DKPP Kota Bandung Antisipasi Dampak El Nino dan Kemarau Panjang

  • 04 Jun 2026 13:21 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau panjang yang diperkirakan terjadi mulai pertengahan tahun hingga akhir 2026. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi sektor pertanian, pasokan pangan, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok di masyarakat.

‎Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengatakan pemerintah harus mulai melakukan langkah mitigasi sejak dini. Menurutnya, ancaman fenomena iklim seperti El Nino yang berpotensi memicu musim kemarau berkepanjangan tidak boleh dianggap sepele karena dampaknya dapat dirasakan di berbagai sektor, khususnya ketahanan pangan.

‎"Justru yang harus kita antisipasi bukan hari ini saja, tetapi kondisi ke depan. Ada isu El Nino dan kemarau panjang yang diperkirakan mulai terjadi pada Juni dan berlangsung hingga sekitar enam bulan ke depan atau sampai akhir tahun," ujar Gin Gin Ginanjar, Kamis 4 Juni 2026.


‎‎Ia menjelaskan, sektor yang paling rentan terdampak adalah produksi pertanian. Berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan penurunan produktivitas tanaman pangan dan hortikultura di sejumlah daerah pemasok kebutuhan pangan Kota Bandung.

‎Selain memengaruhi produksi, kemarau panjang juga berpotensi mengganggu rantai pasok pangan mulai dari distribusi hingga logistik. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat Kota Bandung merupakan daerah perkotaan yang sangat bergantung pada pasokan bahan pangan dari wilayah lain.

‎"Yang pasti akan terkena dampak adalah produksi pertanian. Produksi termasuk supply, distribusi, dan logistiknya. Kota Bandung sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah sehingga setiap gangguan produksi maupun distribusi akan berpengaruh terhadap ketersediaan dan harga pangan," katanya.

‎Gin Gin menambahkan, situasi global yang saat ini masih berpengaruh terhadap sektor pangan juga dapat memperbesar dampak dari kemarau panjang. Oleh karena itu, pemerintah perlu terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan bahan pokok di pasaran.

‎Menurutnya, beberapa komoditas strategis berpotensi mengalami fluktuasi harga apabila terjadi gangguan pasokan. Salah satunya adalah telur ayam yang selama ini menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat.

‎"Dengan kondisi global sekarang saja sudah berpengaruh terhadap harga. Makanya untuk telur, kalaupun hari ini harganya sedang agak murah, saya prediksi tidak akan berlangsung lama. Kemungkinan akan kembali stabil bahkan bisa mengalami kenaikan apabila ada gangguan pasokan," tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....