Tagana Ingatkan Masyarakat Waspada Musim Kemarau Panjang, dan Hemat Gunakan Air
- 04 Jun 2026 12:55 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Subang - Taruna Siaga Bencana Tagana Dinas Sosial Kabupaten Subang, mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh masyarakat, terkait prediksi musim kemarau 2026. Mengacu data dan peringatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG, Juni 2026, telah memasuki musim kemarau, yang diprediksi berlangsung panjang hingga bulan Oktober 2026.
Ketua Tagana Dinsos Kabupaten Subang Jajang Abdul Muhaimin mengatakan, peringatan ini disampaikan, usai Tagana Dinsos Subang mengikuti rapat koordinasi (Rakor) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Kabupaten Subang, dan sejumlah dinas instansi terkait lainnya. Rakor tersebut, membahas kesiapan daerah menghadapi puncak musim kemarau, termasuk antisipasi dampak yang mungkin timbul di wilayah rawan.
"Berdasarkan hasil rakor, beberapa wilayah di Kabupaten Subang, diprediksi akan mengalami kekeringan. Kondisi ini diperparah dengan pola kemarau panjang yang diproyeksikan BMKG. Daerah yang topografinya lebih tinggi dan minim sumber air, permukaan diprediksi lebih dulu merasakan dampaknya dibanding wilayah lain," ujar Jajang Abdul Muhaimin kepada RRI di Subang, Kamis 4 Juni 2026.
Tagana Dinsos Subang meminta masyarakat tidak menganggap remeh perubahan cuaca. Kemarau panjang berpotensi memicu berbagai bencana, mulai dari kekeringan sumber air, gagal panen bagi petani, hingga kebakaran lahan dan hutan Karhutla.
"Risiko kesehatan juga meningkat, akibat debu dan kualitas udara yang menurun. Kepada seluruh masyarakat Kabupaten Subang, agar waspada dan hati-hati menghadapi musim kemarau ini. Potensi bencana di musim kemarau nyata, sehingga kesiapsiagaan harus dimulai dari rumah masing-masing,” tegasnya.
Poin imbauan utama yang ditekankan Tagana adalah, bijak dalam menggunakan air bersih. Masyarakat diminta menghindari pemborosan air, segera memperbaiki instalasi air yang bocor, serta memanfaatkan air hujan saat masih tersedia. Kebiasaan kecil seperti menutup keran saat menggosok gigi, dan mencuci kendaraan secukupnya, akan sangat membantu menjaga cadangan air.
Untuk wilayah yang dipetakan rawan kekeringan, Tagana Dinsos bersama BPBD, kecamatan, dan pemerintah desa akan memperketat pemantauan. Pendataan sumber air, embung, sumur bor, dan titik rawan Karhutla terus dilakukan. Armada tangki air dan relawan siaga juga disiapkan, agar distribusi air bersih bisa cepat dilakukan saat terjadi darurat," terang Jajang.
Selain itu, Tagana mendorong masyarakat aktif menjaga lingkungan. Hindari membakar sampah sembarangan, matikan api atau bara dengan sempurna saat beraktivitas di kebun atau ladang, dan laporkan segera jika melihat asap atau titik api.
"Langkah preventif ini dinilai paling efektif, menekan risiko kebakaran di musim kemarau," tuturnya.
Tagana Dinsos Subang juga mengajak warga, meningkatkan solidaritas sosial. Warga yang memiliki akses air lebih baik, dapat membantu tetangga yang terdampak kekeringan. Gotong-royong dan komunikasi dengan aparatur desa menjadi kunci, agar bantuan tepat sasaran dan tidak terjadi kepanikan.
Tagana Dinsos Subang mengingatkan, agar masyarakat aktif mencari informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah. Hindari menyebar berita hoaks terkait bencana.
"Bila menemukan tanda-tanda awal kekeringan atau kebakaran, segera laporkan ke Tagana, BPBD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, atau pemerintah desa terdekat," tandas Ketua Tagana Dinsos Kabupaten Subang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....