Komisi VII DPR RI Dorong Akses Permodalan Industri Animasi

  • 05 Jun 2026 18:45 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Cimahi - Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan kerja Panja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional ke PT Ayena Mandiri Sinema (Ayena Studio) di Gedung BITC, Jalan Mintareja, Kelurahan Baros, Kota Cimahi, Jumat 5 Juni 2026. Kunjungan tersebut difokuskan untuk menyerap aspirasi pelaku industri kreatif, khususnya sektor animasi dan film nasional yang masih menghadapi kendala pembiayaan.

Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, menilai industri kreatif berbasis kekayaan intelektual memiliki prospek besar sebagai sektor ekonomi masa depan. Menurutnya, pemerintah perlu memberikan dukungan lebih kuat agar pelaku usaha kreatif mampu berkembang dan bersaing di pasar global.

“Konten kreator dan pelaku industri kreatif perlu mendapat dukungan pemerintah, terutama dari sisi permodalan karena sektor ini sangat menjanjikan dan berpotensi menjadi aset nasional,” kata Saleh.

Ia mengapresiasi capaian Ayena Studio yang dinilai berhasil membuktikan kualitas karya animasi lokal hingga menembus pasar internasional. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa industri kreatif dari daerah memiliki daya saing yang tidak kalah dengan negara lain.

Saleh menjelaskan DPR RI tengah mengkaji berbagai regulasi agar lebih berpihak kepada industri kreatif. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong regulasi yang dapat membuka akses pembiayaan bagi pelaku usaha berbasis kekayaan intelektual.

“Kami sedang meninjau regulasi agar benar-benar mampu mendukung pelaku industri kreatif, termasuk membuka peluang pembiayaan yang lebih luas melalui lembaga keuangan,” ujarnya.

Selain regulasi, DPR RI juga mendorong program pelatihan yang lebih terarah untuk meningkatkan kapasitas pelaku industri kreatif. Langkah tersebut dinilai penting mengingat perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang semakin memengaruhi sektor ekonomi kreatif.

Saleh menambahkan Komisi VII DPR RI juga tengah membentuk Panja Pembiayaan dan Permodalan untuk memperluas akses pendanaan bagi pelaku industri kreatif. Kehadiran panja tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan antara pelaku usaha dengan lembaga keuangan yang selama ini masih kesulitan menerima kekayaan intelektual sebagai agunan.

“Ke depan kami ingin kekayaan intelektual mendapat pengakuan yang lebih kuat sehingga bisa menjadi dasar untuk memperoleh akses pembiayaan,” jelasnya.

Sementara itu, CEO PT Ayena Mandiri Sinema, Robby UL Pratama, mengatakan tantangan terbesar industri animasi saat ini adalah menciptakan karya berkualitas yang sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi. Karena itu, pihaknya terus mengembangkan dan menghidupkan kembali berbagai intellectual property (IP) lokal agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Kami ingin IP-IP lokal Indonesia tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing di pasar global,” ujar Robby.

Menurutnya, persoalan utama yang masih dihadapi industri animasi adalah belum diakuinya kekayaan intelektual sebagai aset yang bankable. Kondisi tersebut membuat pelaku industri kreatif kesulitan memperoleh akses pendanaan meski memiliki karya dengan nilai ekonomi tinggi.

“Kami berharap masyarakat dan lembaga keuangan memahami bahwa IP memiliki valuasi yang jelas dan dapat menjadi aset berharga untuk mendapatkan pembiayaan,” kata Robby.

Robby menilai dukungan regulasi dan pembiayaan akan menjadi faktor penting dalam mempercepat pertumbuhan industri animasi nasional. Dengan dukungan tersebut, pelaku industri kreatif di daerah diyakini mampu menghasilkan karya yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....