baik lagi. Kemudian harapan saya, kami mendapatkan keadilan karena kami juga butuh keadilan terhadap adanya jalur kepemimpinan ini karena ini mempertaruhkan masa depan kami," katanya.
Saat membeberkan bukti kepada awak media, Eryna mengaku mengalami pengurangan skor sebesar 51 poin saat mendaftar ke SMA Maung. Kerumitan sistem ini kian bertambah ketika ia mencoba mencari alternatif sekolah lain melalui jalur reguler namun tetap menemui jalan buntu.
"Di SMA Maung ini saya mengalami pengurangan skor 51 poin, hanya sekali. Namun untuk masuk ke SMA reguler saya belum bisa masuk karena sistemnya yang katanya masih error. Jadi sampai sekarang saya belum bisa masuk," ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Zinedine Yazid, siswa SMP Negeri 13 Bandung. Ia mengaku skor yang diperolehnya saat mendaftar ke SMA Maung semula mencapai 360 poin, namun kemudian turun menjadi 314 poin secara misterius menjelang pengumuman final.
"Kebetulan saya juga mendaftar di Sekolah Maung yang diprogramkan oleh Gubernur kita, Kang Dedi Mulyadi. Pada waktu saat itu saya daftar ke Maung dengan total perolehan skor 360. Tetapi pada saat tanggal 4 saya melihat skor saya ternyata menurun menjadi 314," kata Zinedine.
Menurutnya, perubahan skor juga terjadi pada pendaftaran sekolah reguler. Saat mendaftar ke SMA Negeri 8 Bandung melalui jalur kepemimpinan, skor awalnya tercatat 336 poin, namun kemudian berkurang menjadi 322 poin.
"Saya di reguler mendaftar SMA Negeri 8 Bandung dengan jalur kepemimpinan, total skor awal 336. Tetapi setelah saya lihat, perubahan skor menjadi 322," ujarnya.
Melihat kejanggalan yang terjadi secara beruntun ini, Zinedine menilai sistem SPMB 2026 masih memiliki banyak persoalan yang perlu dievaluasi, terutama terkait perubahan data yang terjadi setelah proses verifikasi. Perubahan sepihak tersebut dinilai mencederai asas keadilan dalam dunia pendidikan.
"Menurut saya memang di sistem SPMB sekarang 2026 ini masih banyak terdapat sekali celah yang harus dievaluasi. Kenapa bisa saat satu sistem sudah memverifikasi suatu data, tetapi data itu masih bisa diubah. Di tengah proses validasi, skor bisa berubah secara mendadak dan tidak ada pemberitahuan langsung kepada kami," katanya.
Dampak dari ketidakstabilan sistem digital ini pun harus dibayar mahal olehnya. "Sekarang saya sudah ditolak di SMA Maung akibat penurunan skor juga," Pungkasnya.
Keluhan para peserta ini menambah sorotan terhadap pelaksanaan SPMB 2026, khususnya pada jalur kepemimpinan yang menjadi salah satu jalur seleksi unggulan di Sekolah Maung. Para siswa berharap pemerintah dan Dinas Pendidikan dapat memberikan penjelasan serta melakukan evaluasi agar proses penerimaan murid berjalan lebih transparan dan memberikan kepastian bagi peserta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....